My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Penyiksaan Steffy



Sementara itu Marvin duduk termenung di ruang kerjanya. Wajah tampannya terlihat suram memikirkan satu orang yang berhasil membuatnya nyaris gila. Brianna Carissa, gadis itu terus menghantui pikiran Marvin semenjak kejadian tadi pagi.


Tok tok tok!


Bunyi ketukan pintu berhasil menyadarkan Marvin. James muncul dibalik pintu dan langsung masuk tanpa repot-repot meminta ijin pada sang pemilik ruangan.


"Aku membawa kabar buruk"


Marvin mengangkat wajahnya menatap James penasaran, kerutan di dahi Marvin terlihat sangat jelas. James mengeluarkan sebuah flashdisk dan memberikannya pada Marvin.


"Apa ini?"


"Aku mendapat laporan jika Steffy kembali berulah, dan kali ini tidak bisa di tolerir lagi. Ini menyangkut nyawa Brianna"


"Brengsek!" Marvin merebut flashdisk itu di tangan James, lalu menyalakan laptopnya.


Disana ada satu file berupa video, membuat rasa penasaran Marvin mencuat.


Betapa emosinya Marvin begitu melihat video tersebut. Di sana terlihat jelas Steffy mendorong Brianna ke kolam renang.


"Kejadian itu terjadi saat kau mengajak Brianna ke pantai" James menundukkan kepalanya merasa bersalah, James sadar ini semua kesalahannya yang lalai mengawasi Brianna.


Bughhh!!!


Marvin melayangkan pukulannya di wajah James, ia sangat marah karena kelalaian pria itu.


"Kenapa kau baru mengetahuinya sekarang hah!!" Emosi Marvin meledak, wajahnya tampak memerah.


"Maaf atas kelalaian ku, aku benar-benar menyesal. Ini salahku"


"Ya ini memang salahmu, kau bilang sekolah itu aman dari pembullyan tapi lihat sekarang! Gadisku merasakannya!"


James diam tak berkutik, jujur Marvin terlihat menyeramkan saat ini. Ia tidak bisa membela diri karena James pun merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga Brianna dengan baik.


Marvin kembali melanjutkan menonton video tersebut. Ekspresinya terlihat sangat serius campur emosi, ia bisa bernafas lega ketika melihat ada orang yang menolong Brianna. Namun tidak berselang lama  kecemburuan Marvin muncul ke permukaan ketika orang yang menolong Brianna memberikan nafas buatan, dan Marvin tahu siapa orang tersebut.


"Ryan?"


"Ya, kau benar, dia Ryan. Di dalam kamera cctv anak itu yang membuang seragam Brianna ke kolam renang atas perintah Steffy. Tapi yang membuatku heran Ryan sendiri yang menolong Brianna ketika gadis itu tenggelam"


"Cepat selidiki lagi, aku tidak mau masalah ini terulang lagi atas kelalaian mu sendiri. Sekarang kita pergi ke sekolah Brianna, perasaanku mulai tidak enak"


"Baik"


#


Suasana perpustakaan terlihat begitu tenang, tidak banyak pengunjung hari ini hanya ada beberapa siswa yang datang termasuk Brianna.


Brianna duduk bersandar di sudut ruang perpustakaan, menyendiri dengan earphone di telinganya serta novel di tangannya. Brianna larut dalam aktivitasnya hingga tidak menyadari ada orang yang menghampirinya.


Sreet!


Brianna terkejut ketika earphone nya di rebut dan novelnya terlempar dari genggamannya. Brianna mendongak untuk melihat siapa orang yang mengusik kegiatannya.


"Urusan kita belum selesai"


Brianna menatap jengah orang tersebut, sorot matanya berubah tajam sarat akan kebencian.


"Apa mau mu Steffy? Apa kau belum juga puas setelah mempermalukan aku di depan banyak orang?"


Steffy menyuruh dua sahabatnya menarik tubuh Brianna dengan paksa. "Heyy!! Lepaskan aku! Apa yang ingin kalian lakukan?!"


"Diam bodoh! Atau aku akan menyobek mulutmu!"


Mereka membawa Brianna ke gudang kosong yang berada dibelakang sekolah. Brianna mulai was-was dengan tindakan Steffy dan juga teman-temannya. Hanya ada mereka bertiga di gudang tersebut.


Brianna menatap Steffy waspada, senyuman seringan gadis itu tidak pernah luput dari bibirnya. Brianna yakin Steffy kembali merencanakan sesuatu yang buruk untuknya.


"Kenapa? Kau takut?" Kekeh Steffy lalu mencengkram dagu Brianna. Steffy langsung memberi kode Elsa dan Jessi untuk menahan tangan Brianna.


"Lepas!" Brianna berontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Jessi dan Elsa.


PLAK!!!


Tiba-tiba Steffy menampar Brianna dengan begitu keras. Tidak hanya sekali, gadis licik itu menampar Brianna beberapa kali hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Itu balasan untukmu karena kau sudah menamparku tadi!" Nafas Steffy terdengar memburu. Emosi memenuhi diri Steffy, seperti iblis yang mengeluarkan tanduk merahnya.


Brianna kali ini tidak melawan. Jika ia melawan sudah pasti Steffy dan temannya akan membalasnya lebih.


"Kenapa diam? Ayo teruskan sampai kau benar-benar puas!" Ucap Brianna.


'"Brengsek!!" Steffy menarik rambut Brianna lalu mendorong tubuh gadis itu ke lantai. Tidak hanya itu saja Steffy menendang tubuh Brianna tanpa ampun.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Dasar ****** sialan! Mati saja kau!"


"Steffy kendalikan dirimu!" Jessi menahan Steffy yang tidak terkendali. Ia tidak menyangka Steffy akan bertindak sejauh ini.


"Yak!!! Dia bisa mati!" Elsa ikut menahan. Ia mulai khawatir dengan kondisi Brianna.


Brianna tidak melawan sama sekali, gadis itu terkulai lemah di lantai tanpa bersuara.


"Ya Tuhan apa dia mati?" Jessi mulai panik, sedangkan Steffy masih menatap Brianna dengan emosi yang tersisa.


"Dia tidak akan mati" jawab Steffy dingin.


Steffy menarik wajah Brianna agar menatapnya. Ia tersenyum sinis melihat wajah lebam Brianna yang mengkhawatirkan.


"Ini belum seberapa. Ingat Brianna Carissa aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan Marvin. Aku menyukainya jadi harus aku yang bahagia bersamanya. Aku tidak akan menyerah merebut hati Marvin darimu. Camkan itu!"


Brianna tersenyum sinis di tengah-tengah kesadarannya.


"Aku tidak akan membiarkan Kak Marvin bahagia dengan gadis iblis sepertimu! Aku akan melepasnya jika wanita itu mencintainya dengan tulus bukan karena obsesi semata"


Steffy mengatupkan bibirnya rapat. Di dorongnya kepala Brianna dengan keras hingga membentur lantai.


"Ya Tuhan Steffy ku mohon hentikan" Elsa menarik Steffy menjauh dari Brianna. Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan Brianna seorang diri di gudang tersebut dengan kondisi yang mengenaskan.


Brianna sudah tidak berdaya, apalagi ia merasakan ada cairan kental berwarna merah pekat keluar dari pelipisnya. Brianna berusaha mempertahankan kesadarannya, dengan pandangan mulai mengabur.


"Hikss.. Kak Marvin"


Brianna menangis dalam diam, menahan rasa sakit dan juga rasa takut melihat suasana gudang yang dingin dan mencekam. Lambat laun kesadaran Brianna mulai menipis, hingga akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri.