
Tidak sulit bagi James untuk menemukan Brianna. Pria itu menemukan Brianna dengan keadaan meringkuk, tertidur di bangku taman. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia cukup terkejut dengan keadaan Brianna yang tidak baik-baik saja. Wajahnya terlihat sembab.
James melepas jaketnya untuk menghangatkan tubuh Brianna. James begitu panik saat tahu gadis itu menghilang. James sudah menganggap Brianna sebagai adiknya sendiri, jadi ia akan terus menjaga gadis itu.
James segera menghubungi Marvin, lalu tak lama kemudian Marvin datang dengan nafas tak beraturan.
Marvin mendekati Brianna lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Akhirnya ia bisa bernafas lega sekarang.
Marvin memperhatikan wajah Brianna yang terlihat sembab, pasti gadisnya ini menangis. Brianna sama sekali tidak terusik dengan sentuhan tangan Marvin di pipinya yang dingin. Deru nafasnya terlihat begitu tenang, hingga Marvin tidak tega membangunkannya.
"James selidiki gadis bernama Steffy, dia satu kelas dengan Brianna. Segera laporkan hasilnya padaku" perintah Marvin dengan nada penuh amarah.
"Baik"
James jadi penasaran apa yang sudah terjadi dan sepertinya gadis bernama Steffy itu biang masalahnya.
#
Brianna terbangun setelah matahari terbit. Matanya mengerjap saat cahaya matahari mengusik pandangannya. Brianna menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya tertuju pada seseorang yang sedang tidur di atas sofa.
Marvin, pria itu rela mengalah untuk tidur di sofa demi Brianna. Sebenarnya ia bisa saja memesan 1 kamar lagi, tapi Marvin tidak ingin meninggalkan Brianna sendirian.
Brianna menunduk melihat pakaiannya, rupanya ia masih memakai gaun semalam. Brianna turun dari ranjangnya lalu menghampiri Marvin. Pria itu pasti kelelahan karena mencari Brianna kemarin malam karena tidak biasanya jam segini Marvin masih tidur.
"Kak" Brianna berjongkok di hadapan Marvin lalu mengusap pipi prianya dengan hati-hati. Sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah damai Marvin, terlihat polos tidak ada tatapan intimidasi nya.
Tiba-tiba saja Brianna teringat dengan kejadian semalam, wajahnya kembali muram. Perkataan mereka benar-benar menyakiti perasaannya. Apa dirinya serendah itu bersanding dengan Marvin?
"Anna, kau sudah bangun?"
Brianna tersentak saat mendengar suara Marvin. Ia baru sadar jika tangannya masih berada di pipi pria itu.
"Ah, ma..maaf" Brianna berdiri dari jongkoknya.
"Maaf sudah membangunkanmu"
Marvin tersenyum kecil, lalu bangun dari tidurnya. Marvin menarik tubuh ramping Brianna ke atas pangkuannya. Pria itu memeluknya dengan posisi, mengambil nafas di ceruk leher Brianna.
"Kak.."
Brianna menurut, lagipula gadis itu merasa nyaman dengan pelukan Marvin, terasa begitu hangat.
"Kau baik-baik saja?"
"Umm? Memangnya aku kenapa?"
"Semalam aku menemukanmu tertidur di bangku taman, kau menangis kan, disana?" Marvin menatap Brianna lekat, wajah gadisnya berubah murung.
"Maaf sudah membuatmu khawatir" jawab Brianna menyesal.
"Tolong jangan dengarkan perkataan orang-orang itu, termasuk Steffy. Aku sudah memberinya peringatan untuk tidak mengganggumu lagi".
"Maaf"
Brianna menatap Marvin dengan bola matanya yang berkaca-kaca "Aku sudah mempermalukan kakak dengan statusku" nada bicara Brianna terdengar bergetar.
"Heyy kenapa kau meminta maaf, kau tidak salah apapun. Justru gadis itu yang harus meminta maaf padamu. Dia yang sudah mempermalukanmu"
"Tidak, Steffy benar. Aku adalah anak seorang pelayan, dan tidak seharusnya aku menjalin hubungan dengan Tuannya".
"Itu dulu, ibumu bukan lagi pelayan ku, aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri dan kau adalah kekasihku. Jadi berhenti merendahkan dirimu sendiri" Marvin mengusap kepala Brianna penuh sayang. Perlakuan manis Marvin berhasil membuat air mata Brianna jatuh.
"Terima kasih kak" Brianna memeluk tubuh Marvin dengan erat. Membenamkan wajahnya di ceruk leher Marvin, lalu menangis di sana. Marvin membalas pelukan tersebut tak kalah erat sambil mengelus punggung Brianna menenangkan.
"Lupakan kejadian semalam, hari ini kita harus bersenang-senang. Aku tidak ingin liburan kita hancur"
Brianna melepas pelukannya, dengan sigap Marvin menghapus air mata Brianna. Bibirnya tersenyum hangat lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir gadisnya. Brianna mengerjap beberapa kali hingga pipinya tersipu dengan senyuman malu-malu.
Marvin terkekeh melihatnya, ia menarik tengkuk gadis itu lalu mendaratkan ciuman yang lebih intens. Brianna refleks memejamkan matanya saat lidah Marvin membelai bibirnya begitu lembut. Tangannya meremas pundak Marvin, syukurlah saat ini ia sedang duduk di pangkuan Marvin, jika tidak mungkin tubuhnya sudah jatuh ke lantai merasakan sensasi ciuman pria itu.
Marvin melepas ciumannya dengan senyuman manis terpatri di bibirnya. Ibu jarinya mengusap bibir Brianna yang basah akibat ulahnya.
"Sudah lebih baik sekarang?"
Brianna mengangguk kecil sebagai jawaban, kepalanya tertunduk malu. Gadis itu turun dari pangkuan Marvin lalu berlari ke kamar mandi, Brianna tidak kuat karena jantungnya kini berdebar kencang. Mungkin karena efek ciuman manis Marvin hingga berimbas pada kinerja jantungnya. Bisa di bayangkan betapa panasnya muka Brianna saat ini. Brianna sungguh malu.