My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Aku Benci Anjing Itu!



Brianna berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Marvin. Rupanya aksi terjunnya di atas pohon berhasil menciptakan sebuah tragedi mengenaskan bagi Tuannya. Marvin Xavier yang berniat ingin menolong gadisnya kini harus berbaring di ranjang dengan menahan sakit di pinggangnya.


Pria itu berteriak kesakitan begitu seorang tukang pijat memijat pinggangnya. Insiden tersebut terjadi pada saat Brianna melompat, pria itu tidak mampu menopang beban tubuh Brianna hingga akhirnya tubuhnya terjungkal ke belakang dan tubuh gadis itu menindih tubuhnya.


"Kak bagaimana jika terjadi sesuatu pada Tuan Marvin" Brianna menatap Mia yang kebetulan berdiri di sampingnya menemani Brianna yang tampak cemas.


"Aku yakin dia tidak apa-apa."


"ARGGHHHHH SAKIT BODOH!! PELAN-PELAN!!"


"Tuh kan Kak Tuan Marvin berteriak lagi, pasti rasanya sakit sekali. Andai Tuan Marvin tidak menolongku mungkin tidak akan seperti ini"


"Ini aneh, baru kali ini Tuan Marvin peduli pada seorang pelayan, apalagi kau pelayan baru"


"Apa jangan-jangan dia tertarik padamu" tebak Mia


"Aissssh jangan berbicara sembarangan Kak, itu tidak mungkin. Aku yakin pasti setelah ini dia akan memecatku. Hiks bagaimana ini?" Mia menatap Brianna iba, ia pun tidak bisa melakukan apapun. Masalah kecil saja Marvin tidak pernah segan memecat pelayannya, apalagi sekarang.


"Brianna!!!!" Yasmine datang menghampiri putrinya dengan wajah cemas.


"Kau baik-baik saja?"


"Hikss mama" Brianna berlari memeluk mamanya "maafkan aku ma, aku sudah membuat masalah hiks".


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja"


"Bagaimana jika aku dipecat lalu di usir dari rumah ini ma?"


"Sttttt, jangan berpikiran negatif dulu. Kita berdo'a saja semoga itu tidak terjadi. mama yakin Tuan Marvin orang yang baik".


"Baru sehari kerja saja sudah membuat masalah, bagaimana hari-hari berikutnya" sindir Samantha yang sudah muncul entah sejak kapan.


Mia mendelik malas ketika Samantha bergabung diantara mereka, terlihat jelas jika wanita itu tidak menyukai Samantha. Tidak hanya hari ini saja tetapi semenjak Samantha bekerja di rumah tersebut.


Melihat wajah angkuhnya saja membuat Mia ingin menenggelamkan wajah itu ke sungai!


"Singkirkan mulut pedasmu yang tidak bermutu itu. Lebih baik kau pergi dari sini!" Usir Mia dengan tatapan sinisnya.


"Dengan senang hati, aku pun malas melihat wajah kalian disini" kekeh Samantha mengejek, lalu melenggang pergi.


Demi apapun Mia ingin sekali meninju wajah Samantha. Hubungan mereka memang tidak baik, mereka selalu berdebat tak jelas jika bertemu. Entah itu menyangkut pekerjaan maupun hal-hal kecil, selalu saja timbul perdebatan.


Yasmine yang melihat sikap Samantha hanya bisa geleng-geleng kepala, ia sudah hafal betul bagaimana watak gadis itu.


"Nak, mama harus kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tunggulah disini untuk memastikan keadaan Tuan Marvin dan jangan lupa minta maaf padanya" ucap Yasmine mengelus kepala putrinya.


"Baik mama"


"Maaf aku juga harus pergi, Murphy membutuhkan aku untuk membersihkan kandangnya"


"Aku benci anjing itu" timpal Brianna merengut kesal. Mendengar namanya saja Brianna sudah malas, apalagi bertemu. Lebih baik ia membersihkan 10 kamar mandi sekaligus daripada harus berurusan dengan anjing berbulu lebat itu, sama sekali tidak ada lucu-lucunya di mata gadis itu.


"Hehe dia hanya merasa asing padamu, sebenarnya dia..."


"Anjing yang baik" lanjut Brianna malas. Mia hanya tertawa mendengarnya, kemudian berlalu meninggalkan Brianna sendiri.


Kini tinggal Brianna yang masih setia berdiri di depan kamar Marvin. Ia harus meminta maaf langsung pada Marvin atas insiden tadi. Walaupun ia tidak yakin Tuan nya yang terkenal tegas itu akan memaafkannya, setidaknya ia harus mencoba bukan?


Brianna mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Sepertinya Marvin sudah selesai dipijat, pria itu kini sedang berusaha menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dibantu Emily sang kepala pelayan, bibir pria itu tampak meringis menahan sakit.


Tanpa disangka mata tajam Marvin melihat ke arah pintu, dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Brianna tampak terkejut, dengan cepat ia pun menghentikan aksi mengintipnya. Jantungnya berdebar kencang saat mata elang itu menghunus matanya.


Ini bukanlah debaran khas orang jatuh cinta, melainkan rasa takutnya yang berlebihan.


"Bagaimana ini?" Lirih Brianna dengan kepala tertunduk. Ia ingin masuk, tapi ia pun takut bertemu Marvin seolah malaikat maut sedang mengintainya.


"Ekhhmmm!!"


Suara deheman seseorang menyadarkan Brianna, gadis itu mendongak untuk melihat siapa orang yang sedang berdiri di depannya.


Untuk beberapa saat Brianna terdiam mematung saat melihat James berdiri dihadapannya. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Brianna harus mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah rupawan pria itu.


Brianna sudah tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya ini, Mia menceritakan sedikit mengenai James.


Saat pertama kali melihat James, Brianna pikir James adalah adik Marvin, tapi ternyata pria itu bekerja sebagai pengawal pribadi Marvin. Sungguh tidak terduga, padahal wajah James sangat mendukung untuk menjadi aktor ataupun pengsusaha muda semacam Marvin.


"Apa kau baik-baik saja?"


Suara James terdengar mengalun merdu di telinga Brianna, hingga beberapa saat gadis itu hanya terdiam menatap James. Terpesona? Ya, sepertinya begitu. Jangan diragukan lagi bagaimana tampannya paras James, karena siapapun pasti akan tertarik termasuk Brianna sendiri.


"Hey!" James menjentikkan tangannya di depan wajah Brianna membuat gadis itu tersadar.


James terkekeh kecil melihat ekspresi salah tingkah Brianna, tak lama kemudian ia melihat semburat merah di pipi putih gadis itu. Pantas saja Marvin begitu menyukainya, Brianna benar-benar menggemaskan.


"Sepertinya lututmu terluka nona Brianna"


"Apa??"


"Lihat, lututmu berdarah"


Brianna tampak terkejut, kemudian melihat lututnya sendiri. Ternyata benar lututnya lecet dan sedikit berdarah. Kenapa ia baru sadar?


Saat ia terjatuh menimpa Marvin, mungkin lututnya bergesekkan dengan tanah hingga terluka.


Namun ada satu hal lagi yang membuat Brianna terkejut, yakni James menyebut namanya.


"Tuan tahu namaku?"


"Tentu, aku tahu semua nama pelayan di rumah ini, termasuk kau pelayan baru." James terenyum kecil, padahal ia sudah tahu nama itu sejak 8 tahun yang lalu, bahkan ia nyaris gila karena Marvin terus menerus menyuruhnya untuk mencari gadis di hadapannya ini.


"Ini obatilah, setelah itu kau bisa menemui Tuan Marvin" James memberikan sebuah kotak P3K pada Brianna.


"Terimakasih" Brianna menerimanya dengan senang hati, merasa tersanjung dengan sikap perhatian James.


"Apa Tuan Marvin baik-baik saja?"


"Ya, dia baik-baik saja"


"Apa aku akan di pecat Tuan?" Sebuah pertanyaan yang sedari tadi menghantuinya, kini ia tanyakan pada James.


"Banyak berdo'a saja. Semoga kali ini dia mau berbaik hati." Jawab James, membuat rasa cemas itu tidak berkurang sama sekali.


"Good luck!"


Brianna diam mematung merasakan usapan kecil di kepalanya. Jantungnya berdebar kencang, seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.


Ia tidak mengerti dengan perasaannya ini, yang jelas ia merasa bahagia. Ini baru pertama kalinya ia berbicara langsung dengan James, tapi sensasinya sudah seperti ini.