My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Rencana Jahat Samantha



MALU! itulah yang dirasakan Brianna saat ini. Bagaimana tidak, Marvin melihat tubuhnya yang nyaris telanjang! Brianna merutuki kebodohannya atas tindakannya tadi, kenapa ia bisa lupa memakai baju? Dan sialnya kenapa Marvin bisa ada di depan kamarnya?


Brianna hanya bisa bersembunyi di balik punggung mamanya. Saat ini mereka tengah berada di ruang tengah pavilun, Marvin tampak berbicara di hadapan sang mama. Sesekali Marvin curi-curi pandang ke arah Brianna, pria itu terkekeh melihat wajah memerah Brianna.


Brianna sudah memakai pakaian lengkap, namun pakaian tersebut terlihat lebih besar di tubuh Brianna. Dengan terpaksa ia memakai baju mamanya karena seluruh pakaiannya lenyap entah kemana.


"Nak jangan seperti ini, Tuan Marvin sedang bersama kita"


"Aku malu" cicit Brianna pelan, memeluk perut sang mama dari belakang dengan erat.


"Tuan Marvin ingin bicara denganmu"


Brianna menggeleng cepat, ia belum siap bertatap muka dengan Tuannya tersebut. Ia masih sangat malu.


"Ayolah nak, ini tidak sopan" bisik sang mama. Brianna mengangkat wajahnya, mengintip Marvin di balik bahu mamanya. Pria itu tampak terkekeh melihat tingkah gadis itu, benar-benar menggemaskan.


"Jangan khawatir, aku sudah melupakan kejadian tadi" bujuk Marvin diiringi dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Sungguh?"


"Kalau begitu silahkan Tuan bicara dengan Brianna, saya permisi ke dapur"


"mama jangan tinggalkan aku sendiri?" Brianna menahan tangan sang mama agar tidak pergi, ekspresinya tampak memelas.


"Ssst jangan khawatir sayang, Tuan Marvin hanya ingin bicara soal kamar tadi"


Akhirnya mau tidak mau Brianna membiarkan mamanya pergi. Kini tinggalah ia bersama Marvin. Brianna masih enggan menatap Marvin, gadis itu masih betah menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya.


"Masih malu soal tadi hm?" Marvin mengulum senyumnya melihat bibir Brianna tampak mengerucut sebal. Antara malu dan kesal. Tanpa bertanya pun Marvin pasti sudah tahu jawabannya.


Marvin berjalan mendekati Brianna, lalu duduk di samping gadis itu.


"Jangan terlalu di pikirkan, aku sudah melupakan yang tadi"


Melupakannya? Ckkk faktanya kejadian tadi masih berputar-putar di kepala Marvin. Sungguh Marvin bisa melihat bagaimana indahnya tubuh Brianna, walaupun tertutup selembar handuk. Kulit putih susu milik gadis itu benar-benar membuat Marvin gagal fokus.


"Jadi kenapa Tuan memindahkan baju-bajuku?" Brianna mulai bertanya, masih belum berani menatap Marvin.


"Tatap lawan bicaramu saat bicara" tegur Marvin dengan nada lembut. Brianna akhirnya menurut, dan pipi Brianna semakin merona. Ingin rasanya ia menggali tanah dalam-dalam lalu mengubur wajahnya disana. Ini sungguh memalukan.


"Aku ingin kau pindah ke rumah utama"


"Kenapa?"


"Karena setiap kamar di paviliun ini hanya untuk dua orang saja dan kamar itu melebihi kapasitas. Yang aku lihat kamar itu sangat pengap penuh barang, apa itu nyaman?"


"Aku rasa itu tidak masalah Tuan, aku merasa nyaman apalagi jika tidur bersama mamaku"


"Jadi kau tidak mau pindah?"


Brianna menggeleng pelan, jika ia pindah kamar berarti ia tidak bisa tidur bersama mamanya dan mengobrol banyak dengan Mia.


Marvin terlihat menghela nafasnya, kemudian menatap gadisnya lekat membuat Brianna sedikit salah tingkah


"Dengar, aku ingin kau selalu nyaman tinggal dirumahku. Aku tidak bisa membiarkanmu tidur di ranjang sempit seperti itu" ungkap Marvin jujur.


"Tidak-tidak, itu tidak mungkin. Aku hanya pelayan disini, mana mungkin Tuan Marvin menyukai gadis kampung sepertiku" batin Brianna.


"Hey kenapa melamun?" Marvin mengusap pipi Brianna lembut hingga gadis itu tersadar.


"Aku akan meminta pendapat mama"


"mamamu sudah setuju"


Brianna lagi-lagi tidak bisa menolak, ia lupa jika Marvin benci penolakan dan sudah pasti mamanya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Marvin.


"Baiklah aku akan pindah, asalkan mama juga ikut. Aku tidak suka tidur sendirian Tuan"


"Tidak masalah, kau bisa pindah dengan mamamu" jawab Marvin dengan senyuman mengembang di bibirnya. Brianna tidak tahu bahwa kamar yang akan ia tempati tepat berada di samping kamar Marvin, dengan begitu Marvin bisa lebih mudah menemui Brianna, begitulah strategi yang dilakukan Marvin.


"Sekarang ayo kita lihat kamarmu yang baru, dan ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu" Marvin beranjak dari duduknya, menarik Brianna untuk mengikutinya.


Brianna hanya menurut saja, sekarang ia sudah terbiasa dengan sentuhan yang dilakukan Marvin. Tak bisa dipungkiri Brianna pun merasa nyaman ketika Marvin menggenggam tangannya.


Tanpa mereka sadari ada 4 pasang mata yang memperhatikan interaksi Brianna dengan Marvin secara diam-diam. Orang-orang tersebut mengintip di salah satu kamar pelayan. Samantha adalah salah satu dari 4 orang tersebut, dan yang lainnya adalah para pelayan yang berhasil ia pengaruhi untuk membenci Brianna.


"Oh yang benar saja, gadis itu diberi kamar baru?" Ujar salah satu pelayan.


"Sial! Sebenarnya apa istimewanya gadis itu? Kenapa Tuan Marvin begitu perhatian padanya?" Timpal yang lain.


"Bukankah ini tidak adil untuk kita? Ini tidak bisa di biarkan!"


"Aku rasa Brianna sudah memberikan sesuatu pada Tuan Marvin"


" Apa maksudmu Samantha?"


"Tubuhnya mungkin"


"Apa????"


"Jika tidak mana mungkin Marvin memberikan kamar terpisah. Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui, tadi pagi Tuan Marvin mengajak Brianna berbelanja pakaian-pakaian mahal."


Lagi-lagi pelayan-pelayan tersebut dibuat tercengang oleh perkataan Samantha.


"Kau tahu dari mana?"


"Ada banyak orang yang bisa kujadikan mata-mata disini, jadi kalian tidak perlu tahu"


Samantha tampak tersenyum puas mendengar umpatan teman-temannya. Semakin hari, pelayan-pelayan disana semakin membenci Brianna, dan ini memudahkan Samantha menyingkirkan Brianna dari rumah Marvin.


"Kita harus segera menyingkirkan Brianna dari rumah ini dan aku sudah memikirkan bagaimana caranya"


Samantha memberikan isyarat pada teman-temanya untuk merapat, wanita itu langsung membisikkan rencana jahatnya pada mereka lengkap dengan seringaian di bibirnya.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?"


"Aku takut dalam masalah Samantha"


"Kalian tenang saja, semuanya serahkan padaku"