
Mia terlihat sedang menyiram beberapa tanaman di sana. Wajahnya tidak secerah cuaca pagi ini, gadis yang selalu ceria itu terlihat murung. Tangannya bekerja menyiram tanaman, tetapi pikirannya berkelana entah kemana. Mia tidak fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Mia kau menyiram terlalu banyak air, tanamannya bisa busuk" tegur salah satu pelayan lain yang kebetulan sedang menyapu halaman.
Mia mengerjap dan benar saja, air nya sudah berceceran kemana-mana.
"Kau terlihat tidak fokus, apa ada masalah?"
"Aku tidak apa-apa" Mia telah menyelesaikan pekerjaannya, sebelum mengerjakan pekerjaan yang lain. Mia beristirahat sejenak di salah satu bangku taman. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan atau tidak.
Helaan nafas kecewa keluar dari mulutnya. Tidak ada pesan apapun.
"Apa kau sesibuk itu sampai tidak ada waktu untuk menghubungiku?"
Mia menatap ponselnya dengan nanar, kerinduannya pada sang kekasih sudah tak terbendung lagi. Sudah 7 bulan James pergi ke Jepang, selama itu tidak ada tanda-tanda apapun mengenai kapan James akan kembali.
James jarang sekali menghubungi Mia, padahal pria itu sudah berjanji akan terus menghubungi kekasihnya itu sesering mungkin. Tapi nyatanya? Dalam seminggu saja, pria itu hanya mengirim pesan 1 kali. Bahkan pernah dalam 1 bulan, James menghilang bak di telan bumi. Apa sesibuk itu?
"Aku merindukanmu" Mia berujar lirih, sambil menatap wallpaper ponselnya. Di sana ada foto selfie mereka berdua saat pertama kali kencan.
Tak kuasa menahan rasa rindu, akhirnya Mia memberanikan diri menelpon James. Mia berharap James kali ini langsung mengangkat teleponnya.
Panggilan telah terhubung, namun kekasihnya itu tak kunjung mengangkatnya. Mia menghela nafasĀ beberapa kali, dalam hatinya ia berharap bisa mendengar suara James pagi ini. Tentu saja itu bisa mengembalikan mood nya.
"Aisshh sebenarnya kau kemana" Mia mendengus, James benar-benar tidak mengangkatnya.
"Apa kau sesibuk itu sampai tidak ada waktu mengangkat teleponku. Atau jangan-jangan..."
Pikiran Mia berkecamuk, spekulasi buruk langsung memenuhi otaknya. Jangan-jangan James menemukan kekasih baru yang lebih cantik di sana.
"Aisssh! Mia apa yang kau pikirkan!" Mia menepis pikiran buruknya itu. Tapi tetap saja, hatinya merasa tidak tenang. Sudah 7 bulan James tinggal di Jepang, tidak menutup kemungkinan pria itu bertemu dengan banyak wanita di sana. Entah itu dalam lingkungan pekerjaan, ataupun tempat tinggal.
"Baiklah aku coba lagi" Mia kembali menelpon James. Tapi kali ini ada yang aneh, Mia mendengar ada suara deringan ponsel tak jauh dari posisinya.
Mia menutupnya dengan cepat, dan detik itu juga suaranya menghilang. Mia menatap ke sekitar, mungkin saja ada pelayan disini yang sedang menerima telepon. Namun hasilnya nihil, Mia hanya sendirian di sana.
Mia kembali menatap ponselnya, ia mencoba menelpon nomor James kembali.
Bingo!
Mia kembali mendengar deringan ponsel, jantung Mia tiba-tiba berdebar. Apa mungkin James berada di sini?
"Hallo?"
"Kakak!" Mia refleks berteriak saat James akhirnya mengangkat teleponnya. Mia tersenyum lega bisa mendengar suara sang kekasih.
"Kemana saja? Kenapa tidak ada kabar?"
Hening...
James tidak merespon ucapan Mia.
"Hallo? Kak, kau masih di sana?"
Tidak ada jawaban apapun.
"Kakak, jangan bercanda. Kau mendengarku kan?"
"Lihatlah ke belakang" ucap James
"Di belakangmu Mia"
Mia menelan ludahnya gugup, jantungnya lagi-lagi berdebar 2 kali lipat. Ada apa di belakangnya?
Dengan perlahan Mia membalikkan tubuhnya, dan saat itu juga tubuhnya mematung. Mia bisa melihat James berdiri beberapa langkah di depannya.
James tersenyum dengan ponsel menempel di telinganya.
"Aku merindukanmu"
Mata Mia mulai berkaca-kaca, ia tidak salah melihatkan? Pria di depannya benar-benar James?
"Tidak mau memelukku?" Mia bisa mendengar suara James di ponselnya. Namun bukannya berlari menghampiri James, Mia justru melemparkan tatapan kesalnya pada sang kekasih.
Mia menutup ponselnya dengan cepat, lalu melemparkan ponselnya ke atas rerumputan hijau yang ia pijaki sekarang.
"Hikss kau menyebalkan!!!"
Air mata Mia akhirnya tumpah, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Mia menangis, James berhasil mengerjainya.
James tertawa melihat reaksi Mia, dengan cepat ia mendekati gadis yang amat sangat ia cintai itu lalu memeluknya dari belakang.
"Aishh!! Jangan memelukku!" Mia berontak dalam pelukan James. Namun James tidak menurutinya, pria itu membalikkan tubuh Mia agar bisa melihat wajah gadisnya dengan jelas.
"Hiks kau pikir ini lucu? Menyebalkan!!" Mia memukuli dada James kesal. James semakin tertawa di buatnya.
"Maaf"
James menarik tubuh Mia kembali ke dalam pelukannya. Kali ini Mia tidak berontak, air matanya sudah membasahi kemeja yang James kenakan. Mia mulai membalas pelukan kekasihnya.
"Maaf karena jarang menghubungi mu. Kau pasti sangat kesal kan?"
"Sudah tau jawabannya, kenapa repot-repot bertanya" Mia melepas pelukannya lalu melemparkan tatapan kesalnya. James kembali terkekeh, di usapnya pipi halus Mia yang basah dan memerah. Di kecupnya bibir Mia dengan cepat lengkap dengan senyuman menawannya.
Wajah Mia seketika merona, ia memalingkan wajahnya karena malu.
"Apa kau ingin tahu alasan kenapa aku jarang menghubungi mu?"
"Katakan saja" ketus Mia
"Karena aku harus mempersiapkan pernikahan kita"
Mia terdiam, otaknya mendadak lamban untuk mencerna perkataan James barusan.
"Ma..maksudmu?"
"Sebenarnya aku sudah pulang sejak 1 bulan yang lalu. Dan setelah kepulangan ku dari Jepang, aku meminta Marvin dan Brianna untuk tidak memberitahumu. Aku ingin menyiapkan rencana masa depan kita dan ini akan menjadi kejutan untukmu"
...
"Mia, ayo kita menikah"
...****************...
Novel ini akan tamat nanti malam, sebagai gantinya aku punya novel baru judulnya "BOLEHKAH AKU MENGGENGGAM TANGANMU?" ini masih anget langsung cus baca aja ya...