
Selama Brianna di rumah, Mia lah yang selalu menemaninya. Saat ini Yasmine tengah disibukkan dengan mengurus butik yang tengah dirintis oleh Livy sehingga ia tidak bisa menemani Brianna seharian di rumah. Brianna mengerti sang ibu pasti bosan terus berdiam diri di rumah, untuk itu Livy selalu mengajak Yasmine ke butiknya. Bahkan jika ada acara sosial, Livy selalu mengajak besannya tersebut.
Saat ini Brianna tengah duduk di sebuah gazebo, sambil membaca sebuah majalah kehamilan di tangannya. Tak lama kemudian Mia datang sambil membawa salad buah untuk Brianna. Selama Marvin bekerja, Mia lah yang bertugas mengawasi kegiatan Brianna.
"Salad buahnya Brianna"
"Whoaa keliatannya enak" Mata Brianna berbinar begitu melihat buah-buahan segar tersebut.
"Makanlah, buah-buahan sangat bagus untuk ibu hamil. Sudah tidak merasa mual lagi kan?" Brianna mengangguk kecil lalu menyuapkan salad tersebut ke dalam mulutnya. Semenjak hamil Brianna jadi mudah lapar, tentu saja setiap makanan yang ia makan langsung dicerna oleh janin diperutnya.
Saat pagi tadi Brianna memang sempat merasa mual-mual. Untung saja Marvin sudah berangkat tadi, jika belum mungkin pria itu akan membatalkan urusannya ke Incheon.
"Salad buah buatan mu sangat enak" Brianna mengacungkan dua jempolnya untuk Mia, gadis itu hanya terkekeh melihatnya.
"Brianna apa kau haus?"
"Umm sedikit"
"Tunggu di sini ya, aku akan membuat minuman menyegarkan untukmu"
Belum sempat Brianna membalas ucapan wanita itu, Mia sudah berlari masuk rumah lebih tepatnya menuju dapur.
Dengan semangat Mia mengeluarkan semua alat dan bahannya, sebenarnya ia bisa meminta chef di rumah tersebut untuk membuatkannya tapi kali ini Mia ingin membuatnya sendiri special untuk Brianna.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Mia tersentak begitu ada suara seorang pria yang mengejutkannya. Gadis itu menoleh ke arah pintu dapur dan mendapati pria yang sedang dekat dengannya akhir-akhir ini, James.
"Tuan, sejak kapan di sini?"
Bukankah pria itu seharusnya bekerja?
James berjalan mendekati Mia, mengintip apa yang sedang dilakukan gadis itu.
"Iya Tuan, aku ingin membuatkannya untuk Brianna" Mia sudah tidak terlalu canggung lagi pada James. Semenjak mereka pergi ke supermarket waktu itu James menjadi lebih sering menyapanya di rumah, mengajaknya mengobrol walau sebentar bahkan mereka sudah bertukar nomor ponsel.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku Tuan, aku bukan majikan mu." James sedikit kesal mendengar Mia terus memanggilnya Tuan, padahal ia juga bekerja untuk Marvin.
"Panggil aku Kakak, lagipula aku lebih tua darimu"
Mia mengerjap beberapa saat, Kakak? Apakah itu tidak terlalu lancang? Batinnya. "Emm ba..baiklah Kakak" wajah Mia merona begitu mengucapkannya, jantungnya seketika berdebar apalagi James tersenyum setelah ia memanggilnya seperti itu.
"Bisakah kau membuatkan satu untukku? Kebetulan sekali aku juga belum pernah mencobanya"
"Ah tentu saja Tu...emm maksudku Kakak. Aku akan akan membuatkannya untukmu" senyuman Mia mengembang, ia senang James mau meminum Dalgona buatannya.
James berjalan menuju meja makan, menarik salah satu kursi lalu duduk di sana. Memperhatikan punggung Mia dengan senyuman kecil di bibirnya, tubuh gadis itu terlihat lincah ke sana kemari. Pikiran James terbang membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti gadis itu membuatkan sarapan untuknya, menyiapkan kopi, memasangkan dasi layaknya seorang istri yang melayani sang suami. Melihat punggung sempit Mia membuat James ingin memeluknya dari belakang. Membayangkannya saja membuat jantung James membuncah senang.
"Sudah siap"
James tersentak begitu Mia meletakkan satu gelas Dalgona Cofee di depannya. Oh berapa lama ia melamun? James berdehem sejenak, lalu senyumannya kembali mengembang melihat Cofee buatan Mia. James melihat ada dua gelas di sana.
"Kenapa hanya ada dua gelas?"
"Ah yang satu untuk Brianna dan satu lagi untuk mu"
"Lalu untukmu?"
"Tidak apa-apa, aku bisa membuat lagi nanti" Mia tersenyum, lalu mengambil satu gelas lagi untuk Brianna. "Kalau begitu aku permisi"
"Bisakah kau kembali?"
"Hmm?"
"Temani aku di sini, rasanya tidak enak jika meminumnya sendirian"