My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Berhentilah Jadi Pelayan



"Setelah kecelakaan itu aku di rawat beberapa hari di rumah sakit. Aku meminta anak buahku untuk mencarimu, tapi rupanya Tuhan tidak mempertemukan kita. Desamu mengalami bencana dan aku kesulitan menemukanmu. Delapan tahun aku mencarimu dan akhirnya kita dipertemukan"


Jantung Brianna seketika berdebar mendengarnya. Marvin mencarinya? Selama itu?


Marvin tahu ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Brianna. "Aku mencarimu karena merasa sangat berhutang nyawa padamu. Jika kau tidak datang menolongku saat itu, mungkin aku sudah mati"


Brianna merasakan usapan lembut di punggung tangannya, lalu berganti menjadi genggaman hangat. Pandangan mereka bertemu, membuat Brianna salah tingkah.


"Dan ada satu lagi alasan mengapa aku bersikeras mencarimu" Marvin menatap kedua bola mata Brianna dalam, gadis itu masih diam menunggu apa yang akan Marvin ucapkan selanjutnya.


"Aku tertarik padamu"


Deg!


Jantung Brianna lagi-lagi berdebar tak karuan. Marvin terlihat sangat tulus mengatakannya tidak ada pancaran kebohongan sama sekali. Brianna menelan ludahnya gugup, ia bingung harus bereaksi apa.


"Tertarik padaku??" Tanya Brianna memastikan. Oh ya ampun dia hanya bocah kecil berusia 8 tahun saat itu. Apa yang menarik darinya? Tapi tunggu-tunggu tertarik jenis apa yang Marvin maksud?


"Aku mencintaimu..."


Detik itu juga pertanyaan Brianna langsung terjawab. Brianna terkejut mendengar pengakuan Marvin. Namun ia merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.


Marvin menyatakan perasaannya!


Brianna menundukkan kepalanya merasa malu, wajahnya lagi-lagi memanas. Sebenarnya ia kurang mengerti dengan perasaannya saat ini, akan tetapi ia merasa bahagia. Apa itu tandanya ia juga menyukai Marvin?


Marvin mengulum senyumnya melihat sikap malu-malu Brianna. Pria itu merasa yakin jika Brianna pun merasakan perasaan yang sama dengannya, terbukti dengan rona merah di kedua pipi gadis itu.


Di angkat nya dagu Brianna dengan lembut selembut tatapan Marvin. Mata Marvin tertuju pada bibir plum milik Brianna. Dengan perlahan Marvin mendekatkan wajahnya, ia ingin menyecap bibir kemerahan alami milik Brianna, sebagai tanda bahwa ucapannya tadi bukanlah bualan semata.


Tubuh Brianna seketika menegang saat benda lunak itu menyentuh bibirnya.


Marvin menciumnya!


Ciuman itu hanya sebatas menempel, Marvin belum berani bertindak lebih, karena bisa jadi ia hilang kendali. Biarlah ini jadi pengenalan awal untuk Brianna.


Tanpa sadar Brianna mencengkram erat sisi kaos yang Marvin kenakan. Genggaman tangan Marvin perlahan terlepas lalu beralih mengelus kepala Brianna seiring kecupan-kecupan ringan di bibir manis gadis itu. Brianna memejamkan matanya tanpa berniat menolak, isi kepala Brianna mendadak terasa kosong hingga ia tidak tahu harus bertindak seperti apa. Brianna cukup menikmati ciuman pertamanya dan Marvin memperlakukannya begitu lembut penuh kehati-hatian.


Bulu mata lentik itu perlahan terbuka saat kecupan manis Marvin berhenti. Pria itu masih setia memandangnya tanpa bosan. Sudut bibirnya melengkung ke atas, mengulum senyumnya melihat ekspresi menggemaskan Brianna. Ditariknya tubuh itu ke dalam pelukannya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari Brianna.


Brianna membenamkan wajahnya dipundak Marvin memyembunyikan wajahnya yang kian memanas. Suhu tubuhnya terasa semakin naik, tidak mungkin kan ia langsung demam hanya karena ciuman Marvin?


Brianna menggigit bibir bawahnya, rasanya ciuman Marvin masih membekas dibibirnya. Tanpa sadar Brianna tersenyum di balik pundak Marvin, detak jantungnya kembali menggila seiring usapan lembut dipunggungnya. Pelukan Marvin sangat hangat, sehangat pelukan ayahnya.


"Aku merasa lega sekarang" Marvin melepas pelukannya lalu kembali memandang wajah polos gadisnya. Kali ini Brianna membalas menatap Marvin. Jemari tangannya terangkat menyentuh pipi Marvin, pantas saja wajah ini tidak asing di matanya karena mereka pernah bertemu di masa lalu.


"Pelukan kakak sangat hangat"


"Benarkah?"


"Kau merindukan papamu?"


Brianna mengangguk membenarkan "Ya sangat"


"Kalau begitu nanti kita mengunjungi makam ayahmu. Bagaimana?"


"Sungguh?? Tapi itu sangat jauh"


"Tidak masalah, selama itu bisa mengobati rasa rindumu" senyuman Brianna seketika mengembang. Ia sangat senang, hingga bola matanya berbinar cantik. Dikecupnya kening Brianna dalam, Marvin rela melakukan apapun selama itu bisa membuat gadisnya bahagia.


"Kenapa kakak menyukaiku?"


"Entahlah, perasaan ini muncul begitu saja saat melihat wajah lugumu untuk pertama kalinya. Kau sungguh menarik"


"Aku hanya anak kecil saat itu, sedangkan kakak pria dewasa" cicit Brianna pelan.


"Apa aku terlihat seperti seorang pedofil?"


"Pedofil itu apa?" Alis Brianna menyerngit bingung, terakhir ia yang mendengar kata 'pedofil' itu dari Mia.


Marvin terkekeh melihat reaksi Brianna, gadisnya benar-benar polos. Oke akan lebih baik jika Brianna tidak mengetahui artinya.


"Bukan apa-apa"


Brianna mendengus, ia benar-benar penasaran apa itu pedofil. Mungkin nanti ia bisa bertanya pada gurunya.


"Mulai sekarang berhentilah jadi pelayan"


"kakak memecatku?" Tanya Brianna terkejut.


"Ya, aku memecatmu"


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" Brianna mulai panik. Jelas saja Marvin memintanya berhenti, karena Brianna adalah gadis yang spesial bagi pria itu. Akan tetapi Brianna sama sekali tidak mengerti maksud Marvin. Mata Brianna mulai berkaca-kaca, ia tidak tahu dimana letak kesalahannya. Brianna menyukai pekerjaannya dan tidak mau dipecat.


Melihat perubahan ekspresi Brianna, Marvin dengan cepat menjelaskan.


"Hei tenang, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan sayang" Marvin mengusap pipi Brianna lembut.


"Lantas kenapa kakak menyuruhku berhenti?"


"Karena kau gadis yang spesial. Apa kau lupa dengan ucapanku tadi? Aku mencintaimu. Aku tidak akan membiarkanmu terus bekerja" jelas Marvin membuat Brianna termenung.


"Jadilah kekasihku"


"A..apa?"


"Aku tidak menerima penolakan sayang" ucap Marvin menyeringai.