
Livy kembali terkekeh melihat ekspresi Yasmine. Hey ini bukanlah drama yang sering tayang di televisi. Dirinya tidak sejahat itu yang tega menghancurkan kebahagiaan anaknya hanya karena menjalin hubungan dengan seorang maid.
"Apa kau berpikir aku menentang hubungan mereka? Jika benar, segera singkirkan spekulasi itu, aku tidak sejahat itu Yasmine".
Yasmine mendongak menatap Livy, senyuman tulus tercetak jelas di wajah Livy. Sungguh Yasmine merasa tidak percaya dengan semua ini. Apa itu tandanya Livy merestui hubungan Marvin dan putrinya?
"Aku tahu semua yang terjadi di rumah ini, termasuk ketertarikan putraku pada putrimu. James melaporkan semuanya padaku"
"8 tahun yang lalu mereka bertemu untuk pertama kalinya. Apa kau sudah tau soal itu?"
"A..apa 8 tahun yang lalu?" Yasmine lagi lagi terkejut, ia benar benar tidak tahu soal itu. Astaga kenapa Brianna tidak mengatakannya, batin Yasmine.
"Bagaimana bisa Nyonya? Saya benar benar tidak tahu".
Livy mulai menceritakan semuanya pada Yasmine. Bagaimana awal mereka bertemu hingga kegigihan Marvin mencari Brianna. Walaupun dirinya tidak tinggal serumah dengan Marvin, Livy tidak pernah lengah memantau kehidupan putranya. Marvin adalah putra satu-satunya yang ia miliki, jadi wajar saja ia begitu menyayangi putra semata wayangnya itu. Walaupun terkadang perhatian Livy terlalu berlebihan dan sering kali memicu perdebatan.
"Pesona putrimu sangat luar biasa, Marvin bahkan menolak semua wanita yang ingin aku jodohkan dengannya"
"Bagaimana bisa Tuan muda mengingat wajah putriku selama itu? Padahal mereka baru bertemu satu kali Nyonya"
"Itulah kekuatan cinta, jangankan mengingat wajah, ratusan rumusan matematika pun Marvin bisa mengingatnya dengan mudah. Putraku sangat jenius".
Yasmine mengangguk mengerti, ia sungguh tidak menyangka dengan semua ini. Terselip rasa bersalah saat mengingat ucapannya pada Brianna beberapa waktu lalu, jahat sekali jika ia meminta Brianna berpisah dengan Marvin. Pria itu sudah menunggu putrinya selama itu. Dan kenapa pula Brianna tidak mengatakan yang sejujurnya.
"Sekarang aku merasa lega akhirnya Marvin bertemu dengan Brianna. Aku tidak perlu berdebat lagi masalah perjodohan. Karena ia sudah mendapatkan kebahagiaannya". sambung Livy. Wanita itu terlihat begitu yakin bahwa Brianna adalah wanita yang tepat bagi Marvin.
"Oh kau mendengar pembicaraanku kemarin ya?"
"Maaf Nyonya"
'Soal itu aku hanya bercanda. Aku ingin mengetes sejauh mana keseriusan Marvin pada putrimu. Kau pasti sudah melihat reaksinya kan? Marvin benar-benar cinta mati" Livy tertawa jenaka, membuat Yasmine merasa lega. Terselip rasa bangga di hatinya.
"Putriku, kau luar biasa" batinnya.
"Sekarang kau sudah tahu semuanya kan? Aku harap kau juga merestui hubungan mereka" Livy menatap Yasmine penuh harap, tawanya berubah menjadi senyuman yang begitu tulus.
"Nyonya, sebenarnya saya merasa ragu. Tuan Marvin adalah pria terhormat, pengusaha muda yang begitu disegani. Sedangkan putriku hanya gadis biasa yang memiliki ibu seorang maid. Saya rasa..."
"Aku tidak peduli kasta seseorang. Jangan merendah seperti itu, semua orang sama di mata Tuhan. Dengar Yasmine, walaupun aku belum mengenal putrimu dengan baik, aku yakin dia wanita yang tepat untuk putraku. Apa kau tega merusak kebahagiaan anakmu sendiri?"
Yasmine menggeleng dengan cepat, tentu saja kebahagiaan putrinya yang paling utama. Ia merasa terenyuh dengan ucapan Livy. Wanita itu tidak seburuk apa yang dipikirkannya.
"Kita harus bekerjasama untuk kebahagiaan anak kita. Mulai sekarang kita adalah besan, bukan kah itu terdengar bagus?" Livy tampak tersenyum sumeringah, membuat Yasmine turut tersenyum.
Obrolan mereka terus berlanjut, sikap Livy yang terbuka membuat Yasmine nyaman. Mereka semakin akrab, tidak ada lagi kecanggungan. Walaupun Livy lebih mendominasi obrolan mereka, Yasmine tetap menanggapinya dengan senang hati walaupun dengan seutas senyuman.
Flashback End