
Brianna berjalan menuju kelasnya dengan wajah murung, suasana hatinya memburuk akibat kejadian tadi. Di tambah lagi ia pasti akan bertemu dengan Steffy di kelasnya nanti. Ingin rasanya ia membolos, tapi Brianna tidak mau menyia-nyiakan waktu belajarnya hanya karena masalah ini.
Tapi jika suasana hatinya buruk seperti ini apa Brianna masih bisa belajar dengan baik?
Brianna sudah sampai di depan kelasnya. Di ambang pintu Brianna terdiam saat sebuah suara menyapa indera pendengarannya.
"Jadi kau berhasil membuat mereka bertengkar?"
"Ya, aku melihatnya menangis saat Marvin menolongku. Aku sengaja menyuruh orang untuk menabraknya, dan saat itu aku datang menolong Marvin dan pura-pura terjatuh. Kebetulan sekali gadis bodoh itu melihatnya, dia terlihat sangat cemburu"
"Bakat akting mu luar biasa Steffy, Marvin sama sekali tidak tahu sandiwaramu itu. Aku rasa sebentar lagi hubungan mereka akan berakhir"
"Dan aku akan menjadikan Marvin Xavier milikku"
Brianna tidak menyangka rupanya Steffy sengaja mendekati Marvin untuk menghancurkan hubungan mereka, bahkan dengan cara membahayakan nyawa Marvin. Sejauh ini ia tidak pernah mencari masalah dengan Steffy, tapi kenapa gadis itu selalu mengusiknya. Bahkan sekarang Steffy ingin merebut Marvin darinya.
"Liat saja nanti sebentar lagi Marvin akan berpaling padaku"
Brakkk!!!
Brianna membuka pintu kelasnya dengan kasar. Ia tidak tahan lagi mendengar rencana busuk Steffy. Dadanya terlihat naik turun, sorot matanya begitu tajam menatap Steffy.
Steffy terkejut melihat kedatangan Brianna, namun detik berikutnya gadis itu tersenyum sinis.
"Jadi itu semua rencanamu? Kau ingin merebut Marvin kakak dariku?!" Brianna terlihat tidak terima. Sekarang ia dan Steffy menjadi pusat perhatian teman sekelas mereka.
"Hmm sepertinya kau sudah mendengar semuanya". Jawab Steffy santai.
"Kenapa kau tega melakukan itu? Sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kau selalu mengusik hidupku Steffy!"
Steffy terkekeh pelan lalu berjalan mendekati Brianna dengan tatapannya yang angkuh.
"Salahmu adalah kau terlalu beruntung bersanding dengan Marvin Xavier. Dia pria yang sangat terhormat, jadi sudah sepantasnya dia mendapatkan pasangan yang terhormat juga. Bukan gadis rendahan sepertimu!"
Brianna mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, ia menahan diri untuk tidak mencakar wajah licik wanita di depannya. Walaupun Brianna dikenal gadis yang polos dan lugu, ia akan berubah menjadi menyeramkan jika sudah marah. Tapi untung saja ia bisa mengendalikan emosinya.
"Seharusnya kau sadar diri Brianna Carissa, siapa dirimu dan siapa Marvin Xavier. Kalian terlihat seperti langit dan bumi, kau hanya akan menjadi benalu untuk Marvin Xavier!"
Orang-orang mulai berbisik mendengar perkataan Steffy, gadis itu menyeringai puas melihat respon teman-temannya yang terlihat penasaran.
"Ah teman-teman biar ku perjelas, gadis pelayan ini memacari majikannya yang bernama Marvin Xavier. Pria kaya raya yang sangat sukses".
"Wahh pantas saja kau selalu memakai barang-barang mahal. Itu pemberian majikan mu?" Celetuk salah satu murid.
"Ya tentu saja, mana mampu gadis miskin sepertinya membeli barang-barang mewah"
Steffy tersenyum menyeringai mendengar ocehan teman sekelasnya. Hati Brianna sakit mendengar ucapan teman-temannya.
"Kau pasti menggoda Marvin Xavier kan hingga mau menjadi kekasihmu? Ah apa jangan-jangan kau sudah memberikan tubuhmu pada majikanmu itu?"
Sebuah tamparan berhasil mendarat dengan manis di pipi Steffy, gadis licik itu terkejut bukan main. Begitupun dengan teman-temannya yang lain. Sejauh ini belum ada orang yang berani melawan Steffy, hanya Brianna yang berani melakukannya sekarang.
Gadis lugu dan polos itu berani menampar sosok Steffy Hwang.
"Brengsek! Berani-beraninya kau!" Steffy mendorong tubuh Brianna hingga punggungnya menabrak papan tulis. Teriakan heboh langsung terdengar memenuhi kelas. Pertanda peperangan akan segera di mulai.
"Kau pantas mendapatkannya"
"Sialan!" Steffy langsung menarik rambut Brianna dengan kuat hingga gadis itu berteriak. Brianna tidak tinggal diam, ia melawan Steffy dengan ikut menarik rambut panjang gadis itu.
Kini terjadilah saling jambak menjambak. Perkelahian itu tidak bisa dikendalikan. Bukannya melerai teman-teman mereka justru saling bersorak memprovokasi.
"Apa yang kalian lakukan!!" Ryan datang di waktu yang tepat dan langsung memisahkan mereka berdua. Nina yang baru saja datang juga terkejut melihat perkelahian antara Brianna dan Steffy.
Ryan berhasil menghentikan perkelahian tersebut di bantu oleh Nina. Brianna dan Steffy saling melemparkan tatapan tajam dengan nafas sama-sama memburu.
"Sekarang semua orang sudah tahu, kau tidak jauh berbeda dari seorang ******!" Sinis Steffy.
"Steffy jaga ucapan mu!" Ryan turut membela Brianna, pria itu tidak terima mendengar hinaan dari mulut Steffy. Walaupun ia tidak tahu awal permasalahannya.
"Terserah kau mau menilai ku seperti apa, yang jelas aku tidak pernah sekalipun menggoda Marvin. Kau tidak tahu apa-apa Steffy. Kau hanya orang asing yang mencoba mengusik kehidupan kami. Bukankah kau sendiri yang menggoda Kak Marvin dan berniat menghancurkan hubunganku dengannya. Jadi siapa yang lebih pantas disebut ****** di antara kita?"
Steffy bungkam, gadis itu tidak mampu menjawab. Tangannya terkepal kuat mendengar ucapan Brianna.
Kini Brianna tidak bisa diam saja ketika ada orang merendahkannya. Brianna ingat dengan perkataan Marvin, bahwa ia tidak boleh bersikap lemah. Brianna berhak melawan untuk membela dirinya sendiri.
Brianna mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Brianna berjalan meninggalkan kelas, ia tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini dengan kondisi yang seperti ini. Jadi Brianna memutuskan untuk pergi menenangkan diri di perpustakaan.
"Brianna kau baik-baik saja?" Nina mengikuti Brianna begitu gadis itu keluar dari kelas.
"Nina tolong tinggalkan aku sendiri"
Brianna benar-benar tidak ingin di ganggu untuk saat ini, ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
Syukurlah Nina mengerti, gadis itu membiarkan Brianna pergi.
Brianna menatap pantulan dirinya di depan cermin. Kini ia sedang berada di toilet. Brianna menyentuh pipi kanannya yang terdapat goresan luka kecil. Itu adalah bekas cakaran tangan Steffy saat pertengkaran tadi.
Brianna sedikit meringis ketika menyentuhnya, ia membasuh wajahnya secara perlahan dan tanpa ia sadari air matanya mulai merembes membasahi wajahnya, Brianna menangis.
Kata-kata menyakitkan temannya kembali menghantui pikiran Brianna, lagi-lagi ia dipermalukan di depan banyak orang. Rasanya Brianna tidak kuat berada di sekolah tersebut, ingin rasanya ia berhenti tapi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan belajar ini secara cuma-cuma. Marvin sudah berbaik hati mau membiayai sekolahnya yang tidak murah ini.
Sekarang Brianna menyesal karena tidak mendengar penjelasan dari Marvin. Secara tidak langsung ia sudah menuduh Marvin berselingkuh, ia merasa bersalah pada Marvin.
"Maafkan aku, kak"