
"Maaf Brianna sepertinya aku tidak bisa, aku harus membantu ibuku pulang sekolah nanti".
"Jadi tidak bisa ya?" Tanya Brianna kecewa.
"Mungkin lain waktu, Maaf" sesal Nina. Sementara itu berbeda dengan reaksi Ryan, anak itu langsung besorak senang dalam hatinya. Bibirnya lantas tersenyum lebar, tentu saja tanpa diketahui oleh Brianna dan Nina.
"Baiklah kalau begitu, Brianna ayo kita berangkat sekarang" Ryan langsung menarik tangan Brianna menjauh dari Nina. Terlihat sekali semangat Ryan di sana.
"Ryan! Kenapa kau menarikku, aku belum berpamitan dengan Nina"
"Dia bukan Guru jadi tidak perlu berpamitan"
Brianna mendengus sambil mengikuti langkah Ryan yang lebar. Mereka berdua pergi ke area parkir, Ryan mengeluarkan motor sport kesayangannya yang selalu ia pakai kemana pun.
"Naiklah"
Ryan memberikan sebuah helm pada Brianna, kebetulan sekali tadi pagi ia berangkat bersama temannya jadi Brianna bisa memakainya.
"Kita naik motor?"
"Tentu saja, aku tidak mungkin meninggalkan motorku di sini. Kenapa? Kau tidak mau?"
"Ah bukan seperti itu..."
"Cepatlah, lihat cuaca sedang mendung kita harus segera pergi"
"Baiklah" Brianna segera memakai helmnya, lalu menaiki motor Ryan.
"Sudah siap?"
"Hmm"
"Pegangan yang benar"
"Apa?"
Tanpa aba-aba Ryan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga Brianna hampir terjungkal. Dengan refleks tangan Brianna melingkar di pinggang Ryan.
"Ryan!!!"
Ryan terkekeh di balik helm yang ia pakai, ia tidak peduli dengan teriakan Brianna yang memintanya untuk mengurangi kecepatan motornya. Kepalanya tertunduk melihat tangan gadis itu memeluk pinggangnya dengan erat. Senyumannya seketika mengembang dengan perasaan yang membuncah senang. Benar-benar mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Brianna benar-benar ketakutan, sepanjang perjalanan matanya terpejam tidak berani melihat ke arah depan. Brianna merasa ngeri melihat cara Ryan mengemudikan motornya, menyalip satu persatu kendaraan yang dilewatinya dengan lihai.
"Ryan! Kau ingin membuatku mati muda!"
Brianna terus merutuki Ryan, percuma ia berteriak karena Ryan akan mengabaikannya.
Setelah 15 perjalanan, akhirnya ketakutan Brianna berakhir. Mereka berdua sudah sampai di perpustakaan yang Ryan maksud.
Brianna turun dari motor Ryan lalu memberikan helmnya dengan kesal. Wajahnya terlihat di tekuk membuat Ryan tertawa puas.
"Aku tidak mau menaiki motormu lagi!"
"Maaf aku tidak bisa melajukan motorku dengan pelan. Aku terbiasa mengebut" kekeh Ryan tanpa merasa bersalah. Sementara Brianna mencebik kesal sambil merapihkan rambutnya yang kusut. Tangan Ryan terulur membantu merapihkan rambut gadis itu.
Brianna seketika mendongak saat merasakan tangan itu menyentuh kepalanya, tatapan keduanya bertemu. Ryan menyunggingkan senyumnya membuat Brianna salah tingkah. Gadis itu memutuskan kontak mata mereka lalu berdehem pelan, kenapa suasananya menjadi canggung seperti ini?
Brianna memilih berjalan lebih dulu memasuki perpustakaan tersebut. Gadis itu menganga takjub melihat banyaknya deretan buku yang berjajar rapi di setiap rak nya. Wajar saja itu adalah perpustakaan terbesar se-Negara A. Kita bisa menemukan buku apapun yang kita cari.
"Whoaaa! Ryan, kau sering datang ke sini?"
"Hmm tidak terlalu mungkin sebulan sekali"
"Akan ku tunjukkan, ikuti aku"
#
Sementara itu Marvin baru saja sampai di sekolah Brianna. Seperti biasa pria itu selalu meluangkan waktunya untuk menjemput Brianna di sela kesibukannya yang tiada henti.
Marvin melirik arlojinya sambil menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Sebetulnya ia sudah terlambat menjemput gadisnya karena jam pulang sekolah sudah berlalu 30 menit.
Marvin sudah menunggu selama 10 menit, seharusnya Brianna sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah. Namun hingga sekarang Brianna belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Apa Brianna pulang sendirj?
Rasanya itu tidak mungkin, karena Brianna tidak akan berani. Selama ini Marvin selalu melarang Brianna pulang seorang diri, dan memerintahkan James untuk mengantar jemput Brianna ketika ia berhalangan.
Marvin memutuskan untuk menghubungi ponsel Brianna, namun ponselnya tidak aktif.
"Aishh kemana gadis itu?"
Marvin mulai khawatir. Pria itu berjalan masuk menghampiri pos security, di sana ada 3 orang penjaga sekolah yang selalu siap siaga menjaga keamanan sekolah tersebut.
"Tuan Marvin apa kabar?"
Para security tersebut sudah hafal betul siapa Marvin Xavier. Mereka langsung menyambutnya dengan ramah. Tanpa ada basa basi Marvin langsung menanyakan keberadaan Brianna.
"Apa kalian melihat Brianna?"
Ketiga security tersebut saling melempar pandangan dengan alis berkerut "Maaf Tuan sedari tadi kami tidak melihat nona Brianna Carissa".
"Ya kami tidak melihatnya Tuan, mungkin nona Brianna masih di kelasnya"
"Bisa kalian cek ke kelasnya?"
"Baik Tuan" salah satu security langsung memenuhi permintaan Marvin, ia berlari menuju kelas Brianna untuk mengecek keberadaan gadis itu.
Sekali lagi Marvin menghubungi ponsel Brianna, tapi lagi-lagi ponsel Brianna tidak dapat di hubungi.
Tak berselang lama security yang pergi ke kelas Brianna telah kembali. Wajahnya terlihat berkeringat karena jarak pos ke kelas Brianna lumayan jauh mengingat betapa luasnya sekolah tersebut.
"Bagaimana?"
"Maaf Tuan kelas nona Brianna sudah kosong, saya sudah cek ke perpustakaan dan juga taman belakang yang biasa Nona Brianna datangi tapi nona tidak ada di sana"
"Sial! Kemana gadis itu"
Ting!
Marvin melihat ada sebuah pesan baru yang masuk dari nomor yang tidak di kenal. Pesan tersebut berupa foto, dengan cepat Marvin pun membukanya.
Bibir Marvin terkatup rapat setelah melihat foto tersebut. Entah siapa pengirimnya yang jelas ini tentang keberadaan Brianna. Selang beberapa detik sebuah pesan dengan pengirim yang sama kembali masuk.
Kali ini si pengirim memberikan lokasi tempat Brianna berada sekarang. Tangan Marvin terkepal kuat saat beberapa foto kembali masuk dan itu berhasil memancing emosi Marvin.
"Brengsek!!!"
"Ada apa Tuan?" Tanya salah satu security.
Tanpa repot-repot menjawab pertanyaan security tersebut, Marvin pergi menuju mobilnya dengan cepat, tangannya terkepal kuat menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja.
Marvin membanting pintu mobilnya dengan kasar, lalu mengemudinya dengan kecepatan tinggi. Marvin tidak peduli dengan reaksi pengguna jalan lain yang jelas ia harus segera sampai di lokasi tempat Brianna berada sekarang.