
Suara pekikan bahagia terdengar memenuhi ruang tengah kediaman keluarga Xavier. Livy dan Yasmine rupanya baru saja diberitahu jika mereka akan segera mendapat cucu. Kedua wanita paruh baya itu tak henti-hentinya berucap syukur serta memeluk Brianna dan Marvin secara bergantian. Pancaran kebahagiaan itu begitu jelas di wajah mereka. Bahkan Livy langsung memerintahkan Emily untuk mengumumkan kabar bahagia ini kepada seluruh pelayan di rumahnya.
Mia yang notabenenya orang yang dekat dengan Brianna pun langsung datang menemuinya. Gadis itu langsung memeluk Brianna tanpa merasa canggung jika di sana ada Livy dan juga Marvin. Mia sangat bahagia sampai lupa dengan majikannya.
"Aku sengat bahagia mendengarnya, akhirnya sebentar lagi aku memiliki keponakan" pekik Mia.
"Mia jaga sikapmu" tegur Emily dan langsung membungkam mulut Mia, gadis itu cengengesan kemudian membungkuk minta maaf pada Marvin dan juga Livy.
"Tidak apa-apa, aku senang melihat orang-orang senang dengan kabar ini" timpal Livy sambil mengelus perut Brianna.
"Pantas saja akhir-akhir ini kau sering merajuk dan manja pada suamimu, ternyata kau hamil sayang" kini giliran Yasmine yang berbicara sambil terkekeh.
"Apa itu berpengaruh Ma?"
"Tentu, itu hal yang wajar dirasakan oleh wanita hamil. Dia akan menjadi lebih sensitif, jadi Marvin kau harus sabar mengahadapi istrimu apalagi saat mengidam nanti".
"Tentu saja, justru aku senang melihat istriku semakin manja padaku. Tapi akan sangat menyebalkan saat merajuk"
"Kakak!"
Marvin tertawa mendengar protesan Brianna, dengan cepat ia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya "Bercanda sayang, justru aku semakin gemas melihatmu merajuk" bisik nya di telinga Brianna, wajahnya seketika merona.
#
Semenjak kehamilan Brianna, Marvin menjadi lebih over protective. Pria itu sama sekali tidak membiarkan istrinya kelelahan sedikitpun, bahkan ia meminta Brianna untung cuti kuliah sampai istrinya itu melahirkan. Marvin tidak mau kejadian beberapa waktu lalu kembali terjadi.
"Kakak tidak lembur kan malam ini?" Brianna menatap punggung suaminya, pria itu kini sedang berdiri di depan cermin sambil menata rambutnya. Marvin tengah bersiap-siap berangkat kerja.
"Kau ingin aku pulang cepat?" Marvin berbalik, lalu menghampiri Brianna yang masih duduk di atas ranjang. Wajah istrinya terlihat begitu polos dan menggemaskan dengan rambut berantakan, Brianna baru saja bangun. Ini masih pukul 6 pagi tapi Marvin sudah siap berangkat bekerja, hari ini pria itu akan pergi ke Incheon untuk melihat proyek barunya di sana.
Brianna mengangguk mendengar pertanyaan suaminya, ia mengambil dasi yang sempat di bawa oleh Marvin, pria itu kini sudah duduk di hadapannya. Brianna mulai menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, memasangkan dasi untuk suaminya. Marvin menarik tubuh Brianna untuk duduk di atas pangkuannya agar memudahkan sang istri memasangkan dasi.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan saat aku pulang nanti? emm makanan mungkin?" Marvin merapihkan rambut Brianna yang berantakan, lalu tangannya turun mengelus punggung Brianna.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat Kakak secepatnya pulang ke rumah" Marvin tersenyum mendengar jawaban Brianna, dikecupnya bibir gadis itu dengan sedikit *******. Menyecap bibir manis istrinya di pagi hari sudah menjadi kebiasaannya.
"Baiklah, jika kau ingin sesuatu hubungi aku hmm" Marvin menyempatkan diri mengelus perut Brianna, menyapa calon bayinya di sana.
"Aku berangkat, ingat jangan sampai kelelahan".
"Kakak tidak sarapan dulu?"
"Aku akan sarapan di perjalanan nanti"
Marvin kembali mendekat, memagut bibir manis itu kembali sebelum dirinya benar-benar pergi. Brianna dengan senang hati membalasnya, matanya terpejam merasakan lembutnya sentuhan Marvin di bibirnya. Ada rasa tidak rela pada diri Brianna, melihat suaminya pergi ke Incheon. Ingin rasanya ia ikut, tapi sudah pasti Marvin melarangnya. Marvin melepas ciumannya, lalu memeluk istrinya dengan erat. "Aku berjanji sebelum hari gelap, aku sudah di rumah" bisiknya.
"Hati-hati Kak"
"Ya sayang"