
Sejak pagi-pagi buta seluruh maid sudah bersiap-siap melakukan tugas mereka membersihkan rumah besar keluarga Xavier, salah satunya ada Mia. Pelayan muda tersebut kini sedang membenahi diri untuk memulai aktivitasnya hari ini.
Bibirnya melengkung ke atas setelah merasa dirinya rapi dan siap untuk bekerja. Hari ini ia bertugas membersihkan perabot cantik yang menjadi koleksi keluarga Marvin Xavier, setiap pekerjaan yang ada di rumah Marvin Xavier dilakukan secara bergilir dan semua itu sudah di atur oleh Emily, sang kepala pelayan.
Mia berjalan menuju rumah utama, pera pelayan yang lain pun terlihat keluar dari paviliun untuk memulai tugas mereka.
Mia mengambil sebuah lap tangan beserta cairan pembersih kuman. Pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati, mengingat benda yang akan dibersihkannya adalah barang antik dan mahal pastinya. Jika ia teledor dan merusaknya habis sudah nasibnya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa besar kerugian yang harus ia ganti.
Rumah utama masih terlihat sepi karena masih pukul 6 pagi, sudah pasti Marvin Xavier dan Brianna masih terlelap di ranjang empuk mereka.
"Mia"
Gadis itu menoleh begitu seseorang memanggilnya, ia langsung tersenyum melihat Yasmine menghampirinya. Mama Brianna rupanya sudah bangun. Jelas saja pengalamannya menjadi maid membuat Yasmine terbiasa bangun pagi seperti maid yang lainnya.
"Selamat pagi Nyonya" sapa Mia dengan senyuman lebarnya. Mia mulai merubah panggilannya pada Yasmine dengan sebutan Nyonya, mengingat wanita itu telah menjadi Mama mertua Marvin Xavier.
"Aisssh sudah ku bilang jangan panggil aku nyonya, panggil seperti biasa saja Mia" Yasmine memprotes.
Mia terkekeh sambil fokus mengelap gelas cantik koleksi Livy.
"Baiklah bibi, tapi rasanya tidak enak jika aku memanggilmu seperti itu. Bibi kan sudah menjadi bagian keluarga Xavier, sudah sepantasnya aku..."
"Dan kau sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri Mia, kurasa sebutan Nyonya terlalu berlebihan. Jadi panggil aku Bibi saja, oke?" Wanita itu tersenyum, lalu mengelus kepala Mia pelan. Ia sudah menganggap Mia sebagai putrinya sendiri. Gadis itu tersenyum lebar, lalu mengangguk kecil "Emm baiklah"
Setelah itu Yasmine pergi menuju dapur, ia akan membantu koki di sana untuk menyiapkan sarapan untuk Marvin Xavier dan Brianna. Sedangkan Mia kembali melanjutkan pekerjaannya.
#
Matahari semakin naik hingga langit tampak cerah pagi ini. Bunyi derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, di sana ada Brianna yang baru keluar dari kamarnya. Gadis itu terlihat fresh dengan dress berwarna biru langit yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Benar-benar cantik.
"Kak Mia!" Gadis itu tersenyum merekah begitu melihat Mia yang sedang sibuk dengan barang antik milik Marvin Xavier.
"Wah pengantin baru sudah bangun ternyata" goda Mia menghentikan aktivitasnya sejenak.
"sedang apa?" Tanya Brianna tepat di samping Mia, matanya memperhatikan gerakan tangan Mia yang sangat lihai membersihkan benda-benda di sana.
"Tentu saja bekerja Brianna sayang, mau membantuku?"
"Boleh!" Brianna merespon dengan semangat, ia hendak mengambil lap di tangan Mia namun wanita itu segera menepisnya.
"Aku sudah terbiasa melakukannya, jadi biarkan aku membantumu" Sepertinya jiwa maid dalam diri Brianna masih melekat
"Tidak Brianna, lebih baik kau sarapan. Mamamu sudah menunggu dari tadi, lihat jam berapa ini? Jangan menunda sarapanmu" Mia mulai mengomel, sedangkan Brianna nampak kesal dengan bibir mengerucut.
"Ada apa ini?" Suara bariton Marvin Xavier menghentikan omelan Mia. Mia terkejut dan langsung membungkukkan tubuhnya pada Marvin Xavier.
"Selamat pagi Tuan Marvin".
"Kakak! Kak Mia menyebalkan, dia melarangku membantunya" Brianna mengadu, ia mendekati Marvin Xavier lalu merangkul lengan pria itu.
"Membantu apa?"
"Em be..begini Tuan, tadi Brianna ingin membantuku membersihkan benda-benda ini".
"Kakak kan yang lebih dulu menawarkan"
"Brianna aku hanya bercanda"
"Sudah-sudah tidak perlu diributkan, sayang lebih baik kita sarapan. Biarkan Mia menyelesaikan pekerjaannya" Marvin Xavier menggiring Brianna menuju ruang makan. Di sana sudah ada Yasmine yang menyiapkan makanan.
Tak lama kemudian Livy ikut bergabung, tapi kali ini tidak ada Henry yang menemaninya. Sang suami sudah kembali ke negaranya tadi malam karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama, benar-benar pria super sibuk.
"Wah pengantin baru sudah bangun rupanya" Livy tersenyum lalu mengambil posisi di depan Marvin Xavier, sedangkan Yasmine di depan putrinya.
"Tentu saja Ma, aku tidak mau bangun kesiangan lagi seperti kemarin." Brianna sungguh tidak enak soal kejadian kemarin, ia dan Marvin Xavier sudah membuat orang tua mereka menunggu akibat bangun kesiangan. Ah bukan, tapi ada aktivitas lain yang mereka lakukan dan itu semua perbuatan Marvin Xavier.
"Tidak apa-apa, selama itu bisa membuat kami segera mendapatkan cucu itu tidak masalah. Iya kan besan?" Livy tersenyum penuh arti pada Yasmine, lalu di balas kekehan kecil oleh wanita itu.
Marvin Xavier berdehem pelan, ekor matanya melirik ke arah Brianna. Gadis itu hanya mengerjap polos mendengar perkataan Mama mertuanya. Sepertinya Brianna tidak mengerti maksud Livy.
"Sayang, bisa kau ambilkan lauknya untukku?"
"Ah i..iya kak"
Brianna yang tadinya ingin mencerna perkataan Mama mertuanya seketika buyar mendengar Marvin Xavier memanggilnya.