
Usai sarapan mereka semua berkumpul di ruang tengah. Ada sesuatu yang ingin Livy bicarakan mengenai rencana Marvin yang ingin mengajak Brianna pergi Honeymoon.
"Bagaimana kalau Paris?" Saran Livy, sambil melihat beberapa brosur paket Honey moon di tangannya.
"Maldives sepertinya lebih menyenangkan, banyak pemandangan indah di sana" Jawab Marvin.
"Umm Brianna kau suka pantai?" Tanya Livy. Brianna merespon dengan anggukan semangat, terakhir ia pergi ke pantai saat ia menemani Marvin ke pesta paman Steffy. Brianna jadi rindu bermain pasir"
"Baiklah kita Honeymoon ke Maldives saja oke?"
"Aku ikut kakak saja". Brianna memilih mengikuti pilihan suaminya, lagipula ia tidak mengerti seluruh destinasi yang ada di brosur tersebut, apalagi di luar negeri.
"Apa itu tandanya kita akan naik pesawat?" Tanya Brianna, ekspresi wajahnya berubah jadi ragu.
"Tentu saja sayang, kenapa? Kau takut naik pesawat hmm?" Marvin mengelus pucuk kepala Brianna, gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Marvin.
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja". Timpal Livy dengan senyuman menenangkan.
"Mama benar tidak ada yang perlu dikhawatirkan sayang. Lagipula kita akan menaiki jet pribadiku, semuanya pasti aman terkendali".
"Apa mama juga ikut?" Yasmine yang baru bergabung sambil meletakkan beberapa cemilan di meja langsung terkekeh.
"Ini bulan madu untuk pengantin baru, mana mungkin mama ikut sayang".
Wajah Brianna seketika murung, ia pikir ini adalah rekreasi keluarga.
"Kita akan akan bersenang-senang di sana, hanya berdua" bisik Marvin pelan. Brianna menoleh menatap Marvin, lalu satu kecupan mendarat di bibir mungilnya. Seketika wajah Brianna merona sambil mengulum senyumnya.
#
Maldives atau Maldewa adalah destinasi terkenal dengan keindahan pulau dengan pantainya yang sangat menawan. Banyak pulau-pulau cantik yang menjadi andalan Maldives dan digemari para wisatawan. Suasananya yang masih asri membuat siapa saja yang berlibur ke sana pasti akan merasa betah.
Pulau Cocoa memiliki pantai yang begitu eksotis dengan pasir putih yang membentang dan debur ombak yang tidak terlalu besar menjadi kesukaan para wisatawan.
Setelah melakukan perjalanan udara yang lumayan panjang, akhirnya Marvin dan Brianna sampai di Pulau Cocoa. Sesuai dengan apa yang di harapkan Marvin, Gadis itu tidak henti-hentinya mengagumi pulau tersebut yang luar biasa indah.
Marvin dan Brianna tiba di pulau Maldives beberapa jam yang lalu. Setelah istirahat selama 3 jam, Brianna langsung merengek ingin jalan-jalan. Gadis itu tidak sabar menyentuh air pantai yang menjadi pemandangan hotel tempat mereka menginap.
"Kak lihat, sunset nya indah sekali" Brianna berlari ke arah bibir pantai dengan kaki telanjangnya mendekati deburan ombak yang tidak terlalu besar. Mata Brianna berbinar senang ketika matahari mulai tenggelam di ujungĀ barat. Warna jingga berpencar menghiasi pantai tersebut, terlihat mengagumkan dan sayang untuk di lewatkan.
Marvin berjalan mendekati Brianna lalu memeluk istrinya dari belakang. Angin pantai berhembus dengan kencang membuat Marvin semakin merapatkan pelukannya demi menghangatkan si gadis.
Brianna terlihat cantik begitu wajahnya menerima pantulan cahaya sunset. Bibirnya melengkung ke atas menikmati pemandangan di depannya. Sedangkan Marvin justru tidak tertarik dengan sunset tersebut. Ia memilih menatap wajah gadisnya penuh damba sambil menopangkan dagunya di bahu Brianna, menurutnya Brianna jauh lebih indah dari pemandangan apapun.
Jantung Marvin berdebar begitu Brianna menatapnya, terutama saat melihat senyuman gadis itu. Wajah Marvin mendekat untuk mengecup sudut bibir Brianna membuat gadis itu merona.
Brianna menyentuh lengan Marvin yang melingkar di pinggangnya, mengusapnya dengan lembut. Terasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini.
"Aku mencintaimu Nyonya Xavier"
Marvin berbisik pelan, kemudian memutar tubuh Brianna hingga tubuh mereka berhadapan. Brianna melingkarkan tangannya di leher Marvin lalu wajah suaminya mendekat menggapai bibir Brianna.
Ciuman manis di temani pemandangan sunset benar-benar sangatlah tepat. Syukurlah pantai tersebut sepi, jadi mereka tidak sungkan untuk berciuman di tempat umum. Lampu-lampu hias di sekitar pantai pun mulai menyala membuat pantai Cocoa semakin indah.
"Kau bahagia?" Marvin melepaskan ciumannya kemudian menyatukan kening mereka. Nafas hangat mereka saling berbenturan membuat suasana semakin intim.
"Tentu, aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya" jawab Brianna dengan pipi merona. Senyuman cantiknya kembali mengembang.
Marvin puas mendengarnya, di tariknya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengecupi pucuk kepala Brianna penuh sayang. Brianna membalas pelukan Marvin dengan hangat. Marvin bersumpah tidak akan ada air mata kesedihan dalam keluarganya. Kebahagiaan Brianna adalah prioritasnya.