
Selama Brianna absen dari pekerjaannya, kini keperluan Marvin harus diurus oleh pelayan lain, termasuk sarapan pria itu.
Samantha tampak tersenyum lebar setelah mendapatkan pekerjaannya kembali, yaitu mengantarkan sarapan untuk Marvin.
Gadis itu mengeluarkan kaca kecil di dalam saku roknya, menata penampilannya agar terlihat menarik di depan Tuannya.
"Perfect!" Samantha tersenyum puas, lalu mengambil nampan berisi makanan untuk Marvin. Ia berharap setelah ini Marvin berubah pikiran untuk menjadikan Brianna sebagai maid pribadi dan memilihnya menjadi pengganti Brianna.
Tok tok tok
"Tuan sarapannya sudah siap"
"Masuk!"
Samantha bersorak dalam hati begitu Marvin mempersilahkannya masuk. Dengan penuh percaya diri Samantha memasuki kamar Marvin. Pria itu sudah siap dengan stelan kemeja putih, dengan dasi hitam mengalung di lehernya dalam kondisi tidak terpasang dengan baik. Marvin terlihat serius memainkan ponselnya, mengecek beberapa email yang masuk dari rekan kerjanya.
"Sarapannya Tuan" Samantha mencoba menarik perhatian Marvin dari benda kecil persegi panjang tersebut. Sepertinya Marvin tidak peduli dengan keberadaan Samantha.
"Taruh saja di meja" respon Marvin acuh.
Melihat respon Marvin yang seperti itu membuat Samantha kesal, namun gadis itu tidak menyerah dan memutar otaknya agar Marvin tidak mengabaikannya.
Marvin telah selesai dengan urusannya, ponsel tersebut ia masukkan ke dalam saku celana bahannya lalu beranjak menuju cermin hendak memasangkan dasinya.
Inilah kesempatan yang ingin Samantha ambil, gadis itu berjalan lebih dekat pada Marvin.
"Tuan?"
Marvin menghentikan langkahnya lalu menatap Samantha dengan alis berkerut.
"Emm ada yang bisa saya bantu? Atau Tuan memerlukan sesuatu?"
"Tidak, pekerjaanmu sudah selesai. Kau boleh keluar" jawab Marvin cuek dengan wajah datar. Rupanya penampilan Samantha hari ini sama sekali tidan menarik di mata Marvin, buktinya Marvin masih bersikap seperti biasanya, dingin!.
"Emm saya bisa membantu Tuan memasangkan dasi"
Suatu tindakan fatal telah dilakukan oleh Samantha, wanita itu dengan berani menyentuh lengan Marvin, dan pria itu menganggap itu sebuah kelancangan.
Marvin otomatis melemparkan tatapan intimidasinya, sadar dengan perbuatannya Samantha dengan segera menjauhkan tangannya.
"Ma..maaf Tuan"
"Lancang sekali kau menyentuh lenganku"
Aura hitam segera menguar ke seluruh penjuru ruangan. Samantha menelan ludahnya gugup melihat tatapan horor Marvin. Pria itu menepis tangannya dengan sangat marah.
"S..saya tidak sengaja Tuan"
"Sekeras apapun kau mencoba menarik perhatianku, itu tidak akan pernah berhasil. Semua itu hanya angan-anganmu saja pelayan Sam!" Sinis Marvin dengan senyuman menyeringai.
Ucapan Marvin berhasil menohok hati Samantha, rupanya Marvin sudah tahu gerak-gerik Samantha yang ingin menarik perhatiannya. Dan Marvin yakin wanita di hadapannya ini bukanlah wanita baik-baik, terlebih ia masih mengingat bagaimana sikap Samantha terhadap gadisnya, Brianna Carissa. Ada sorot tidak suka saat Samantha menatap gadisnya.
"Keluar kau sekarang, sebelum aku berpikir untuk memecatmu!"
"Ba..baik Tuan, sekali lagi saya mohon maaf. Permisi"
Samantha segera keluar dari kamar Marvin, membawa seluruh perkataan tajam Marvin yang berhasil menyakiti perasaannya. Benar-benar sial.
#
Brianna mulai bosan terus berdiam diri di paviliun selama 3 hari terakhir, tidak ada aktifitas lain yang ia lakukan selain menonton tv ataupun memandang ikan badut peliharaan Mia yang asik berenang di dalam akuarium kecilnya.
"Hey!!! Brianna Carissa, ikan ku bisa mabuk!" protes Mia yang kebetulan memergoki perilaku Brianna. Sontak Brianna langsung mengeluarkan tangannya lalu melemparkan cengiran polosnya.
"kakak aku bosan, aku ingin bekerja lagi." Keluh Brianna.
"Kakimu belum sepenuhnya pulih"
"Aku sudah sembuh kak, lihat" Brianna beranjak dari duduknya lalu mulai berjalan. Yah walaupun sedikit terpincang-pincang, tapi ini jauh lebih baik.
"Ini jauh lebih baik, aku tidak mau bermalas-malasan lagi hanya karena ini"
"Terserah kau sajalah" Mia menghela nafas pasrah, kemudian mengambil pakaian kotor di dalam keranjang. Mia berniat untuk mencuci pakaian.
Namun pada saat Mia mengambilnya, tiba-tiba saja ada sesuatu yang jatuh tepat di kaki Mia.
"Apa ini?"
Mia pun mengambilnya, dan ternyata itu sebuah dasi.
"Astaga! Itu dasi Tuan Marvin!" Pekik Brianna panik, ia ingat sudah menyimpan dasi itu dalam saku seragam maidnya dan lupa mengembalikannya pada Marvin.
"Kenapa dasi Tuan Marvin ada disini Brianna?"
"Aku meminjamnya kak"
"Apa?! Kau berani meminjam barangnya? Astaga!"
Mia menatap Brianna tak percaya, bagaimana bisa? Dirinya saja yang sudah bekerja bertahun-tahun tidak berani melakukannya.
"Tuan Marvin bilang aku harus belajar cara menyimpulkan dasi" jawab Brianna polos.
"Sungguh Tuan Marvin menyuruhmu seperti itu?" Tanya Mia memastikan, akan tetapi melihat ekspresi Brianna saja gadis itu mana mungkin berbohong.
"Waktu itu Tuan Marvin memintaku untuk memasangkan dasi untuknya, tapi aku tidak bisa. Lalu Tuan Marvin mengajariku tapi tetap saja gagal. jadi aku meminjamnya untuk belajar dengan mama" jelas Brianna membuat Mia semakin melongo.
"Kenapa kakak menatapku seperti itu. Apa aku salah?"
"Brianna sepertinya kau sedang diajarkan untuk menjadi calon istri yang baik"
"Calon istri siapa?"
Yasmine tiba-tiba muncul dibalik pintu kamar menyela ucapan Mia, wanita itu sempat mendengar kalimat Mia barusan.
"Bibi?"
"mama!! Kebetulan ada disini, ajarkan aku cara menyimpulkan dasi"
"Hah? Untuk apa kau belajar itu sayang?" Tanya Yasmine bingung.
"Untuk..pftttt" tiba-tiba mulut Brianna di bekap oleh Mia.
"Ah dia hanya main-main saja bi gara-gara melihat drama di tv, jadi Brianna ingin belajar. Iya kan Bri?" Mia memberi kode lewat matanya untuk meng-iyakan ucapannya. Brianna yang kebingungan hanya mengangguk ragu.
"Ya sudah belajar dengan Mia saja, mama masih sibuk membereskan dapur"
"Tapi..."
"Brianna belajar denganku saja, ayo kita belajar di luar" Mia menarik lengan Brianna menjauh dari mamanya. Jika Yasmine tahu soal tadi kemungkinan besar wanita itu akan mengeluarkan jurusnya untuk menceramahi Brianna. Pekerjaan tersebut memang terlalu lancang untuk dilakukan seorang maid. Kecuali jika Marvin benar-benar tertarik pada Brianna dan berniat menjadikan Brianna istrinya mungkin lain lagi ceritanya.