My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Hukuman Apa Yang Pantas?



Suara gemuruh hujan terlihat mengguyur suatu pedesaan, orang-orang terlihat berlarian memasuki rumah mereka untuk berlindung. Cuaca terlihat begitu ekstream kala itu, sehingga para penghuni desa tersebut harus berhati-hati jika ingin beraktifitas di luar rumah.


"Hiks mama papa"


Seorang gadis kecil terlihat menangis kebingungan, wajahnya terlihat linglung saat orang-orang pergi memasuki rumah mereka. Sedangkan dirinya hanya terdiam di bawah pohon maple seorang diri dengan tubuh basah kuyup.


Gadis kecil itu tidak tahu harus pergi kemana, ia lupa jalan pulang karena baru beberapa hari ini dia tinggal di desa tersebut. Ketika ia pergi bermain dengan teman-teman barunya, mereka semua pergi meninggalkan gadis itu sendirian begitu hujan turun.


"mama... dingin hiks" kaki gadis kecil itu mulai melangkah mencari rumahnya, dan berMiap sang mama mencarinya. Tubuhnya terlihat menggigil karena terlalu lama berdiri di bawah hujan.


"Brianna!!!"


Seseorang tiba-tiba memanggilnya, gadis itu mendongak mencari sumber suara dan ternyata ada seorang pria berlari menghampirinya.


"Paman Felix!!!"


"Ya Tuhan, kau dari mana saja nak? mamamu sedari tadi mencarimu" pria setengah baya itu segera memberikan payung pada Brianna, wajahnya terlihat khawatir melihat anak dari tetangganya ini kedinginan.


"Hikss aku lupa jalan pulang paman"


"Yasudah kita pulang bersama, sttt Brianna jangan menangis lagi" pria tersebut langsung membawa Brianna dalam gendongannya.


Brianna terlihat tersenyum kecil, ia merasa bahagia mendapat perhatian dari tetangganya tersebut. Pria yang ia panggil paman itu begitu mirip dengan mendiang ayahnya. Pria itu bernama Felix, tetangganya yang begitu baik hati dan selalu memperlakukan Brianna seperti anaknya sendiri.


Hujan turun semakin deras, Brianna memeluk leher Felix untuk menghilangkan rasa takutnya. Tidak hanya hujan, angin pun turut melengkapi cuaca buruk hari ini.


Felix semakin mempercepat langkahnya, cuaca hari ini benar-benar bisa membahayakan nyawa. Ada banyak pohon di sekitar mereka, pohon-pohon itu bisa saja tumbang melihat angin yang berhembus begitu kencang.


"Paman, Brianna takut" cicit Brianna pelan.


"Sebentar lagi kita sampai nak"


"Paman Awas!!!"


Brakkkh!!!!


Tiba-tiba saja ada sebuah pohon yang tumbang ke arah mereka, dengan sigap Felix melindungi tubuh kecil Brianna namun naas pohon tersebut justru menimpa tubuhnya tanpa bisa di hindari.


"Pamaaaaan!!!"


*


Isak tangis terdengar memilukkan mengiringi pemakaman Felix. Pria itu pergi meninggalkan istri dan juga putri semata wayangnya. Keduanya begitu terpukul melihat kepergian Felix yang begitu cepat. Kejadian naas itu berhasil merenggut nyawa Felix, pria itu rela kehilangan nyawanya demi menyelamatkan Brianna.


"Ini semua salah Brianna mama" Brianna kecil memeluk tubuh mamanya dengan erat, Brianna turut mengantarkan Felix ke peristirahatan terakhirnya. Tidak bisa di pungkiri gadis kecil itu begitu terpukul melihat kematian Felix, terlebih pria yang ia anggap sebagai ayahnya itu meninggal karena melindungi dirinya.


"Tidak sayang, ini semua kuasa Tuhan bukan salahmu"


"Hikss seharusnya paman Felix tidak menyelamatkan Brianna" Brianna terisak dari pelukan mamanya. Sang mama membalas pelukan putrinya dengan erat, tak bisa dipungkiri Yasmine pun merasa bersalah terhadap Felix maupun keluarganya. Namun ia pun tidak bisa menyalahkan Brianna atas kematian Felix, Brianna hanya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak sepantasnya disalahkan. Karena ini bukanlah keinginan Brianna.


"Ini semua gara-gara kau Brianna Carissa!!! Kau pembunuh!"


Seorang gadis berjalan menghampiri Brianna, usianya lebih tua dari Brianna. Dia adalah Samantha, putri dari Felix. Gadis itu terlihat begitu marah, setelah mengetahui penyebab ayahnya meninggal.


"Maafkan aku kak hiks"


"Percuma kau meminta maaf! Maafmu tidak akan pernah bisa mengembalikan ayahku!!!"


"Hiks maafkan aku"


"Jika saja ayahku tidak menyelamatkanmu, ayahku tidak mungkin meninggal!!!"


"Dasar pembawa sial!!"


"Kau pembunuh!!!"


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Aku membencimu!!"


"Dasar pembunuh!!!"


***


Brianna terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu, keringat sudah membasahi wajahnya begitu mimpi buruk itu datang.


Mimpi tersebut terasa begitu nyata bagi Brianna, dan seperti pernah mengalaminya tapi entah kapan kejadiannya. Di dalam mimpi tersebut ia bisa melihat Samantha yang begitu membencinya.


Ayah Samantha memang sudah lama meninggal, dan kejadian itu memang benar adanya. Namun sepertinya Brianna sudah lupa dengan kejadian naas itu karena usia Brianna masih 10 tahun kala itu.


Dan mimpi tersebut sepertinya menyadarkan Brianna, mimpi itu hadir seolah-seolah memberitahunya bahwa inilah alasan Samantha membenci Brianna.


Brianna menatap sekitar kamarnya dengan ekspresi linglung. Tunggu, ia merasa tidak sedang berada di paviliun melainkan...


"Astaga!!!"


Brianna tersadar ia tidak tidur di kamarnya, melainkan kamar Marvin.


"Kenapa aku disini?"


Brianna buru-buru bangun dengan wajah panik melupakan sejenak mimpi tersebut, biarlah nanti ia tanyakan langsung pada mamanya, di tendangnya selimut milik Marvin lalu merapihkan ranjang Marvin dengan cepat. Ah sepertinya ia harus mengganti bed covernya, mengingat ia sudah lancang tidur di ranjang Marvin.


Otaknya terus bertanya-tanya kenapa ia bisa tidur di kamar majikannya? Seingatnya kemarin ia berada di ruang kerja Marvin sambil membaca komik dan tertidur mungkin.


"Apa Tuan Marvin yang memindahkan aku ke kamarnya?"


Brianna menepis pikiran tersebut, rasanya ia tidak percaya Marvin melakukan itu. Apa mungkin ia tidur sambil berjalan?


"Aishhh ini melakukan, Tuan Marvin pasti marah"


Setelah semuanya sudah selesai Brianna segera keluar dari kamar Marvin, ia tidak tahu dimana Marvin sekarang. Brianna harus bertemu dengan Marvin untuk meminta maaf atas kelancangannya.


"kakak!!"


Brianna bertemu Mia di ujung tangga, wanita itu sepertinya habis dari dapur.


"Brianna kau baru bangun?"


Mia melihat penampilan Brianna dari ujung kepala hingga kaki, penampilan Brianna benar-benar berantakan khas orang bangun tidur.


"kakak melihat Tuan Marvin?"


"Ah Tuan Marvin ada di ruang makan, beliau sedang sarapan. Ada ap..." Belum sempat Mia menyelesaikan ucapannya, Brianna sudah buru-buru pergi.


#


Sementara itu Marvin memang sedang menikmati sarapannya, penampilannya terlihat berbeda hari ini. Kali ini Marvin memakai setelan pakaian olahraga karena ini adalah hari minggu Marvin berencana untuk pergi berolahraga.


"Tuan Marvin"


Brianna menghampiri Marvin lalu membungkuk minta maaf. Jantungnya berdebar kencang saat Marvin menatapnya, ia takut Marvin akan marah dan memecatnya.


"Tuan maafkan saya, saya sudah lancang tidur di kamar Tuan dan bangun terlambat. Saya benar-benar minta maaf Tuan"


Marvin mengulum senyumnya melihat ekspresi ketakutan Brianna, apalagi penampilan gadisnya saat ini benar-benar berantakan.


Brianna tak berani menatap Marvin lagi, kepalanya terus menunduk saat Marvin hanya diam memperhatikannya.


"Jadi hukuman apa yang pantas agar kau tidak bangun terlambat lagi? Bukankah ini sudah kedua kalinya kau terlambat?"


Brianna hanya diam, bibirnya mendadak kelu saat mendengar kata 'hukuman'. Ia siap menerima hukuman apapun asal jangan sampai dipecat. Ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini agar bisa mengumpulkan biaya sekolahnya nanti.


"Baiklah hukumannya akan aku pikirkan nanti, sekarang ganti pakaianmu dan temani aku berolahraga"


"Apa? Berolahraga?"


"Ku beri waktu 10 menit, aku tunggu di depan"


"Ah satu lagi, tidak usah memakai seragam maid cukup pakaian santai saja"


Marvin beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan Brianna sendiri.


"Aishhh kalau tau begitu aku tidak akan mandi"


Brianna dengan cepat berlari ke paviliun, ia segera membasuh wajah dan menyikat giginya, tidak ada lagi waktu untuk mandi. Marvin sedang menunggunya sekarang, ia tidak ingin terlambat lagi dan menambah beban hukumannya.