
Nina dan Ryan menatap takjub ruang perpustakaan milik Marvin. Kini mereka sudah sampai di rumah Marvin untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Ini pertama kalinya mereka satu kelompok dengan Ryan, sedikit aneh memang Ryan mau bergabung dengan Nina dan Brianna. Biasanya Nina dan Brianna selalu menjadi list siswa yang paling di hindari jika ada pembagian kelompok.
Padahal Nina dan Brianna memiliki otak yang cerdas, namun karena status sosial semua teman-temannya selalu memandang remeh mereka dan menghindarinya.
"Brianna, apa tidak masalah kita mengerjakan di sini?"
"Tidak apa-apa, aku sudah mendapat izin Tuan Marvin sebelum kalian kesini".
"Tuanmu sangat kaya raya rupanya" celetuk Ryan.
"Tapi Brianna, mau sampai kapan Tuan Marvin diam di sana" Nina melihat Marvin dengan ekor matanya, pria itu sedang duduk di meja kerjanya. Marvin sedang sibuk dengan dokumen-dokumen di tangannya sambil mengawasi mereka.
"Benar, rasanya tidak nyaman". Keluh Ryan jujur. Apalagi saat pertama kali Ryan bertatap muka dengan Marvin, pria itu melemparkan tatapan tidak suka padanya.
Brianna merasa tidak enak dengan keluhan teman-temannya itu. Ia pun sadar Marvin sesekali mencuri pandang pada mereka dengan tatapan waspada, terutama pada Ryan. Pasti Marvin tidak menyukai Ryan karena temannya itu pernah menjahilinya beberapa hari yang lalu.
"Maaf jika Tuan Marvin membuat kalian tidak nyaman". Brianna pun bingung harus bagaimana. Lagipula ini rumah Marvin, pria itu bebas mau diam dimana saja. Tidak mungkinkan Brianna mengusir Marvin.
"Tidak apa-apa Brianna, lagipula kami yang seharusnya tidak enak pada Tuan Marvin karena sudah menggunakan perpustakaannya". Ucap Nina.
"Mau sampai kapan kalian mengobrol hah? Aku harus pergi setelah ini, kita harus selesaikan tugas ini dengan cepat!" Tegur Ryan mulai kesal. Masalahnya mereka belum mengerjakan sama sekali.
"Cihh, sok sibuk sekali" Dengus Nina pelan.
"Apa kau bilang?" Tanya Ryan melotot pada Nina
"Ti..tidak"
Selama mengerjakan Ryan mencari kesempatan menarik perhatian Brianna dengan pura-pura bertanya lalu meminta Brianna menjelaskan apa yang tidak ia mengerti.
Ketimbang fokus mengerjakan soal, Ryan justru fokus memperhatikan wajah Brianna. Ryan baru sadar Brianna terlihat begitu cantik dalam jarak sedekat ini. Ryan tersenyum dalam diam, tatapannya pada gadis itu berubah intens hingga Nina pun menyadarinya.
Tidak masalah jika hanya Nina yang melihat, masalahnya Marvin pun menyadari itu. Sedari tadi Marvin terus memperhatikan gerak-gerik Ryan yang membuat hati Marvin terbakar. Marvin melihat tatapan Ryan pada gadisnya, dan itu membuatnya geram.
Marvin sedari tadi menahan diri untuk tidak beranjak dari tempatnya, walaupun tangannya sudah gatal ingin mendorong bocah laki-laki itu agar tidak terlalu dekat dengan kekasihnya. Oh Tuan Marvin yang posesif!
"Ekhemm"
Ryan melepas tatapannya pada Brianna saat mendengar deheman keras dari Marvin. Ryan menoleh ke arah Marvin dan ia langsung di suguhi tatapan intimidasi dari sang pemilik rumah. Ryan langsung memalingkan wajahnya, jujur saja tatapan Marvin semakin menyeramkan saja.
"Kau mengerti bagianmu kan Ryan?"
"A..apa? Yang mana?"
"Astaga! Kau ini bagaimana, sedari tadi aku menjelaskan kau tidak mengerti juga? Ryan ingat, lusa kita harus mempresentasikan hasilnya" Brianna nampak kesal, lalu meminum jus jeruknya yang sudah tersedia hingga tandas. Ia sudah panjang lebar menjelaskan hingga mulutnya kering tapi Ryan malah tidak memperhatikan. Sungguh menyebalkan!
"Ya aku mengerti Brianna, aku sedikit tidak fokus tadi. Perutku lapar!" Ryan beralasan lalu mengambil satu biskuit di atas meja dan melahapnya. Oh ia terlihat bodoh sekarang.
Nina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ryan. Jelas saja Ryan tidak fokus karena sedari tadi yang diperhatikan wajah sahabatnya.
"Ah iya Ryan aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah mengantar seragamku kemarin".
"Ya sama-sama" jawab Ryan dengan senyuman tulus. Brianna cukup terkejut melihatnya, ini pertama kalinya ia melihat Ryan tersenyum setulus itu padanya.