
Brianna tidak tahu kemana Marvin membawanya pergi, namun sepanjang perjalanan Marvin terus tersenyum dalam diam sambil sesekali menggenggam tangannya penuh kehangatan. Sementara itu James fokus mengemudikan mobil
"Kak, sebenarnya kita akan kemana?"
Sungguh Brianna sangat penasaran, apalagi Marvin membawanya pergi saat jam sekolah belum berakhir.
"Nanti juga kau akan tahu" jawab Marvin.
Brianna mendengus, sedari tadi jawaban Marvin tetap sama.
"Apa kita akan pergi menonton film?"
Tebak Brianna.
"Tidak sayang"
Brianna merengut kecewa, gadis itu suka menonton film di layar besar seperti bioskop. Beberapa hari yang lalu Marvin mengajaknya ke sana, dan Brianna merasa ketagihan ingin menonton semua filmnya, terutama film animasi Disney.
"Kita bisa menontonnya di rumah jika kau mau" ucap Marvin mengelus punggung tangan Brianna.
"Itu kan beda"
"Baiklah nanti kita ke bioskop lagi. Tapi tidak sekarang"
"Benarkah? Janji ya kak?" Brianna berubah antusias ketika mendengarnya.
"Tentu saja, memangnya kapan aku ingkar janji?" Marvin terkekeh, lalu mencubit pipi chubby Brianna dengan gemas.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Marvin membangunkan Brianna yang tertidur pulas di sampingnya.
"Sayang, ayo bangun" bisik Marvin sambil mengusap pucuk kepala Brianna.
"Engghhh sebentar lagi, Ma" ucap Brianna mengigau.
Marvin terkekeh melihat kelakuan gadisnya, karena tidak tega melihat wajah lelah Brianna. Akhirnya Marvin memutuskan untuk menggendongnya.
Begitu turun dari mobil, hembusan angin menyapa kulit tubuh mereka. Tidak hanya itu ada deburan ombak yang terdengar saling bersahutan.
Pantai adalah tujuan mereka saat ini. Apakah Marvin sedang mengajak Brianna berlibur? Ya mungkin kurang lebih seperti itu, tapi sebenarnya ada maksud lain Marvin mengajaknya ke sana.
Brianna terbangun saat merasakan tubuhnya melayang. Ia mengerjap menatap Marvin yang sedang fokus melihat ke depan.
"Kak, kita sudah sampai?" Tanya Brianna dengan ekspresi mengantuk. Ia menolehkan wajahnya ke arah samping, rasa kantuknya langsunf menguap begitu melihat pemandangan indah yang terpampang nyata di depannya.
"Pantai!"
Brianna turun dari gendongan Marvin dengan semangat. Bahkan tubuhnya nyaris tersungkur jika saja Marvin tidak menahan tubuhnya. Brianna segera berlari ke arah bibir pantai tanpa mempedulikan teriakan Marvin yang memanggilnya.
Ini pertama kalinya Brianna datang ke pantai. Jadi wajar saja jika gadis itu sangat bahagia.
"Indah sekali!!"
Brianna melepas sepatunya agar bisa merasakan bagaimana lembutnya pasir di sana. Bibirnya tidak berhenti tersenyum dan sesekali tertawa saat ombak kecil menyentuh kakinya.
"Bagaimana? Apa kau suka?"
Brianna merasakan tubuhnya menghangat saat Marvin memeluknya dari belakang.
"Sangat sangat suka! Ini pertama kalinya aku melihat pantai secara langsung" jawab Brianna antusias.
"Benarkah? Jadi aku orang pertama yang membawamu kemari?"
Marvin mengecup pipi Brianna dengan gemas, ia sangat puas dengan reaksi Brianna. Ternyata keputusannya untuk membawa sang kekasih ke pantai sangatlah tepat.
"Kita harus ke hotel sekarang"
"Hotel?"
"Ya kita akan menginap di sini".
"Apa?? Tapi besok aku harus sekolah kak".
"Tidak perlu khawatir, aku sudah meminta ijin pada wali kelasmu".
"Jadi kita berlibur di sini?"
"Ya, kurang lebih begitu. Nanti malam temanku akan mengadakan pesta, daripada aku datang sendiri lebih baik aku mengajakmu kemari. Sekaligus kita berlibur".
Setelah itu Marvin membawa Brianna ke hotel tempat mereka akan menginap.
#
Marvin dan Brianna memasuki kamar mereka. Marvin sengaja hanya memesan 1 kamar karena ia tahu Brianna tidak bisa tidur sendirian.
Marvin memanggil dua orang wanita yang tidak Brianna kenal, di tangan mereka ada beberapa tas yang entah isinya apa.
"Brianna kenalkan ini Neta dan Angel mereka berdua akan membantumu selama di sini. Termasuk meriasmu untuk pesta nanti.
"Neta, Angel lakukan sesuai perintahku. Jika ada perlu apa-apa panggil saja James".
"Baik Tuan"
"Aku pergi dulu sebentar ya"
Marvin mengecup kening Brianna kemudian keluar dari kamar. Neta dan Angel merasa iri melihatnya, Brianna benar-benar gadis yang beruntung bisa dicintai oleh Marvin, pria sejuta pesona yang menjadi incaran para wanita.
*
"Kak, menurutmu apa aku harus hadir ke pesta itu?"
Brianna menatap pantulan dirinya di depan cermin, saat ini Neta tengah menata rambutnya. Sedangkan Angel tengah mempersiapkan gaun yang akan di kenakan Brianna di pesta nanti.
"Tentu saja nona, karena nona kekasih Tuan Marvin. Kehadiranmu pasti sangat penting di sana".
"Tapi aku ragu" Brianna menundukkan kepalanya, raut wajahnya tampak murung.
"Kenapa harus ragu?" Neta mengambil sebuah kursi lalu duduk di samping Brianna.
"Seumur hidup aku belum pernah menghadiri pesta orang kaya. Aku takut kehadiranku hanya akan membuatnya malu".
Neta tercengang mendengar ucapan Brianna. Apakah Brianna bukanlah anak dari keluarga kaya raya? Tapi jika mengingat penampilan Brianna sebelumnya, gadis itu begitu polos dan sangat sederhana. Walaupun begitu Brianna memiliki aura kecantikan yang luar biasa.
Buktinya setelah make up menyentuh wajah Brianna, kecantikan gadis itu bertambah berkali-kali lipat.
"Nona tidak boleh berbicara seperti itu. Nona terlihat sangat cantik, aku yakin Tuan Marvin akan menyukainya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nona hanya perlu menikmati pestanya."
Neta menyentuh punggung tangan Brianna, sungguh gadis di hadapannya ini begitu lugu. Pantas saja Marvin jatuh hati pada Brianna. Neta berusaha menenangkan Brianna, ia harus membuat gadis ini lebih percaya diri.
"Nona, saatnya memakai gaun mu" Angel datang membawa gaun cantik pilihan Marvin. Pria itu memesan gaun tersebut dari seorang desiner yang sangat terkenal. Gaun tersebut nampak sederhana tapi tidak meninggalkan kesan elegan.