My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Maxime Xavier



7 bulan kemudian


Suara tangisan bayi terdengar menggema memenuhi ruang kamar, dimana di dalamnya ada sepasang suami istri yang sedang tertidur lelap. Brianna Xavier, seorang mama muda yang kini telah dikaruniai malaikat kecil tersebut harus bangun untuk menenangkan putranya.


Maxime Xavier, begitulah namanya. Bayi yang telah ia lahirkan secara prematur itu kini telah tumbuh dengan sehat, tidak ada cacat sama sekali. Semuanya terlihat sempurna, paras wajahnya begitu mendominasi wajah sang Ayah yang rupawan. Hanya matanya yang memiliki kemiripan dengan sang ibu.


Setiap malam sudah menjadi hal biasa bagi Brianna terbangun karena tangisan Maxime. Entah itu karena lapar, atau karena popoknya yang sudah penuh.


Dengan rasa kantuknya yang amat sangat Brianna bangun mendekati putranya yang berada dalam box bayi. Menggendongnya dengan hati-hati lalu segera memberikan asi pada Maxime.


Brianna terlihat lebih dewasa setelah melahirkan. Wanita muda itu berusaha mengurus bayinya secara mandiri, ibunya dan juga para pelayan senantiasa mengajarkan Brianna cara merawat bayi.


Brianna tidak ingin melepaskan tanggungjawabnya sebagai ibu, untuk itu ia berusaha untuk mengurus putranya, ia tidak ingin merepotkan para pelayan. Marvin pernah berencana untuk menyewa jasa baby sitter, namun Brianna menolak. Tentu saja karena ia tidak ingin melewatkan pertumbuhan Maxime sedikitpun.


*


Tangisan Maxime belum mereda, akhir-akhir ini Maxime memang sedikit rewel hingga Brianna harus terbangun tengah malam melawan rasa kantuknya demi sang putra.


"Ssttt Max sudah menangisnya, papa nanti bangun" Brianna berusaha menenangkan Maxime agar Marvin tidak merasa terganggu. Brianna tidak tega jika melihat suaminya itu terbangun. Marvin terlihat kelelahan karena baru saja pulang lembur. Sudah pasti Marvin membutuhkan istirahat banyak dan jam tidurnya semakin berkurang.


Brianna beberapa kali menguap dengan mata memerah, ia baru saja tertidur 2 jam yang lalu. Walaupun begitu Brianna tidak pernah mengeluh, ia tetap menikmati perannya sebagai seorang ibu muda dengan senang hati tanpa ada rasa terbebani.


"Maxime kenapa?"


Brianna terkejut mendapati Marvin sudah duduk di sampingnya. Ekspresi mengantuknya tampak jelas di wajah Marvin lengkap dengan rambutnya yang acak-acakan.


"Maaf, apa tangisan Maxime mengganggumu kak?" Brianna merasa tidak enak pada suaminya.


Marvin menggeleng, kemudian menumpu wajahnya di pundak Brianna, sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Memperhatikan putra kecilnya yang terlihat lahap menghisap ****** ibunya.


"Maxime lapar hmm?" Marvin mengajak putranya berbicara, rasa kantuknya menguap begitu saja saat melihat wajah polos Maxime. Bayi tampan itu merespon dengan gumaman kecil, matanya melirik ke arah sang ayah sambil tersenyum kecil.


Brianna dan Marvin terkekeh melihat respon sang bayi. Keduanya gemas melihat betapa lucunya bayi mereka, rasanya sudah tidak sabar melihat Maxime tumbuh besar.


"Kakak lanjutkan saja tidurnya"


"Tidak, aku akan menemani kalian" balas Marvin sambil menghirup ceruk leher Brianna, lalu kembali memperhatikan putranya yang mulai tenang dengan mata terpejam.


Setelah Maxime kembali tertidur, Brianna meletakkan Maxime ke dalam box bayi. Sedangkan Marvin, pria itu sudah kembali berbaring di atas ranjang menunggu Brianna.


Tak lama Brianna bergabung ke atas ranjang dan langsung di sambut oleh pelukan Marvin. Pria itu membenamkan wajahnya tepat di dada Brianna, seperti seorang anak yang tengah bermanja-manja pada ibunya.


"Ahh nyamannya" Marvin mengatur posisinya senyaman mungkin


"Sekarang ini milik ku" gumam Marvin nyaris tak terdengar.


"Apa?" Brianna tidak mengerti maksud suaminya, namun detik berikutnya wajahnya langsung merona saat Marvin mengecupi dadanya yang tertutup piyama.


"Semenjak kau melahirkan aku jarang menyentuhnya" bibir Marvin mengerucut seperti anak kecil yang tengah merajuk pada sang ibu. Brianna merasa gemas melihat ekspresi suaminya saat ini. Apa Marvin sedang merajuk?


"Apa kakak keberatan berbagi dengan Maxime?" Brianna menimpali dengan kekehan kecil.


"Hmm sedikit"


"Heyy.. kenapa kakak seperti itu, Maxime putramu. Dia leb...  Ehmmm"


Brianna tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Marvin sudah membungkamnya dengan ciuman.


"Bercanda sayang, tentu saja aku dengan senang hati berbagi dengannya. Tapi..."


Jemari Marvin mulai bermain di atas dada Brianna, otomatis wanita itu menahan napasnya. Sensasinya tentu saja berbeda saat Maxime yang menyentuhnya. Astaga! Apa sekarang Marvin berubah jadi bayi besar?


"Ta..tapi apa?"


"Kau jadi lebih perhatian padanya di banding aku, dan itu sedikit menyebalkan"


"Kau cemburu pada anakmu sendiri? Astaga sulit dipercaya ahhh"


Brianna tidak sadar mengeluarkan desahannya. Brianna mulai tidak fokus, ia baru sadar bahwa tangan Marvin sudah masuk ke dalam dress piyamanya.


"Akhir-akhir ini kita jarang menghabiskan waktu berdua. Aku sibuk bekerja dan saat pulang kau sibuk mengurusi Maxime. Aku merindukanmu sayang" bisik Marvin sensual membuat bulu kuduk Brianna merinding. Jujur saja ia pun baru sadar jika ia terlalu fokus mengurusi Maxime dan hampir lupa jika ia pun memiliki suami yang harus ia layani.


"Aku minta maaf" gumam Brianna menyesal.


"Kenapa minta maaf?"


"Karena aku mengabaikanmu"


Marvin tersenyum lembut. Lalu ia kembali medaratkan ciumannya di bibir manis Brianna.


Brianna dengan senang hati membalasnya. Perlahan-lahan ciuman Marvin berubah menjadi panas dan menuntut. Tubuhnya sudah berada di atas tubuh Brianna. Mencumbunya dengan tak sabaran.


Marvin melepas ciumannya lalu tersenyum puas melihat wajah bergairah sang istri. Pria itu benar-benar merindukan tubuh istrinya.


"Boleh aku mengambil jatahku malam ini?"


"Ka.. kakak tidak mengantuk?"


Marvin menggeleng dengan cepat, tangannya mulai aktif menyentuh area pribadi milik Brianna.


Brianna mati-matian menahan suara desahannya lagi. Gairahnya mulai terpancing akibat ulah tangan jahil suaminya yang mulai mesum itu.


Brianna bergumam pasrah. Mata Marvin berubah berbinar, rasa kantuk dan lelahnya menguap begitu saja. Ia langsung mengambil haknya lagi setelah beberapa bulan terakhir tak bisa ia rasakan.


"Malam ini kau milikku"


"Maxime tidurlah yang lelap, malam ini mamamu milik papa"