
Brianna tengah berdiri depan sebuah cermin yang ada di kamarnya. Sedari tadi bibirnya terus melengkung ke atas menampilkan senyuman manis pagi ini. Rona bahagia terpampang jelas di wajahnya, begitu melihat penampilannya yang berbeda.
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Brianna, karena apa yang selama ini ia nantikan akhirnya terwujud. Hari ini merupakan hari pertama Brianna bersekolah. Tubuhnya sudah berbalut seragam sekolah lengkap dengan jas almamaternya.
"Sayang kau sudah siap?" Sang mama muncul di balik pintu sambil tersenyum manis pada Brianna. Kemudian wanita itu menghampiri putrinya dengan ekspresi tak kalah bahagia. Tangannya terulur merapihkan dasinya, lalu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"mama senang kau bisa bersekolah lagi nak. Ingat belajar dengan giat, jangan kecewakan mama dan juga Tuan Marvin. Mengerti?"
"Siap laksanakan!" Brianna mengangkat tangannya meniru gerakan hormat layaknya seorang prajurit. Yasmine hanya terkekeh melihat tingkah putrinya.
"Ayo turun Tuan Marvin sudah menunggu dibawah, beliau ingin mengantarmu ke sekolah."
"Benarkah?" Tanya Brianna terkejut, namun hatinya merasa senang karena Marvin yang akan mengantarnya.
Brianna segera mengambil tasnya, lalu turun ke lantai satu menemui Marvin. Ia tidak mau membiarkan Marvin menunggunya terlalu lama. Begitu sampai di bawah, Brianna melihat Marvin yang sedang asik membaca majalah bisnis ditemani segelas kopi. Marvin tidak menyadari jika Brianna sudah berdiri di depannya.
"Kak Marvin"
Marvin sontak mengangkat wajahnya begitu mendengar suara lembut Brianna. Pria itu termangu di tempat melihat penampilan Brianna saat ini. Gadis itu tampak begitu cantik dengan rambut dibiarkan tergerai indah dan juga seragam sekolahnya yang terlihat begitu pas dan manis. Tak lupa rona merah alami di pipi chubby nya turut menghiasi penampilan Brianna saat ini.
Brianna menyerngit melihat tatapan Marvin yang seperti itu. Apa penampilannya terlihat aneh? Tapi rasanya tidak ada masalah.
"Kak!" Tegur Brianna sekali lagi membuat Marvin tersadar. Marvin langsung menyunggikan senyuman tampannya lalu berdiri dari duduknya.
"Sudah siap?"
Brianna mengangguk semangat "Apa kakak akan mengantarku?"
"Tentu, ini kan hari pertamamu sekolah. Ayo berangkat nanti kau terlambat" Marvin menggandeng tangan Brianna, membawanya menuju mobil mewahnya. Semua itu tidak luput dari pandangan Yasmine, ia semakin penasaran dengan segala sikap Marvin terhadap putrinya. Apa Marvin benar-benar menyukai Brianna, atau mungkin Marvin hanya menganggap Brianna sebagai adiknya?
#
Brianna menatap takjub bangunan mewah dihadapannya. Trinity High School adalah sekolah terkeren yang pernah ia lihat. Bentuk bangunannya terlihat mewah dan elegan. Ia bisa membayangkan betapa mahalnya biaya administrasi di sekolah ini. Brianna menjadi merasa tidak enak, karena sudah pasti Marvin sudah mengeluarkan banyak uang untuknya.
"Simpan dulu rasa kagummu itu, kita harus segera masuk dan menemui guru kelasmu" tegur Marvin membuat Brianna tersadar. Sedari tadi ia memang hanya diam mematung seperti orang bodoh begitu turun dari mobil Marvin.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang guru. Jam pelajaran belum di mulai, sehingga masih banyak siswa-siswi yang berada di luar kelas. Rupanya kedatangan Marvin dan Brianna berhasil menarik perhatian mereka. Khususnya kaum hawa, mereka begitu terpesona melihat wajah tampan Marvin. Namun seperti biasa pria itu selalu menunjukkan wajah dinginnya.
Ekspresi kekaguman itu berubah menjadi rasa penasaran begitu melihat seorang gadis di samping pria itu. Brianna Carissa, sedari tadi gadis itu tidak pernah berhenti menyunggingkan senyumnya pada siswa-siswi yang ia lewati, memberikan kesan ramah.
Bahkan Marvin sampai memergoki ada beberapa siswa yang menatap Brianna kagum. Ya kecantikan gadis itu memang tidak bisa di ragukan lagi, wajah lugu dan polosnya itu berhasil menarik perhatian banyak orang termasuk pria.
Grep!!
Brianna tersentak saat tiba-tiba saja Marvin menggenggam tangannya seiring dengan langkahnya yang terhenti. Marvin menatapnya dengan sorot yang berbeda, terlihat sedang menahan kesal.
"Ada apa?"
"Berhenti menebarkan senyuman manismu itu"
"A..apa?"
"Aku tidak suka melihatnya, apalagi jika kau tersenyum pada murid laki-laki" keposesifan Marvin mulai bangkit, rasa was-was mulai muncul di hati Marvin. Ia takut ada siswa disini yang mendekati gadisnya, atau lebih parahnya lagi memanfaatkan kebaikan Brianna, mengingat bagaimana polosnya gadis ini.
Brianna mengatupkan bibirnya seketika, . Ia bingung dengan sikap Marvin, apa salahnya ia tersenyum?
"Marvin kau sudah datang?"
Seorang wanita tiba-tiba muncul diantara mereka. Wanita dengan balutan blazer lengkap dengan rok span berwarna hitam. Dilihat dari penampilannya, wanita tersebut sepertinya salah satu guru di sekolah tersebut.
"Natasha, baru saja aku ingin ke ruanganmu."
"Apa ini yang bernama Brianna Carissa?" Wanita yang di panggil Natasha itu tersenyum ramah pada Brianna, membuat gadis itu langsung membungkuk hormat pada guru muda tersebut.
"Brianna kenalkan ini Natasha, guru sekaligus wali kelasmu"
"Selamat pagi, namaku Brianna Carissa. Senang bertemu denganmu" sapa Brianna dengan mata berbinar. Jelas sekali jika Brianna begitu semangat hari ini.
"Selamat datang di sekolah Trinity, aku harap kau bisa betah belajar disini."
"Baik, sekolah ini sangat bagus aku menyukainya" balas jujur
"Kalau begitu kita mengobrol di dalam saja. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan"
"Baiklah"
Natasha adalah salah satu teman Marvin saat dirinya kuliah magister, mereka sudah lama tidak bertemu. Awalnya ia tidak tahu jika wanita itu mengajar di sekolah tersebut, mereka bertemu saat Marvin mengisi administrasi pendaftaran Brianna.
Keberadaan Natasha di sekolah tersebut menjadi keuntungan bagi Marvin. Dengan begitu ia bisa lebih mudah menitipkan Brianna pada wanita itu, memantau segala aktifitas gadisnya selama di sekolah.