
Flashback!
"Brianna sayang papa pulaaaang!!"
"Papa!!!" Brianna kecil berlari menuju sang papa yang baru saja pulang bekerja. Rasa lelah selalu papanya sembunyikan ketika mereka bertegur sapa. Brianna yang tadinya ingin tidur harus kembali terjaga saat mendengar suara ayahnya.
"Kenapa papa pulang terlambat?". Brianna merajuk dengan wajah di tekuk, gadis itu terlihat kesal karena ayahnya pulang larut malam.
"Maafkan papa nak. papa banyak pekerjaan. Ah iya papa punya hadiah untukmu"
Mata Brianna seketika berbinar saat ayahnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas gendongnya.
"Taraaaa payung merah yang Brianna minta!!!"
"Whoaaa ini untukku?"
"Tentu saja sayang."
"Yeaayy terima kasih papa!!" Brianna memeluk sang ayah senang. Walaupun itu hanya hadiah kecil, payung tersebut sangatlah berkesan bagi Brianna.
Dan payung itu adalah hadiah terakhir dari sang ayah. Tepat satu minggu kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.
Flashback END
"Hiks papa.." Brianna tidak bisa menahan tangisnya lagi. Di peluknya payung tersebut dengan erat di iringi isakan kecil. Brianna benar-benar merindukan ayahnya. Ia rindu pelukannya, kecupannya dan juga kasih sayangnya. Sudah hampir 10 tahun ia tidak merasakan itu semua. Ini membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Brianna..."
Brianna mendongakkan wajahnya melihat Marvin berdiri di hadapannya. Ekspresi pria itu terlihat sangat terkejut melihat Brianna menangis di ruang kerjanya.
"Kau kenapa?" Marvin melangkah lebih dekat, tangannya terulur menangkup ke dua pipi Brianna yang sudah basah karena air mata. Marvin bisa melihat bibir gadisnya bergetar.
Tatapan Marvin turun ke arah benda yang sedang di dekap oleh Brianna. Jantungnya seketika berdebar, apa Brianna sudah mengingatnya?
"A..apa benda ini milikmu?"
"Apa ini milikku?"
Tanpa menutupi apapun lagi, Marvin memberikan jawaban dengan anggukan kepala. Hazel hitam pekat itu menatap Brianna dengan intens. Sudut bibirnya melengkung ke atas memberikan senyuman terbaik untuk gadisnya.
"Kenapa benda ini ada disini? Aku sudah lama kehilangan mereka. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ada banyak pertanyaan yang berkumpul di pikiran Brianna. Dan gadis itu menutut penjelasan dari Marvin.
Marvin mengehela nafas kecewa, rupanya Brianna belum mengingatnya "Mau ku ingatkan sesuatu?" Tanya Marvin lalu di balas anggukan kecil oleh Brianna.
Marvin menarik kursi kerjanya lalu duduk di sana. Tanganya meraih tubuh mungil itu untuk duduk di atas pangkuannya. Brianna sangat terkejut dengan apa yang Marvin lakukan. Posisi itu membuat Brianna tidak nyaman, gadis itu ingin beranjak namun Marvin menahannya.
"Biarkan seperti ini" tatapan Marvin seolah menghipnotis Brianna, gadis itu langsung diam tak berkutik dan kembali menjadi gadis manis yang penurut. Brianna menelan ludahnya gugup saat hembusan nafas Marvin menyentuh pipinya. Bahkan tangan kekar pria itu sudah melingkar manis di pinggangnya.
Jemari Marvin aktif menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantiknya, menyelipkannya ke belakang telinga Brianna dengan hati-hati.
"Apa kau sudah lupa dengan kejadian 8 tahun yang lalu?" Brianna terdiam, mencoba mengumpulkan ingatannya.
"Seorang pria mengalami kecelakaan dan nyaris mati di perbukitan"
Deg!!
Sekelebat bayangan perlahan muncul di ingatannya. Tidak terlalu jelas memang, tapi Brianna merasa ia pernah mengalaminya.
"Saat itu hujan turun sangat lebat, kau datang menolong pria itu dengan payung merah mu"
Semakin banyak Marvin bercerita, semakin jelas pula ingatannya. Brianna benar-benar melupakan kejadian tersebut dan ternyata semua itu sangatlah berkesan bagi Marvin.
"Jadi, pria yang aku tolong waktu itu adalah kakak?"
Brianna mengerjap antara terkejut sekaligus bingung. Marvin tersenyum membenarkan.
" Ya, pria itu adalah aku" bisiknya lembut. Bibirnya menyapu pipi putih Brianna dengan kecupan kecil membuat tubuh Brianna menegang di atas pangkuan Marvin.