
Brianna berjalan menuju kelasnya dengan wajah berseri-seri. Selama melewati koridor senyumannya tidak pernah memudar, tampaknya gadis itu sedang bahagia hari ini.
"Selamat pagi pak!" Brianna menyapa seorang pekerja kebersihan yang kebetulan berpapasan dengannya. Pria paruh baya yang disapa itu langsung membalasnya dengan ramah.
"Wahh kau tampak bersemangat nak, padahal ini hari Senin, teman-temanmu yang lain kebanyakan menekuk wajahnya" kekeh pria tersebut. Biasanya kebanyakan siswa tidak suka dengan hari Senin, mereka akan malas memulai harinya lagi setelah menikmati hari weekend. Tapi itu tidak berlaku bagi Brianna, gadis itu terlihat senang dan juga bersemangat.
"Karena hari ini aku sedang bahagia pak".
"Bagus kalau begitu, semoga harimu menyenangkan".
"Terimakasih, bapak juga. Selamat bekerja, semangat!".
Brianna kembali melanjutkan langkahnya. Gadis itu mengangkat sebelah tangan kanannya melihat benda yang sedang ia bawa. Sebuah kotak bekal berwana merah muda.
Biasanya ia malas membawa bekal, tapi kali ini ia bersemangat karena Livy Xavier lah yang membuatkan bekal spesial untuknya.
"Aku sudah tidak sabar ingin memakannya bersama Nina".
Brianna memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Rupanya Nina sudah tiba lebih dulu, gadis itu seperti biasa sibuk dengan buku bacaannya. Benar-benar siswa rajin yang patut di contoh.
"Selamat pagi Nina" sapa Brianna.
"Brianna, kau sudah tiba, apa yang kau bawa ?" Rupanya kotak bekal Brianna berhasil menarik perhatian Nina.
"Tara... Aku membawa bekal hari ini."
"Wah tumben sekali. Bolehkah aku melihatnya?"
"Tentu, kau harus mencobanya nanti" Brianna mulai menunjukkan isi bekalnya. Nina tampak takjub melihatnya, terlihat sangat enak dan menggiurkan.
"Wah.. Apa ini masakan mamamu?"
"Bukan ini masakan Nyonya Livy"
"Nyonya Livy?"
"Mamanya kak Marvin"
Brianna memang sudah menceritakan sedikit tentang Marvin, jadi Nina tidak terkejut saat mendengarnya. Akan tetapi Nina hanya tau jika Marvin adalah majikan Brianna. Belum saatnya Nina mengetahui yang sebenarnya. Begitulah pikir Brianna.
"Wooow kotak bekal yang manis!"
Brianna terkejut tiba-tiba saja seseorang merebut kotak bekalnya. Orang itu adalah Ryan, teman satu kelasnya yang terkenal nakal dan suka membuat ulah.
"Hei!! Kembalikan bekalku Ryan"
"Hmm sepertinya ini enak"
"Kembalikan!"
Brianna berusaha menggapai kotak itu dari tangan Ryan. Namun pria itu justru mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat Brianna kesulitan mengambilnya. Oh ayolah bahkan tinggi badan Brianna hanya sebatas dada pria itu.
"Coba saja kalau bisa"
"Ryan, aku mohon kembalikan!"
"Tidak akan!" Pria itu kemudian berlari membawa kabur kotak bekal itu sambil tertawa mengejek.
"Ryan!!".
Tidak menyerah Brianna langsung mengejar siswa nakal itu dengan kaki pendeknya. Benar-benar merusak mood saja, selama ini Ryan jarang sekali berinteraksi dengannya. Namun pria itu diam-diam selalu usil pada Brianna. Seperti melempari Brianna dengan gulungan kertas selama belajar, atau menyembunyikan peralatan menulis Brianna hingga gadis itu frustasi mencarinya.
"Huh..huh Ryan, berhenti!!" Brianna sudah tidak sanggup mengejar Ryan, ia menopang tangannya di atas lutut dengan nafas memburu. Bahkan wajahnya kini sudah dibanjiri keringat. Begitu pun dengan Nina, gadis itu turut membantu mengejar Ryan.
"Hahaha hanya sebatas itu kemampuan berlarimu!" Teriak Ryan dari kejauhan.
"Sial!" Tidak mau diremehkan akhirnya Brianna kembali mengejarnya. Ryan lagi-lagi berlari menjauh, pria itu terus tertawa mengejek ke arah Brianna, sampai-sampai ia tidak menyadari ada sebuah pot yang menghalangi jalannya.
Brughh!!!
"Tidaaaaakkk!!!"