
Sesuai apa yang Marvin janjikan, pria itu benar-benar mengajak Brianna pergi ke suatu tempat. Pusat perbelanjaan adalah tujuan utama yang ingin Marvin datangi bersama Brianna. Setelah Brianna berhasil memasangkan dasi untuknya, Marvin ingin memberikan sesuatu untuk Brianna, yaitu memberikan segala kebutuhan gadisnya. Apalagi setelah ia melihat baju tidur Brianna yang sudah lusuh, membuat Marvin terdorong untuk membelikan pakaian yang lebih layak untuk Brianna.
Brianna menatap takjub gedung mewah di hadapannya, ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di tempat hingar bingar kota A. Mereka mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
"Tuan ini tempat apa?" Tanya Brianna dengan wajah antusias. Mulutnya terbuka melihat tingginya bangunan tersebut. Bahkan di sepanjang perjalanan ada saja hal-hal yang menarik perhatian gadis itu.
"Ini pusat perbelanjaan" jawab Marvin dengan senyuman tipis. Ia merasa gemas melihat ekspresi gadis itu.
"Kau bisa belanja apapun yang kau mau disini"
"Pasti hanya orang-orang kaya saja yang bisa belanja disini. Benarkan?"
Marvin hanya tersenyum menanggapinya, pria itu lalu menggenggam tangan Brianna menariknya untuk masuk ke dalam mall tersebut.
Para wanita nyaris menjerit melihat kedatangan Marvin. Siapa yang tidak mengenal sosok Marvin Xavier? Seorang pengusaha sukses yang banyak digandrungi oleh kaum hawa, tidak sedikit wanita yang mengincar Marvin Xavier. Pria yang nyaris sempurna dengan sejuta pesona.
Namun pandangan mereka harus teralihkan pada sosok gadis sederhana yang sedang digandeng oleh Marvin. Sorot mata mendamba itu kini beralih dengan rasa iri, mulut mereka berubah mencemooh melihat penampilan Brianna.
"Siapa gadis itu? Apa dia kekasih Marvin Xavier?"
"Mana mungkin, lihat penampilannya. Astaga! Itu terlihat norak"
"Ckk selera Marvin Xavier benar-benar rendah"
Kalimat itulah yang mereka gunjingkan. Syukurlah ucapakan mereka tidak sampai ke telinga Marvin, jika sampai pria itu mendengarnya sudah pasti Marvin akan memberi perhitungan pada mereka semua.
Brianna merasa tidak nyaman dengan tatapan wanita-wanita itu, Brianna menundukkan wajahnya melihat penampilannya sendiri.
Apakah ada yang aneh dengan dirinya? Kenapa orang-orang menatapnya seperti itu? Begitulah batin Brianna.
Tanpa sadar Brianna meremas tangan Marvin, pria itu sadar tangan gadisnya berkeringat. Marvin menghentikkan langkahnya sebelum mencapai eskalator di depannya. Kepalanya tertunduk menatap Brianna yang masih betah menunduk.
"Hey ada apa?" Marvin mengangkat dagu Brianna dengan telunjuknya. Ada sorot tidak nyaman di mata gadis itu, Brianna menghindari tatapan Marvin lalu melepas genggaman pria itu.
"Tidak apa-apa, Tuan bisa berjalan lebih dulu" ucapnya pelan. Marvin mengernyit aneh, ada apa dengan gadisnya?
Marvin mengedarkan pandangannya, bibirnya seketika mengatup rapat melihat segerombol wanita tampak berbisik-bisik sambil menatap cemooh ke arah Brianna.
"Jangan pedulikan mereka, Ayo" Marvin menarik tubuh Brianna, merangkul pundaknya lalu menaiki eskalator. Jelas saja tindakan pria itu kembali membuat para wanita patah hati.
Rupanya Marvin membawa Brianna ke sebuah gerai pakaian, dimana seluruh pakaian tersebut merupakan brand dengan kualitas tinggi. Hanya orang-orang berdompet tebal lah yang mampu membelinya.
"Tolong carikan baju yang cocok untuknya" Marvin mendorong tubuh Brianna ke depan seorang pramuniaga.
"Eh??"
"Baik Tuan, pakaian seperti apa yang nona butuhkan?" Tanya pramuniaga tersebut.
"Apa saja yang penting cocok dengannya"
"Baiklah, mari nona"
ajak pramuniaga tersebut dengan ramah. Brianna tampak bingung, apa maksud perkataan Marvin tadi?
"Carilah pakaian yang kau sukai"
"Apa??? Tapi..."
"Aku yang bayar" potong Marvin dengan kekehan kecil.
"Maaf tapi aku tidak bisa" tolak Brianna
"Kenapa?"
"Aku hanya pelayanmu Tuan, kenapa Tuan membelikan baju untukku di tempat seperti ini?"
"Dengar, uangku tidak akan habis hanya karena membeli baju di tempat ini. Bahkan aku bisa membeli mall ini untukmu, jika kau mau" ucap Marvin serius, ia tidak suka penolakan dan baru saja Brianna menolak niat baiknya.
Brianna mengerjap begitu mendengarnya, kepalanya tertunduk merasa tidak enak. Marvin terlalu baik.
"Aku rasa Tuan terlalu berlebihan"
"Anggap saja ini sebagai bonusmu karena sudah berusaha belajar memasangkan dasi untukku"
"Bisakah kita membelinya di tempat biasa saja Tuan?" Pinta Brianna.
Marvin menghembuskan nafasnya kasar, akhirnya pria itupun kembali menarik tangan Brianna. Baiklah sepertinya ia sendiri yang harus memilihkan baju-baju tersebut untuk Brianna.