
"Mama!!!"
Brianna berlari pada ibunya yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman depan. Yasmine terkejut melihat kedatangan putrinya. Sesuai permintaan Brianna, Marvin akhirnya menyudahi liburan singkat mereka. Ia tidak mau hal-hal buruk kembali terjadi dan membahayakan gadisnya.
"Kalian sudah pulang?"
"Aku merindukan mama" Brianna memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Baru saja 2 hari kita tidak bertemu sayang"
"Ckk rasanya itu sudah sangat lama, ma" Brianna mengerucutkan bibirnya, apa ibunya itu tidak rindu padanya?
Yasmine terkekeh lalu mengecup pipi putrinya "Mama juga merindukanmu sayang"
"Bukankah kalian akan liburan selama 3 hari?"
"Ada sedikit masalah di sana, jadi kami memutuskan untuk pulang cepat" jawab Marvin.
"Masalah apa?"
"Bukan masalah serius, aku sendiri yang meminta pulang cepat karena aku tidak bisa jauh-jauh dari mama" Brianna memberi kode pada Marvin agar tidak menceritakan apa yang terjadi di sana. Ia tidak mau ibunya khawatir.
"Benar tidak terjadi sesuatu yang serius?"
"Tidak ada Ma, kami baik-baik saja di sana. Dimana mama Livy?"
"Beliau sedang pergi keluar sebentar, ayo masuk mama akan menyiapkan makan siang untuk kalian".
#
Setelah menikmati makan siang buatan Yasmine, Marvin langsung menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian James datang menemui Marvin dengan membawa sebuah map di tangannya.
"Sesuai perintah mu, aku sudah membawa informasi mengenai gadis itu"
James duduk di kursi depan Marvin lalu menyerahkan map tersebut. Marvin langsung membaca isi map tersebut dengan serius, sepertinya itu berisi riwayat hidup Steffy.
"Jadi dia tinggal di Kota A di bawah pengawasan Samuel?"
"Ya, ayahnya tinggal di Negara X dan ia tinggal bersama ibunya. Kedua orang tuanya bercerai".
Marvin mengangguk mengerti, sebenarnya informasi tersebut tidak terlalu penting bagi Marvin. Yang ia butuhkan adalah bagaimana sikap Steffy pada Brianna selama di sekolah.
"Ada hal lain? Kau pasti mengerti kan apa yang paling ingin aku ketahui?"
James berdehem sejenak lalu kembali melanjutkan ucapannya "Soal hubungan Steffy dan Brianna mereka memang kurang baik, menurut informasi yang aku dapat gadis itu bersama temannya sering mengolok Brianna, apalagi setelah mengetahui ibu Brianna seorang pelayan".
Marvin mengatupkan bibirnya rapat, emosinya mulai terpancing.
"Sial! Gadis bedebah itu benar-benar mencari masalah denganku"
"Untuk sementara baru itu informasi yang aku dapatkan"
Salah satu kelalaian James, pria itu tidak jeli dalam menyelidiki Steffy. James telah melewatkan informasi penting bahwa Steffy nyaris menghilangkan nyawa Brianna.
"Terus awasi gadis sialan itu". Ucap Marvin geram.
"Baik"
"Lalu bagaimana dengan pelaku yang mencelakai Brianna kemarin?"
James mengeluarkan sebuah foto di dalam saku jaketnya. Seorang pria dengan kostum serba hitam tertangkap oleh kamera cctv yang ada di belakang restoran. Sepertinya pris itu tidak menyadari jika disana ada kamera pengintai.
"Orang ini yang sedang kita curigai sekarang. Pria ini datang saat kau dan Brianna makan siang di sana. Dan para pekerja disana tidak mengenal pria ini."
"Ah satu lagi pelayan yang mengantarkan minuman kalian bilang padaku, jika orang ini sempat menyuruhnya mengambil minuman baru dan meninggalkan minuman kalian di salah satu meja. Bisa saja pria ini memasukkan sesuatu di minuman Brianna saat pelayan itu pergi untuk mengambil pesanannya".
Marvin mengangguk mengerti, sorot matanya yang tajam semakin tajam mendengar penjelasan James. Sungguh tangannya sudah gatal ingin mengahajar si pelaku dan tak tanggung-tanggung Marvin akan menjebloskannya ke dalam penjara.
Setelah urusannya selesai James langsung pamit keluar. Selang beberapa menit kini giliran Brianna yang memasuki ruangan Marvin.
"Apa kakak sibuk?"
Kepala Brianna menyembul di balik pintu, Marvin yang masih di landa emosi seketika menoleh.
"Anna, kemarilah"
Brianna akhirnya masuk mendekati Marvin. Melihat ekspresi dingin Marvin saat ini, Brianna merasa kekasihnya ini tidak sedang baik-baik saja.
"Kakak ada masalah?" Brianna memperhatikan Marvin dengan takut. Wajah pria itu terlihat memerah seperti sedang menahan amarah.
Sadar dengan ekspresinya saat ini, dengan cepat Marvin merubah mimik wajahnya.
Ditariknya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Brianna cukup terkejut dengan sikap Marvin yang tiba-tiba ini, ia bisa merasakan nafas Marvin memburu menyentuh kulit lehernya.
"Kakak kenapa?"
"Kenapa tidak cerita padaku"
Alis Brianna mengernyit, cerita apa maksud Marvin?
"Sudah berapa kali Steffy berperilaku buruk padamu?"
Deg!!
Brianna terdiam, apa Marvin sudah tahu semuanya?
Marvin melepas pelukannya lalu menatap Brianna dengan sendu. Kedua tangannya menangkup pipi Brianna, sesekali mengelus pipi bulat kemerahan itu dengan lembut.
Brianna menelan ludahnya gugup, apa ia harus menceritakan semuanya? Tapi ia tidak mau Marvin marah pada Steffy, ini akan membuat Steffy semakin membencinya.
"Tidak, aku dan Steffy.."
"Katakan dengan jujur!" Marvin sedikit meninggikan suaranya, membuat Brianna menunduk takut. Akhirnya gadis itu mengangguk jujur.
"Ta..tapi Steffy dan teman-temannya hanya..."
"Hanya kau bilang? Itu bisa membunuh mental mu Brianna Carissa!"
"A..aku baik-baik saja"
"Siapa lagi yang sering membully mu?"
Brianna lantas menggeleng, memang hanya Steffy dan satu gengnya yang sering mengusiknya. Awalnya Ryan juga sering mengganggunya, tapi melihat pria itu menolongnya kemarin sepertinya Ryan menjadi lebih baik sekarang.
Marvin mendengus, gadis nya ini terlalu lugu. Marvin tidak mau Brianna bersikap lemah saat ditindas oleh teman-temannya.
"Sayang lihat aku" Marvin mengangkat dagu Brianna agar bisa menatapnya.
"Semakin kau diam, mereka akan semakin berani menindasmu. Jadi ku mohon laporkan pada Natasha jika mereka mengganggumu lagi. Mengerti?"
Brianna mengangguk paham. Ia tidak bisa membantah apapun perintah Marvin. Brianna tahu ini demi kebaikan dirinya sendiri.
"Kakak..."
"Hmmm?" Marvin mengusap surai kecoklatan milik Brianna. Emosi Marvin sudah mulai stabil sekarang.
"Sore ini teman-temanku akan datang kesini"
"Untuk apa?"
"Saat aku tidak masuk kemarin, guru memberikan tugas kelompok, kami ingin mengerjakan tugasnya di perpustakaan kakak. Bolehkan?"
"Siapa nama temanmu?"
"Nina, kakak masih ingat kan? Dan juga ada Ryan".
"Ryan?" Rasanya Marvin pernah mendengar nama itu.
"Ya, dia yang dulu pernah menumpahkan bekalku"
"Apa????"
"Kakak tidak perlu khawatir, Ryan tidak lagi mengangguku sekarang. Dia teman yang baik".
"Kau yakin?"
"Ya, sangat yakin".
"Hmm baiklah"
"Yeayy jadi kakak mengijinkan mereka kemari?" Brianna berubah antusias, membuat Marvin gemas. Di kecup nya beberapa kali bibir mungil itu hingga wajahnya berubah merona.
"Terimakasih kak"
"Hanya itu?"
"Hah?"
"Bagaimana dengan satu ciuman sebagai imbalan".
"Barusan Kakak sudah menciumiku beberapa kali" dengus Brianna.
"Itu kecupan bukan ciuman sayang".
"Memangnya beda?" Tanya Brianna dengan wajah polosnya.
Marvin terkekeh kemudian mencubit hidung Brianna dengan gemas. Brianna meringis lalu memukul dada Marvin kesal.
"Sakit!"
Marvin semakin tertawa dibuatnya, di tariknya wajah Brianna lalu mencium hidung Brianna dengan lembut. Kemudian kepala Marvin semakin menunduk untuk menggapai bibir plum milik gadisnya ini. Marvin mengangkat tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja kerjanya agar tubuh mereka dapat sejajar dan ia semakin mudah mencium Brianna.
Seperti sebuah candu Marvin ingin merasakan bibir manis Brianna lagi dan lagi.
Brianna memejamkan matanya begitu material lembut itu menyentuh bibirnya. Menyesapnya dengan begitu lembut dan manis. Tangan Brianna turut melingkar di leher Marvin, membuat ciuman tersebut semakin intens. Brianna mulai berani membalas ciuman Marvin walaupun terkesan malu-malu.
Mereka sama-sama tersenyum disela ciuman mereka. Saling berbagi perasaan lewat ciuman tersebut. Marvin mengusap punggung Brianna di sela pagutan bibir mereka, semakin lama ciuman Marvin semakin menuntut. Tubuh mereka semakin merapat, terlebih lagi Marvin sudah dilingkupi kabut gairah. Pria itu bisa saja lepas kendali.
Brianna meremas kemeja yang Marvin saat ciuman tersebut semakin dalam. Brianna merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh pangkal pahanya. Brianna tidak sadar jika Marvin tersiksa saat ini dan ingin menuntaskan semuanya.
Brianna melepas ciumannya begitu pasokan udara mereka menipis. Nafas keduanya tidak beraturan dengan kening masih bersentuhan.
"Sial! Hampir saja aku lepas kendali" Marvin mengusap bibir bawah Brianna dengan ibu jarinya, terlihat memerah dan bengkak. Oh apa ciumannya tadi terlalu ganas?
"Maaf"
"Kenapa minta maaf?"
Marvin menatap Brianna dengan pandangan sayu, matanya berkabut oleh gairahnya sendiri. Jika Brianna tidak menghentikannya tadi mungkin ia akan melakukan lebih dari sekedar ciuman.
"Aku akan segera mengurus pernikahan kita"
"A..apa?"