My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Fitting Baju



"Kakak aku malu" Seorang gadis terlihat bersembunyi di balik tirai bersama seorang wanita yang lebih tua darinya. Wanita yang bernama Fina itu terlihat gemas melihat tingkah calon istri dari sang CEO ternama yang sudah menjadi langganan di butiknya. Fina adalah seorang designer muda terbaik di Korea dan gadis yang bersamanya saat ini adalah siapa lagi kalau bukan Brianna Carissa, gadis yang sebentar lagi akan dinikahi oleh Marvin.


"Marvin sudah menunggumu, dia pasti sudah tidak sabar ingin melihat mu memakai gaun ini. Kau cantik Brianna Carissa, kenapa harus malu?"


Brianna menoleh ke arah cermin di belakangnya. Beberapa kali ia menatap pantulan dirinya di cermin. Brianna merasa gaun tersebut terlalu indah untuk ia kenakan di acara pernikahannya nanti. Walaupun motif gaun tersebut terbilang simple namun tetap terlihat elegan bagi  yang memakainya.



Apa dirinya pantas? Begitulah yang ada di otak Brianna saat ini.


"Brianna Carissa ayo!" Fina menarik tangan Brianna tak sabar, hampir saja ia terjatuh karena menginjak gaun tersebut yang menjuntai menyentuh lantai. Belum lagi gaun tersebut lumayan berat.


"Kakak pelan-pelan"


Fina berhasil menarik Brianna keluar dari ruang ganti. Membawanya pada Marvin yang sedang sibuk mematut diri di depan cermin dengan tuxedo yang melekat di tubuh tegapnya. Ketampanan Marvin bertambah berkali-kali lipat saat mengenakannya, gagah dan juga menawan. Bahkan para pegawai di sana berkali-kali menganga takjub melihat pesona Marvin Xavier dan nyaris meneteskan air liurnya.


Marvin menyadari kemunculan Brianna dan Fina lewat pantulan cermin di depannya. Pria itu terdiam seribu bahasa saat melihat sosok gadisnya muncul dengan gaun indah melekat di tubuhnya.


Marvin segera berbalik menatap keindahan luar biasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Brianna Carissa, gadis kecilnya itu terlihat mengagumkan dengan gaun buatan Fina.


"Indah" Marvin bergumam dengan lirih, matanya tidak lepas menatap Brianna penuh damba. Ia berjalan mendekat ke arah gadisnya yang sejak tadi diam tak bergerak sama sekali. Gadis itu merasa malu dan tidak percaya diri, apakah dirinya terlihat aneh?


"Bagaimana Tuan Marvin apa kau puas dengan hasil karya ku?" Fina tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Marvin nampaknya tidak merespon ucapan wanita itu, seluruh fokusnya tertarik pada Brianna membuat Fina sedikit kesal.


"Ckk baiklah sepertinya aku harus memberikan waktu pada kalian untuk saling mengagumi, semuanya ayo kita keluar" Fina memberi instruksi pada para pegawai nya untuk meninggalkan Marvin dan Brianna di ruangan tersebut.


"Kakak mau kemana?"


"Kami akan keluar sebentar Brianna. Astaga Marvin Xavier! Air liurmu hampir menetes". Teriak Fina sambil terkekeh, kemudian menghilang di balik pintu bersama pegawainya.


Brianna tersentak saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Marvin menarik tubuhnya mendekat hingga tak berjarak. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan sindiran Fina dan memilih memanjakan matanya dengan keindahan dihadapannya.


"Kau cantik sekali Nyonya Xavier" bisik Marvin pelan membuat pipi Brianna merona.


"Kakak juga terlihat tampan dengan tuxedo itu" balas Brianna tersenyum malu-malu. Tanpa polesan make up pun gadis itu sungguh mengagumkan, apalagi jika di rias nanti. Marvin tidak bisa membayangkan, mungkin ia bisa sekarat melihat kecantikan Brianna. Oke itu terdengar berlebihan, tapi jujur saja saat ini rasanya Marvin tidak bisa bernafas dengan benar.


"Ada sesuatu yang ingin sekali aku lakukan saat ini" Marvin menarik dagu Brianna lembut, membuat wajah cantik itu sedikit mendongak hingga tatapan mereka bertemu.


"Melakukan apa?"


Marvin mengulum senyumnya lalu wajahnya mendekat memberikan satu kecupan di bibir Brianna "Membawamu ke pastor lalu menikahkan kita, hari ini juga"


Brianna memukul dada Marvin pelan dengan wajah yang semakin memerah. Marvin terkekeh lalu kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Brianna "Aku bisa gila melihat wajah cantikmu seperti ini, rasanya sudah tidak sabar menanti hari pernikahan kita" bisik nya.


"Membayangkannya saja sudah membuatku gugup" Brianna bergumam. Rasanya ini seperti mimpi, ia tidak menyangka akan menikah dengan sosok seperti Marvin Xavier, seorang pengusaha sukses, kaya raya dan juga tampan. Dirinya benar-benar beruntung.


Marvin membawa Brianna ke depan cermin. Melihat pantulan diri mereka dengan pandangan saling mengagumi.


"Kau suka dengan gaun ini?" Tanya Marvin, lalu memeluk Brianna dari belakang. Posisi mereka terlihat seperti akan melakukan pra-wedding Hanya saja tidak ada kamera di sana, sehingga tidak ada yang mengabadikan momen manis mereka.


"Sangat-sangat suka. Gaun ini sangat indah, aku jadi ragu untuk memakainya nanti. Gaun ini terlalu istimewa jika dikenakan oleh gadis biasa sepertiku"


"Jangan berbicara seperti itu, gaun ini istimewa dan yang mengenakannya pun sangatlah istimewa bagiku.  Asal kau tau, gaun yang biasa pun akan terlihat luar biasa jika kau yang memakainya" ucap Marvin jujur. Brianna kembali tersipu dengan pujian Marvin.


Marvin mengeluarkan ponselnya kemudian membuka kamera dan mengarahkannya ke atas, Marvin ingin melakukan selfie dengan Brianna.


"Ayo tersenyum"


Brianna dengan malu-malu tersenyum ke arah kamera. Beberapa pose berhasil Marvin abadikan dan pria itu tersenyum puas melihat hasilnya.


Tak lama kemudian pintu ruangan kembali terbuka, Fina kembali datang dengan senyuman menggoda di bibirnya. Wanita itu ingin mengambil ponselnya yang tertinggal.


"Ckckck kalian masih saling mengagumi ternyata, apa perlu ku beri waktu lagi pada kalian?"


"Tidak perlu Fina, maaf sudah membuatmu menunggu. Aku terlalu terpesona dengan kekasihku ini" ucap Marvin lalu mengecup pipi Brianna.


"Jangan memamerkan kemesraan kalian dihadapanku! Membuat iri saja" dengus Fina sebal.


Marvin dan Brianna tertawa melihat wajah kesal Fina.  "Kau harus mencari kekasih, dan menikah seperti kami" ucap Marvin sambil merangkul pundak Brianna.


"Tentu saja, aku akan mencari pria yang lebih tampan darimu dan juga lebih kaya pastinya" balas Fina.


Setelah mencoba gaun pengantin, akhirnya Marvin dan Brianna berpamitan. Tak lupa juga Marvin dan Brianna mengucapkan banyak terima kasih pada Fina karena sudah membuatkan gaun yang sangat indah. Fina memang tidak pernah mengecewakan. Sebagai bentuk terima kasihnya Marvin langsung memberikan uang bonus pada Fina. Jumlahnya tak tanggung-tanggung hingga Fina memekik kegirangan. Marvin adalah pelanggan pertama yang memberinya bonus. Marvin adalah pria yang baik dan juga royal, walaupun terkadang menjengkelkan.


"Kak, setelah ini kita kemana?"


"Kita ke toko cincin" Marvin membukakan pintu mobil untuk Brianna, dan Brianna hanya mengangguk. Sebelum gadis itu memasuki mobil Marvin, tak sengaja ia melihat seorang pria tengah berdiri tak jauh dari mobil Marvin, asik memainkan ponselnya.


"Ryan!" Brianna berteriak memanggil pria itu yang ternyata Ryan.


Pria itu menoleh begitu ada yang memanggilnya. Senyumannya seketika mengembang begitu tahu siapa orangnya. Brianna Carissa, gadis yang amat sangat ia rindukan. Semenjak Brianna keluar dari sekolah, Ryan tidak pernah bertemu dengan Brianna. Terakhir ia melihat gadis itu adalah ketika ia menjenguk Brianna di rumah sakit akibat penganiayaan yang dilakukan Steffy.


Brianna berjalan mendekati Ryan, meninggalkan Marvin yang kini menatap Ryan tidak suka. Pria itu merasa kesal saat melihat wajah Ryan, apalagi Ryan tersenyum pada gadisnya membuat jiwa over protective nya terbangun. Marvin kali ini tidak mencegah Brianna, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.


"Ryan apa kabar?" Tanya Brianna ramah, gadis itu tampak senang bertemu dengan temannya tersebut.


"Baik, kau sendiri bagaimana Brianna? Lama tidak bertemu" balas Ryan tak kalah senang, terlihat sekali ekspresi wajahnya yang berseri-seri. Hatinya merasa lega melihat keadaan Brianna yang terlihat baik-baik saja sekarang.


"Umm seperti yang kau lihat, aku sangat baik" jawab Brianna dengan kekehan kecil.


Ryan tahu Brianna tidak sendiri, ia mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Marvin yang sedang bersandar di badan mobil. Pria itu mengawasi mereka.


Ryan membungkukkan tubuhnya pada Marvin sebagai tanda sopan santunnya, walaupun Marvin enggan merespon dan hanya wajah datar yang Ryan terima. Ryan berdehem sejenak kemudian kembali menatap gadis cantik di depannya.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya Brianna.


"Aku sedang menunggu temanku, kau sendiri sedang apa?"


"Ah begitu ya, aku baru saja dari butik. Ryan aku punya sesuatu untukmu"


Brianna mengambil sesuatu di dalam tas selempangnya. Ryan menunggu dengan penasaran.


"Ah ini dia" Brianna memberikan sebuah undangan pada Ryan.


"Aku akan menikah"


Deg


Ryan terdiam, seperti ada belati yang menggores hatinya. Ia menatap undangan tersebut yang ternyata adalah undangan pernikahan Brianna dengan Marvin.


"K..kau serius?" Lidah Ryan mendadak kelu, pupus sudah harapannya untuk bisa lebih dekat dengan Brianna. Dari awal seharusnya ia menghapus perasaannya tersebut pada Brianna. Kini semuanya terlambat, ia menjadi menyesal karena selama ini waktu kedekatannya bersama Brianna sangatlah singkat.


Ryan mengambil undangan tersebut lalu menatap nama yang tertera di sana, ternyata benar di sana di sematkan nama Brianna dan juga Marvin.


"Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini" gumam Ryan. Ia berusaha mengeluarkan senyumannya walaupun hatinya terasa sesak.


"Aku pun tidak menyangka akan menikah muda" Brianna mengusap tengkuknya malu.


"Selamat kalau begitu, aku senang mendengarnya. Semoga kalian bahagia"


"Terima Kasih"


"Ekhemm!!" Marvin mulai kesal menunggu Brianna, gadis itu menoleh ke arah Marvin dan melihat tatapan kesal pria itu.


"Kalau begitu aku permisi, Aku harap kau bisa hadir" ucap Brianna dengan senyuman cantiknya.


"Ya, akan aku usahakan"


"Sampai bertemu nanti, sampai jumpa!"


Brianna segera kembali pada Marvin sebelum pria itu mengamuk, bisa gawat. Brianna buru-buru meminta maaf karena sudah membuat Marvin menunggu.


"Aku hanya ingin memberikan undangan, kakak jangan salah paham" jelas Brianna takut Marvin akan marah.


Marvin yang tadinya kesal langsung merubah ekspresi wajahnya, menjadi lebih lembut. Ia tidak mau Brianna ketakutan melihat sifatnya yang pencemburu itu.


"Aku tahu" Marvin tersenyum sambil mengelus pucuk kepala gadisnya. Lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk Brianna, gadis itu langsung masuk dan memasang sabuk pengamannya.


Sebelum Marvin ikut memasuki mobilnya, pria itu melirik sekilas ke arah Ryan yang masih diam di tempatnya. Ryan kembali membungkukkan tubuhnya pada Marvin walaupun pria itu tidak meresponnya.