My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Sensitif



4 bulan kemudian.


Brianna  tengah bergelayut manja di lengan suaminya. Saat ini Brianna tengah menemani Marvin bekerja di kantor. Marvin sama sekali tidak terusik dengan tingkah Brianna yang sejak tadi terus menempel padanya.


"Kakak"


"Hmmm?" Marvin fokus memainkan laptopnya, memeriksa beberapa laporan dari karyawannya. Brianna sepertinya mulai jenuh karena Marvin lebih fokus pada laptopnya di banding dirinya sejak 2 jam yang lalu. Bibir Brianna mengerucut sambil memainkan kancing kemeja Marvin.


"Bosan hmm?" Marvin menatap sang istri sejenak, Brianna mendongak membalas tatapan Marvin lalu mengangguk kecil. Pria itu terkekeh melihat wajah bosan Brianna, salah sendiri kenapa istrinya itu bersikeras ingin menemaninya bekerja.


"Dari awal aku sudah mengingatkan pekerjaanku hari ini sangat banyak, kau akan bosan jika menemaniku sayang" Marvin mengelus pucuk kepala Brianna.


"Tapi di rumah jauh lebih bosan"


"Jadi apa yang harus aku lakukan agar rasa bosan mu hilang?" Marvin mengubah posisinya menjadi saling berhadapan dengan Brianna, meninggalkan pekerjaannya sejenak. Wanita itu terlihat berpikir dan tak lama kemudian senyumannya mengembang.


"Ayo kita ke bioskop, sudah lama kan kita tidak menonton?"


Marvin menghela nafasnya, ia tidak mungkin mengajak Brianna ke sana karena sebentar lagi ia akan ada rapat keuangan. Hari ini ia benar-benar sangat sibuk.


"Maaf sayang bisakah kita pergi lain waktu saja? Hari ini aku ada rapat" Marvin menatap Brianna menyesal, dan otomatis senyuman istrinya itu sirna.


"Aku ingin hari ini, ayolah kak tunda saja rapatnya"


"Tidak bisa sayang, ini sudah kedua kalinya aku menunda rapat ini"


"Jadi kakak lebih mementingkan rapat itu dibanding menghibur istrimu?" Mata Brianna berubah berkaca-kaca, membuat Marvin kalang kabut.


"Kakak jahat!" Brianna berdiri dari duduknya lalu beranjak keluar dari ruangan Marvin. Akhir-akhir ini Brianna menjadi lebih sensitif, sifat kalemnya hilang entah kemana.


"Sayang tunggu!" Marvin segera menyusul Brianna, dicekal nya tangan Brianna menahan istrinya agar tidak pergi.


"Jika kakak tidak mau, aku akan pergi sendiri!"


"Tidak, aku tidak akan mengijinkan mu pergi sendiri".


"Kenapa? Kakak sendiri tidak mau menemaniku!"


Marvin mengusap wajahnya gamang, ia tidak bisa membiarkan Brianna berkeliaran di luar sana seorang diri, tapi di sisi lain ia pun tidak bisa menemani istrinya itu.


"Sayang ku mohon mengertilah, aku sedang ada banyak pekerjaan. Biasanya kau mengerti soal itu kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?"


Brianna terdiam, ia pun bingung dengan sikapnya saat ini. Akhir-akhir ini ia memang sering merengek pada Marvin agar tidak jauh-jauh darinya, wanita itu selalu ingin ikut kemana pun Marvin pergi. Dan akan marah jika Marvin tidak menuruti permintaannya. Ia tidak mengerti mengapa sifatnya menjadi menyebalkan seperti ini.


"Presdir, maaf rapat akan segera di mulai. Semuanya sudah siap" sekretaris Marvin datang mengingatkan pria itu.


"Baik tunggu 10 menit lagi" balas Marvin. Pria itu kembali menatap Brianna yang masih merenungi sikapnya hari ini.


"Aku akan menghubungi Mia untuk menemanimu" Marvin ingin mengambil ponselnya namun segera di cegah oleh Brianna.


"Tidak perlu aku mau pulang saja" Brianna berjalan cepat menuju lift, meninggalkan Marvin yang terdiam dengan perasaan merasa bersalah. Sudah jelas Brianna kecewa dengan penolakan Marvin, dan Marvin tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.