My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Emosi Marvin



Brianna sudah menemukan beberapa buku yang ia sukai untuk dibaca. Ia membawa sekitar 4 buku di tangannya lalu duduk di salah satu kursi. Perpustakaan tersebut terlihat ramai namun tidak menimbulkan kebisingan sama sekali. Pengunjung di sana terlihat larut pada bukunya masing-masing.


"Sepertinya aku akan lebih sering ke sini" Brianna membuka suara.


"Kalau begitu aku siap menemanimu kapan pun" Ryan menjawab dengan senyuman tipisnya. Brianna mengerutkan alisnya, gadis itu merasa heran dengan sikap Ryan. Hari ini pria itu lebih banyak tersenyum dan bersikap sangat baik padanya. Apa kepala Ryan terbentur sesuatu?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Ryan.


"Tidak, sikapmu terlihat berbeda akhir-akhir ini".


"Berbeda apanya?"


"Entahlah, mungkin perasaanku saja" Brianna mulai membuka salah satu bukunya. Keadaan pun berubah menjadi hening, keduanya tenggelam pada buku bacaannya masing-masing.


Ah tidak, sepertinya hanya Brianna saja yang fokus pada bukunya. Karena Ryan lebih memilih memperhatikan wajah cantik Brianna.


Jantungnya kembali berdebar melihat paras gadis di depannya itu. Bibirnya tidak lelah untuk tersenyum.


"Tidak lama lagi, aku akan menjadikanmu milikku"


"ASTAGA!!!"


Ryan terkesiap saat Brianna tiba-tiba menutup bukunya sambil berteriak. Bahkan pengunjung yang lain pun terganggu dengan teriakan Brianna.


"Ada apa?"


"Ya Tuhan, aku lupa menghubungi kak Marvin" Brianna mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Begitu ponselnya menyala, banyak notif pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk. Siapa lagi kalau bukan dari Marvin Xavier.


"Bodoh kenapa kau bisa lupa Brianna Carissa" batin Brianna panik.


Brianna memutuskan untuk menghubungi Marvin akan tetapi Marvin sudah lebih dulu menelfonnya.


"Hallo, kak?"


"Dimana kau sekarang?"


Brianna menelan ludahnya gugup begitu mendengar suara dingin Marvin di seberang sana. Pria itu pasti marah karena tidak mendapatinya di sekolah, Marvin pasti menjemputnya ke sekolah.


"A..aku sedang ada di perpustakaan kota"


"Dengan siapa?"


Brianna lantas menatap Ryan yang kebetulan duduk di hadapannya. Rasanya tidak mungkin ia mengatakan jika Ryan pergi bersamanya.


"Ka..Kakak maaf aku lupa memberitahumu, aku..."


"Aku tanya dengan siapa kau di sana?!" Ada emosi yang tertahan, Marvin sepertinya menahan nada bicaranya untuk tidak membentak Brianna.


"A..aku pergi bersama Nina"


"Ya Tuhan Kakak maaf aku berbohong"


"Bagus, kau mulai berbohong rupanya".


DEG!


Pandangan Brianna beralih ke sekitar, siapa tau salah satu pengunjung di sana ada Marvin Xavier atau mata-mata suruhan pria itu.


"Mati kau Brianna Carissa"


"Brianna ada apa?" Tanya Ryan, tentu saja Marvin bisa mendengarnya. Ini seperti boomerang, bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Marvin saat ini.


"Ka..Kakak aku akan pulang sek..."


Tut tut tut!


Marvin sudah memutuskan panggilannya. Brianna panik bukan main, jelas sekali jika kekasihnya itu marah.


Brianna segera merapihkan buku-bukunya. Ia harus segera pulang dan meminta James untuk menjemputnya. "Ryan, aku harus pulang sekarang"


"Kita baru setengah jam di sini Brianna".


"Maaf tapi aku harus pulang, Kak Marvin mencariku".


Brianna berbalik untuk menyimpan kembali buku-buku yang ia pinjam tadi diikuti Ryan di belakangnya.


"Aku akan mengantarmu pulang"


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri Ryan" Brianna berjalan cepat menuju pintu keluar, saking buru-buru nya kaki Brianna tersandung dengan kakinya sendiri.


"Awas!"


Untung saja Ryan menyusul di belakangnya, pria itu menahan tubuh Brianna yang nyaris tersungkur mencium lantai.


"Kenapa buru-buru sekali hah, perhatikan jalanmu. Bagaimana jika kau terjatuh"


"Terima kasih" ucap Brianna pelan. Ia mendongak menatap ke depan. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati orang yang membuatnya panik setengah mati kini berdiri di hadapannya.


Tatapannya begitu dingin dan tajam, wajahnya merah padam menahan emosi melihat pemandangan di depannya.


"Ka..kak Marvin?"


Brianna segera melepaskan diri dari Ryan yang masih menahan tubuhnya. Marvin akan salah paham.


"Jadi ini yang kau sebut Nina? Sejak kapan sahabatmu itu berubah jadi laki-laki hah?"


"Kakak, aku bisa jelaskan" Brianna menghampiri Marvin dengan cepat.


Marvin beralih menatap Ryan dengan tatapan penuh kebencian, sungguh rasanya ia ingin melayangkan bogem mentah pada wajah Ryan. Marvin maju satu langkah dengan tangan terkepal kuat, dengan sigap Brianna menahan tangan Marvin.


"Kakak, maafkan aku"


Marvin kembali menatap Brianna, sorot matanya tidak juga berubah "Aku sudah memperingatimu untuk tidak berdekatan dengannya" desis Marvin pelan. Nafasnya terdengar memburu membuat nyali Brianna menciut, mata Brianna terlihat berkaca-kaca. Gadis itu ketakutan.


"Maaf"


Marvin dengan cepat menarik tangan Brianna, membawa gadisnya masuk ke dalam mobil. Brianna bisa merasakan emosi Marvin di dalam cengkraman tangannya.