My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Sehari Merawat Murphy



Brianna mencengkram roknya menatap sebuah rumah anjing yang berjarak 10 meter di depannya. Tidak jauh dari kandang tersebut, seekor anjing berjenis Chow-Chow terlihat tertidur dengan lidah yang menjulur. Murphy bukanlah jenis anjing biasa, ia memiliki tubuh besar, bulunya lebat dan panjang, bulu lebat di kepalanya membuat Murphy terlihat seperti seekor singa. Sudah pasti uang yang dikeluarkan sang majikan untuk membeli dan merawat anjing ini tidaklah sedikit.


Mungkin untuk penyuka anjing, Murphy ini memiliki wajah yang tampan, gagah dan menggemaskan, akan tetapi semua itu berbanding terbalik dengan pandangan Brianna. Gadis itu berpandangan jika semua anjing itu menyeramkan termasuk Murphy. Melihat postur tubuhnya saja membuat bulu kuduknya berdiri, bagaimana jika kejadian itu terulang kembali?


Brianna menggelengkan kepalanya mencoba menepis pemikiran negatifnya, Mia bilang Murphy adalah anjing yang baik.


"Oke jangan melihat anjing itu dari covernya Brianna. semangat! Kau pasti bisa" batin Brianna menyemangati. Dengan perlahan ia mendekati anjing tersebut, semakin dekat ia berjalan semakin keras pula debaran jantungnya.


Brianna mencoba untuk menyapa Murphy terlebih dahulu. Seperti pepatah mengatakan 'Tak kenal maka tak sayang'. Walaupun dalam hati Brianna tidak mau berkenalan dengan Murphy, ia tetap harus melakukannya.


"Hai Murphy" panggil Brianna membuat anjing tersebut terusik. Kini Brianna sudah berjongkok di hadapan Murphy dengan radius 2 meter. Kepalanya mendongak menatap Brianna dengan raut sedikit tidak tak bersahabat, mungkin anjing tersebut merasa terusik karena acara tidur siangnya terganggu, ditambah lagi Brianna adalah orang asing yang baru dilihatnya.


"Hai namaku Brianna Carissa, aku pelayan baru disini. Hari ini aku akan memberimu makan." Murphy hanya menatapnya sambil menjulurkan lidahnya, tentu saja anjing itu tidak mengerti apa yang Brianna katakan.


Untuk sejauh ini Brianna berhasil berkenalan dengan Murphy, dan tidak ada tanda-tanda berbahaya.


"Oke aku akan mengambil makananmu" dengan langkah pelan, Brianna mencoba meraih sebuah wadah berisi makanan anjing di dalam kandang. Murphy terus mengawasi pergerakan Brianna, hingga pada saat gadis itu menyentuh makanannya anjing itu menggonggong dengan keras membuat Brianna berteriak ketakutan.


"Guk! Guk! Guk!"


"Huwaaaaa mama!" Brianna refleks berdiri kemudian berlari menjauhi Murphy. Lagi-lagi kesialan menghadang Brianna, tali yang mengikat leher anjing tersebut terlepas, hingga akhirnya mengejar gadis malang itu.


"Mama tolong aku!!! Anjing gila itu mengejarku!!!!" Brianna berlari pontang-panting sambil memanggil mamanya. Bahkan gadis itu sudah menangis saat Murphy terus menggonggong sambil mengejarnya, sepertinya anjing itu menyangka jika Brianna akan mengambil makanannya.


Brianna terus berlari mengelilingi taman depan kediaman Marvin Xavier. Teriakan Brianna berhasil menarik perhatian para security yang berjaga di pintu gerbang.


"Apa kau mendengar teriakan wanita?"


"Ya aku mendengarnya, sepertinya itu dari arah taman"


"Huwaaaa siapapun tolong aku!!"


"Ayo kita lihat"


Kedua security tersebut langsung bergegas ke sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat seorang gadis tengah berada di atas pohon sambil menangis.


"Astaga hahaha sepertinya Murphy mengejarnya" bukannya menolong security tersebut malah mentertawakan Brianna.


Ya tidak ada pilihan lain bagi Brianna untuk menghindari Murphy, inilah jalan satu-satunya agar terhindar dari gigitan anjing tersebut yaitu naik ke atas pohon.


"Paman tolong aku, anjing itu ingin menggigitku hiks" Brianna memohon sambil menangis.


"Ya Tuhan kasihan sekali" ujar salah satu security sambil menahan tawanya.


Tiiit...tiiit...tiiit


Suara klakson mobil terdengar dari luar, otomatis securty tersebut meninggalkan Brianna dan memilih membukakan pintu gerbang.


"Paman mau kemana??" Brianna panik ketika kedua laki-laki itu meninggalkannya. Murphy masih setia menunggunya dibawah dengan mata tak lepas dari mangsanya.


"Hiks mama"


#


Marvin pulang lebih cepat hari ini, tidak seperti biasanya. Pria itu sengaja pulang lebih cepat karena tentu saja ia ingin menemui gadis kecilnya.


"Hiks mama"


Marvin yang baru memasuki pekarangan rumah, tiba-tiba mendengar suara tangisan seorang wanita.


"James apa kau mendengar sesuatu?"


"Apa?"


"Hikss siapapun tolong aku!!!"


Marvin merasa pernah mendengar suara tersebut, dengan cepat ia pun mengedarkan pandangannya. Alangkah terkejutnya Marvin ketika pandangannya tertuju pada sebuah pohon yang tak jauh dari mobilnya sekarang. Brianna Carissa. gadis itu tengah menangis di atas pohon, dengan Murphy di bawahnya seperti tengah mengawasi.


James yang kini sedang menyetir langsung menghentikan kemudinya.


"Ada apa kak?"


Marvin langsung keluar dari mobilnya menghiraukan pertanyaan James lalu berlari mendekati Brianna.


"Murphy!!" Anjing tersebut langsung menoleh saat sang majikan memanggilnya. Murphy langsung berlari ke arah Marvin lalu menjilati tangan pria itu dengan manja.


"Astaga!! Kenapa wanita itu ada di atas pohon" James yang mengekor di belakang Marvin tampak terkejut melihat seorang pelayan tengah menangis di atas pohon.


"James dia gadis yang selama ini aku cari" ucap Marvin pelan agar tidak terdengar oleh Brianna.


"Bawalah Murphy ke kandangnya" James menurut saja lalu membawa Murphy pergi.


"Sekarang sudah aman nona!" Marvin menatap Brianna yang masih betah memeluk sebuah dahan agar tubuhnya tidak terjatuh.


"Apa anjing itu sudah pergi?" Tanya Brianna masih dengan raut ketakutan.


"Ya dia sudah pergi. Sekarang turunlah"


Brianna menelah ludahnya susah payah ketika melihat tanah yang jauh di bawahnya. Oh ya ampun dia sangat jago memanjat tapi dia tidak bisa turun.


"Tu.. tuan, aku tidak bisa turun"


"Apa???"


Bagaimana mungkin gadis itu bisa memanjat tapi tidak bisa turun?


"Kakiku lemas, anjing itu terus mengejarku" mata Brianna kembali berkaca-kaca. Hal tersebut malah membuat Marvin gemas sendiri.


"Kalau begitu lompatlah, aku akan menangkapmu"


"A.. apa?"


"Tidak apa-apa, kau tidak akan terluka" ujar Marvin menenangkan.


"Ta.. tapi tubuhku berat Tuan" cicit Brianna pelan. Ia tidak mungkin menjatuhkan tubuhnya pada Tuan tampannya ini, bagaimana jika Marvin yang terluka.


"Tidak perlu khawatir, kau hanya perlu lompat ke arah ku dan aku akan menangkap tubuhmu"


Setelah berpikir keras, akhirnya Brianna menurut. Tidak ada pilihan lain, ia tidak mungkin berada di pohon seharian. Gadis itu menatap Marvin sejenak, ada sorot keraguan di matanya. Namun Marvin mencoba meyakinkan dengan senyuman manisnya. Tanganya sudah siap menangkap tubuh mungil itu, ia yakin ini akan mudah.


"Oke aku hitung sampai 3, setelah itu kau lompat. Mengerti?"


"Mengerti Tuan"


" Satu..."


Marvin mulai berhitung, Brianna mulai mencari posisi ternyaman untuk melompat.


"Dua..."


"Ya Tuhan" batin Brianna gugup dan takut.


"Tiga!"


Brughhh!!!


Krekkk


"Arghhhhhh!!!"


"Tuan!!!!!"


"Argggh pinggangku!!!!"