My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Aku Akan Mengakhiri Semuanya



Marvin membawa Brianna masuk ke dalam kamarnya. Sedari tadi gadis itu hanya diam tidak mengeluarkan suaranya, dan Brianna akhirnya bersuara saat Marvin menutup pintu kamarnya.


"Oh Tuhan" Marvin langsung menarik tubuh Brianna ke dalam pelukannya begitu melihat wajah cantik itu basah karena air mata. Ya, Brianna  menangis. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh.


"Maaf atas perkataan mamaku tadi" Marvin mengusap punggung Brianna dengan lembut diiringi bisikan lirih di telinga Brianna. Pria itu pun merasakan kecewa saat mengingat perkataan yang terlontar dari mulut mamanya.


"Hiks Nyonya Livy benar, kakak seharusnya mencari wanita yang lebih dewasa dariku" gumam Brianna pelan.


"Aku tidak akan pernah melakukannya" Marvin mengeratkan pelukannya. Sampai kapanpun ia tidak akan mencari wanita lain selain Brianna. Ia sudah jatuh hati pada gadis dalam pelukannya itu.


"Tapi Nyonya Livy tidak menyukaiku" Brianna mendorong tubuh Marvin hingga pelukan mereka terlepas. Pandangan keduanya bertemu, ada sorot kekecewaan di mata Brianna membuat Marvin merasa bersalah. Diusapnya pipi kemerahan itu dengan lembut.


"Aku yakin suatu saat nanti mamaku akan menerimamu. Mama hanya perlu waktu untuk mengenalmu lebih jauh, begitupun denganmu".


"Aku tidak yakin"


"Kau harus yakin"


Marvin duduk di atas ranjang, lalu meraih tubuh mungil itu untuk duduk di atas pangkuannya. Tangannya terulur menyingkirkan  helaian rambut yang menutupi wajah Brianna. Wajah gadis itu masih terlihat murung.


"Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja tadi itu tidak pernah terjadi"


Brianna mengangguk mengerti, walaupun itu sulit Brianna akan mencoba untuk melupakannya.


"Apa kau lelah?"


Brianna hanya bergumam, ya tubuhnya lelah apalagi banyak aktivitas yang sudah ia lakukan saat di sekolah. Di tambah lagi ia bertemu Livy Xavier, ia merasa energinya terkuras habis oleh ucapan wanita itu.


"Kalau begitu istirahatlah disini, setelah itu kita pergi makan malam hmm"


"Aku ingin beristirahat di kamarku saja kak. Aku takut mamamu akan melihatku di sini"


"Baiklah, perlu ku antar?"


"Tidak perlu" Brianna tersenyum tipis, ia ingin beranjak dari pangkuan Marvin namun sepertinya pria itu enggan melepas tangannya di pinggang Brianna.


Cuppp Cuppp Cuppp


Tiba-tiba saja Marvin mencium kening, hidung dan pipinya. Brianna cukup terkejut hingga wajahnya memanas. Marvin terkekeh melihatnya, sungguh ia sangat gemas melihat ekspresi Brianna seperti itu.


Terakhir Marvin kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini tatapan Brianna berubah waspada karena itu mengarah pada bibirnya, namun semuanya sirna karena kecupan Marvin mendarat di dagunya bukan di bibirnya.


"Selamat beristirahat, sayang"


Blussshh


Brianna menunduk malu seiring debaran jantungnya yang menggila. Ia mengangguk kecil tanpa bersuara lalu turun dari pangkuan Marvin. Perlakuan manis pria itu benar-benar membuatnya salah tingkah nyaris gila.


#


Brianna memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Tanpa mengganti seragam sekolahnya, Brianna langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tak lama kemudian, ia mendengar pintu kamar terbuka dan tertutup kembali dengan dentuman yang cukup keras.


Blam!!


Brianna terkesiap hingga tubuhnya kembali bangun. Ia melihat sang Mama berjalan ke arahnya dengan sorot mata dingin.


"Brianna, mama ingin bertanya satu hal padamu"


"Ada apa ma?"


"Apa benar kau memiliki hubungan special dengan Tuan Marvin?"


Deg!!!


Apakah mamanya telah mengetahui semuanya? Jika benar darimana mamanya bisa tahu?


"A..aku..."


"Jawab dengan jujur Brianna Carissa!!" Nada bicara Yasmine mulai meninggi, hal tersebut membuat Brianna ketakutan. Gadis itu hanya mampu menunduk, lidahnya mendadak kelu untuk menjelaskan semuanya. Jelas sekali Yasmine marah besar di sini.


"Maafkan aku, ma" cicit Brianna pelan. Hanya itu yang bisa ia katakan.


"Jadi selama ini kecurigaan mama benar. Interaksi kalian sungguh tidaklah wajar. Bagaimana bisa kau bertindak sejauh itu, Tuan Marvin adalah majikan kita. Tidak sepantasnya kau..." Yasmine tidak bisa melanjutkan kata-katanya, perkataannya mungkin akan menyakiti perasaan Brianna. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya.


"Kenapa kau menutupinya dari mama?" Nada bicara Yasmine mulai melunak, ia berjalan mendekati putrinya dan duduk di sampingnya.


"Aku takut mama akan marah. Maafkan aku" Ditatapnya wajah sang mama dengan mata berkaca-kaca. Bahkan mamanya pun tidak menyukai hubungannya dengan Marvin.


"Sejak kapan?"


"Apa???"


"Sejak kapan kau berpacaran dengannya?"


"Tiga minggu yang lalu" jawab Brianna jujur. Ia tidak lagi menatap wajah sang mama. Brianna takut sang mama memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Marvin.


Sekarang Brianna sadar, ia sudah mencintai Marvin. Perasaan tidak rela itu muncul saat Livy meminta Marvin untuk mencari wanita lain untuk pendamping pria itu. Rasanya sesak sekali dan untuk pertama kalinya ia merasakan hal tersebut. Brianna tidak mau Marvin meninggalkanya.


Brianna sudah sangat nyaman berada di samping Marvin, bahkan mungkin ia sudah bergantung pada pria itu. Brianna merasa begitu dicintai sehingga tidak ada lagi alasan lain untuk tidak membalas perasaan pria itu.


"Ma, aku mencintai Tuan Marvin" gumam Brianna lirih. Dirinya memang masih belia, tapi bukan berarti ia buta soal cinta. Marvin selalu memperlakukannya dengan istimewa dan ia merasa pria itu tulus mencintainya.


Jika sudah menyangkut perasaan Yasmine bisa apa? Hanya saja status mereka lah yang membuatnya ragu. Marvin adalah pria terhormat dan juga kaya raya, sedangkan Brianna hanyalah gadis sederhana yang memiliki ibu seorang pelayan.


"Sayang, mama hanya ingin mengingatkan. Kita disini hanya seorang pelayan, sudah sepantasnya kita sadar akan posisi kita sekarang. Dan mama sudah melihat bagaimana reaksi Nyonya Livy saat mendengar hubungan kalian. Jujur saja mama sangat terkejut, Mama tidak mau kau tersakiti sayang"


"Apa itu artinya aku memang tidak pantas menjadi kekasihnya?"


"Bodoh! Tentu saja, kau hanya pelayan di sini. Seharusnya kau sadar dari awal Brianna Carissa" batin Brianna merasa ditampar oleh kenyataan.


"Bukan seperti itu nak, tapi..."


"Mama benar seharusnya aku sadar diri. Jadi apa yang harus aku lakukan?" Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya, bahkan ia baru saja mendapatkan setitik kebahagiaan dari Marvin. Yasmine menatap putrinya dengan nanar. "Maafkan mama sayang, mama tidak bermaksud menyakiti perasaanmu dengan tidak merestui hubungan kalian".


"Tidak ini bukan salah mama, terimakasih sudah mengingatkan".


" A..aku akan mengakhiri semuanya, jika itu yang mama harapkan"