
Samuel bisa melihat tatapan kebencian dari Marvin pada keponakannya. Steffy tidak tahu bagaimana menyeramkannya sosok Marvin Xavier, dan gadis itu telah melakukan kesalahan yang besar. Samuel tahu jika Marvin tersinggung dengan ucapan Steffy, apalagi Brianna yang kini pergi meninggalkan acara.
Sudah bisa dibayangkan Marvin akan marah besar setelah ini, mungkin akan berdampak pula padanya. Samuel merasa was-was sekarang.
"Steffy, ucapanmu tadi tidaklah benar. Brianna adalah kekasih Marvin Xavier, mana mungkin gadis itu anak seorang pelayan" bisik Samuel.
"Apa? Kekasih?"
"Ya, gadis itu adalah kekasih Tuan Marvin".
"Paman aku mengatakan yang sebenarnya! Dia sendiri yang mengatakannya padaku!"
"Jika benar, tidak seharusnya kau mengungkapkannya di sini"
"Cukup!!!" Marvin berteriak marah, tatapannya terpancar begitu tajam. Emosinya mulai naik turun.
"Berani kau mengatakannya sekali lagi, akan ku potong lidahmu itu! Lancang sekali kau berbicara, tahu apa kau tentang kekasihku hah!"
Marvin sepertinya mulai mengibarkan bendera perang. Mulai detik ini Steffy masuk ke dalam daftar orang yang paling dibencinya saat ini, dan patut di awasi apabila ia mengganggu Brianna
Steffy menggenggam tangan pamannya dengan erat melihat kemarahan Marvin membuat nyalinya menciut. Padahal sebelumnya ia tertarik pada Marvin.
"Tuan Samuel, tolong didik mulut keponakanmu itu. Jika ia berani melakukannya lagi aku jamin kau sendiri yang akan menyesal."
Marvin pergi setelah mengancam keduanya. Ia harus mengejar Brianna, mudah-mudahan gadis itu langsung kembali ke hotel.
#
"Kenapa berkata seperti itu pada Brianna, Steffy! Kau tahu Marvin Xavier itu pria yang sangat disegani, dan sangat ditakuti" Samuel berjalan mondar-mandir sambil terus menceramahi keponakannya tersebut. Demi Tuhan, bulu kuduknya langsung berdiri begitu Marvin mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan pesta. Sekarang hidupnya merasa tak tenang
"Kenapa paman harus takut?" Balas Steffy begitu enteng.
"Astaga, Marvin Xavier itu pria yang sangat berkuasa. Dia bisa saja menghancurkan perusahaan ku dalam satu jentrikan jarinya. Jadi paman mohon jangan melakukan hal macam-macam pada kekasihnya itu"
Steffy mendengus, apa Brianna di perlakukan istimewa oleh Marvin? Lagipula apa menariknya gadis itu sampai Marvin menjadikan Brianna sebagai kekasihnya.
Mereka terlihat seperti langit dan bumi!
Ngomong-ngomong soal Marvin Xavier, pria itu terlihat sangat menyeramkan saat marah. Tapi juga sangat-sangat tampan. Steffy bisa merasakan pesonanya saat pertama kali melihatnya. Walaupun kesannya dingin tetapi Marvin Xavier begitu menarik dan membuatnya semakin penasaran.
"Paman, lain kali jika ingin bertemu Marvin ajak aku ya?"
"Untuk apa???" Samuel panik lebih dulu, membuat Steffy tersenyum penuh arti.
"Sepertinya aku tertarik padanya".
#
"Sayang" Marvin membuka kamar hotelnya dengan cepat, namun keadaan di dalam begitu hening dan kosong. Brianna Carissa tidak ada di sana!.
"****!!!"
Marvin melangkah menuju toilet dan balkon hotel, namun hasilnya sama Brianna tidak ada.
"James cepat cari Brianna! Dia tidak ada di hotel!"
Marvin menghubungi James, dan dengan gesit James mencarinya bersama beberapa anak buahnya. Marvin pun tidak tinggal diam, ia langsung ikut mencari keberadaan gadisnya.
#
Angin pantai terasa begitu menusuk malam ini, Brianna berjalan seorang diri di sebuah taman yang tak jauh dari hotel.
Brianna mengusap kulit lengannya yang terbuka, ia lupa meninggalkan mantelnya di pesta tadi.
"Hahh" helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Brianna memutuskan duduk di salah satu bangku taman di sana. Kepalanya mendongak menatap langit, beberapa bintang nampak menghiasi langit gelap di sana.
"Aku benar-benar tidak percaya Marvin Xavier menjalani hubungan dengan seorang anak pelayan. Apa tidak ada wanita lain yg lebih baik derajatnya?"
Brianna sayup-sayup mendengar orang tengah membicarakannya. Sontak tubuhnya segera merendah bersembunyi di balik kursi taman.
"Aku akui gadis itu cantik, tapi ayolah apa selera Marvin serendah itu?"
Tes...
Brianna tidak bisa menahan laju air matanya. Dadanya kembali merasa sesak sekarang, orang-orang tengah membicarakannya. Sepertinya orang-orang itu baru saja meninggalkan acara pesta.
"Bisa juga gadis itu hanya mainan Marvin, pria itu sangat kaya raya. Bisa saja kan Marvin hanya memanfaatkan tubuh gadis itu. Marvin bebas memacari siapa saja yang dia inginkan"
Deg!
Pernyataan tersebut berhasil menohok hati Brianna. Marvin memanfaatkan tubuhnya?
Tiba-tiba saja ia teringat dengan ciuman Marvin beberapa jam lalu. Pikiran negatif tersebut mulai merasuki otak Brianna. Benarkah Marvin hanya memanfaatkan tubuhnya?
"Hikss tidak, kak Marvin tidak mungkin seperti itu" Brianna bergumam dalam tangisnya. Ia mencoba menepis asumsinya tersebut. Meyakinkan diri bahwa Marvin tulus mencintainya.
Brianna terus mendengar orang-orang itu membicarakan hal buruk tentangnya. Telinganya mendadak panas mendengar mereka terus merendahkannya. Sampai akhirnya Brianna lelah mendengar semuanya, ia tertidur di bangku taman tersebut, membiarkan angin malam menembus kulitnya.