
Marvin mencium Brianna dengan begitu lembut dan hati-hati. Awalnya hanya kecupan-kecupan biasa, namun perlahan-lahan kecupan itu berubah menjadi menjadi *******-******* kecil.
Brianna kembali mencengkram piyama yang dikenakan Marvin, matanya terpejam seiring ciuman Marvin yang semakin dalam dan menuntut.
Apa ini yang dimaksud Marvin tadi? Berhenti jika tidak nyaman? Sialnya Brianna sangat nyaman dan menikmatinya, sepertinya kadar kepolosan Brianna mulai berkurang setelah beberapa kali berciuman dengan Marvin.
Perlahan Brianna membalas ciuman Marvin, terkesan malu-malu memang tapi itu berhasil membuat Marvin senang. Tanpa sadar Brianna melepas cengkramannya, tangannya bergerak mengelus dada Marvin merambat naik ke leher Marvin. Mengalungkan tangannya di sana.
Sial!
Marvin menggeram dalam hati, tangan Brianna yang mengelus dadanya benar-benar nyaris menghilangkan kewarasannya. Marvin semakin gencar memperdalam ciumannya, lidah mereka saling membelit, menghisap satu sama lain. Brianna sudah mulai bisa mengimbangi ciuman Marvin yang dalam dan panas.
Tangan mungilnya merambat mengelus rambut Marvin lalu meremasnya, membuat ciuman mereka semakin liar. Ini ciuman terlama yang pernah mereka lakukan.
Jangan salahkan Marvin jika pria itu tidak mau berhenti, Brianna benar-benar memancing gairahnya. Dan ia tidak akan menyesal jika mereka benar-benar melakukannya sekarang.
Tangan Marvin tidak tinggal diam, tangan sebelah kanannya mulai bereaksi menyentuh pundak Brianna yang terbuka, lalu turun mengelus perut Brianna.
Brianna menggeliat begitu merasakan telapak tangan Marvin mengelus kulit perutnya, seperti ada sengatan listrik yang menghentikan aliran darahnya. Tubuh Brianna terasa terbakar, tangannya semakin erat meremas rambut Marvin.
Tangan Marvin kembali bekerja, dielusnya dada Brianna yang masih tertutup piyama yang memiliki warna senada dengan piyama Marvin. Marvin mengelusnya dengan perlahan membuat Brianna kembali merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Brianna mendesah untuk pertama kalinya hingga pagutan bibir mereka terlepas. Gadis itu memang sedari tadi menahannya. Marvin memijat dadanya secara perlahan gadis itu cukup terkejut dengan perbuatan tangan Marvin. Ini gila, Marvin membuatnya gila. Brianna menyukai sentuhan Marvin yang lembut, ia tidak pernah membayangkan akan senikmat ini.
Perlahan Brianna mendorong dada Marvin, merasa pasokan udara mereka mulai menipis. Brianna terengah akibat aktivitas panas mereka, matanya masih terpejam sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Brianna perlahan membuka matanya, Marvin sama sekali belum beranjak dari tubuhnya. Pria itu menatapnya dengan begitu intens diiring deru nafas yang memburu. Bibir Brianna terlihat seksi setelah mereka berciuman, merah dan basah membuat Marvin lagi-lagi ingin menciumnya.
Brianna mengerjap beberapa saat, kemudian menggeleng malu-malu. Marvin mengulum senyumnya, dielusnya kening Brianna yang sedikit berkeringat. Astaga apa ciuman mereka sepanas itu hingga Brianna sampai berkeringat? Ini belum seberapa.
Pandangan Marvin turun ke dada Brianna, oh ini pertama kalinya Marvin menyentuhnya dan pria itu cukup puas, terasa pas di genggamannya. Tingkah Marvin berhasil membuat Brianna malu setengah mati. Refleks Brianna menutup dadanya dengan telapak tangan, dan entah sejak kapan kancing bagian atas nya terbuka? Apakah seperti ini kegiatan yang dilakukan oleh pengantin baru di hari pertama? Brianna mulai berpikir, namun hal itu tidak berlangsung lama karena sekarang ia merasakan kecupan hangat di keningnya.
"Tidak perlu ditutupi, suatu saat nanti aku bisa melakukan yang lebih dari itu" Marvin tersenyum menggoda membuat mata Brianna membelak.
Marvin menarik tubuh Brianna duduk, mengangkat nya untuk duduk di atas pangkuannya dengan saling berhadapan. Marvin menatap wajah cantik itu sejenak, menikmati wajah gadisnya yang sudah sangat merah.
Tangannya terulur merapihkan helaian rambut yang menutupi wajah gadisnya, istrinya terlihat cantik saat baru bangun tidur seperti ini. Bibirnya tersenyum melihat Brianna menatapnya dengan senyuman malu-malu, membuat Marvin semakin gemas.
Penampilan keduanya sudah sangat berantakan, rambut yang acak-acakan dan piyama yang kusut.
"Senang sekali akhirnya aku berhasil menikahimu" Marvin menatap Brianna begitu lekat, gadis itu tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Marvin.
Marvin kembali menciumnya, panas dan menggebu-gebu, seolah-olah ini adalah ciuman terakhirnya untuk Brianna. Tangan kekar Marvin melingkar manis di pinggang Brianna, menariknya hingga tumbuh mereka semakin merapat. Sedangkan tangan Brianna sudah memeluk leher Marvin.
Bunyi decapan bibir keduanya memenuhi kamar mereka, saling ******* satu sama lain. Lidah Marvin melesak masuk ke rongga mulut Brianna mencari pasangannya di sana.
Mata gadis itu terpejam erat begitu ciuman Marvin turun ke lehernya, memberi tanda kepemilikannya di sana hingga ia tidak sadar sudah mencengkram pundak Marvin. Tangan Marvin kembali bekerja, dielusnya punggung Brianna lembut membuat tubuh Brianna semakin meremang.
Tangan Marvin berpindah mengelus pinggang Brianna lalu naik melepas satu persatu kancing piyama Brianna. Hingga menampilkan bra hitam yang dikenakan gadisnya.
Brianna nyaris menjerit saat tangan besar Marvin meremas dadanya kembali. Marvin sangat puas mendengar nya. Suara Brianna terdengar indah di telinganya. Marvin menarik tengkuk Brianna lalu memagut bibir mungil itu kembali. Brianna menggelinjang di atas tubuh Marvin merasakan setiap sentuhan Marvin. Gadis itu juga merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh organ kewanitaannya. Tentu saja itu bentuk gairah Marvin yang sudah terbangun. Pria itu ingin melakukan lebih dan Brianna pun seperti ingin merasakan sentuhan Marvin lebih dari ini.