My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Maafkan Aku



James terlihat menikmati waktu santainya bersama Mia. Mereka saat ini tengah asik mengobrol di bangku taman beranda rumah Marvin. Setiap harinya James selalu menyempatkan diri menemui Mia, mengajaknya mengobrol walaupun hanya sebentar.


"Apa sebaiknya kita masuk ke dalam rumah saja?" James mengusap telapak tangan Mia yang terasa dingin, tentu saja karena sudah hampir 2 jam mereka mengobrol di luar.


"Disini saja Kak, lihatlah banyak bintang malam ini sayang sekali jika dilewatkan"


"Cantik sekali bukan?" Mia tersenyum sambil menatap langit malam. James ikut tersenyum melihat senyuman cantik kekasihnya. Tubuhnya merapat merangkul pundak Mia yang terasa pas di tangannya. Ketimbang melihat pemandangan di atas sana, James lebih memilih menatap paras cantik gadis itu. Pipi bulat kemerahan Mia menjadi objek perhatian James saat ini.


James ingin menciumnya!


Tanpa Mia sadari, James mulai mendekatkan wajahnya secara perlahan. Mendekatkan bibirnya menuju kulit halus milik Mia. Tinggal sedikit lagi benda kenyal itu sampai, namun semuanya gagal ketika seseorang mengacaukan semuanya.


"James!!!"


James dan Mia tersentak begitu mendengar teriakan Marvin yang menggema. James refleks menjauhkan wajahnya, lalu mencari sumber suara orang tersebut sambil mengumpat dalam hati.


"Kak, bukankah itu Tuan Marvin?"


"Astaga Brianna Carissa!"


James buru-buru berdiri lalu menghampiri Marvin diikuti Mia. Pandangan mereka langsung terfokus pada seseorang yang sedang Marvin gendong.


"Kenapa dengan Brianna?"


"Brianna jatuh, kita harus secepatnya membawanya ke rumah sakit, Cepat!!!"


#


Begitu sampai di rumah sakit, Brianna langsung ditangani oleh para medis di ruang UGD. Sudah hampir satu jam dokter yang menanganinya tak kunjung keluar. Marvin terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan tersebut, menanti kabar Brianna dan anaknya. Sedangkan Yasmine dan James duduk di kursi tunggu. Wajah mereka tidak kalah cemasnya seperti Marvin, namun keduanya berusaha untuk tetap tenang.


Berbeda sekali dengan Marvin, pria itu terus saja bergerak gusar sambil terus menyalahkan dirinya sendiri atas insiden jatuhnya Brianna.


"Ini semua salahku" Tanpa sadar Marvin meneteskan air matanya. Bayang-bayang wajah kesakitan Brianna memenuhi kepalanya. Jika saja ia menuruti kemauan istrinya, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Wanitanya pasti sekarang masih dalam pangkuannya, memeluknya dengan manja hingga tertidur.


"Kau bodoh Marvin Xavier!" Marvin meremas rambutnya kasar, lagi-lagi pria itu menyalahkan dirinya sendiri dengan perasaan amat menyesal.


Marvin beralih menatap Yasmine dengan mata memerah, rasa bersalahnya tidak hanya untuk Brianna tetapi juga untuk ibu mertuanya.


"Maafkan aku, aku tidak becus menjaga putrimu" Marvin menundukkan kepalanya, tak kuasa menatap wajah wanita paruh baya tersebut.


"Berhenti meminta maaf, sekarang kita perlu banyak berdo'a untuk keselamatan mereka" Yasmine memeluk Marvin, berusaha menenangkan pria itu. Air mata Marvin semakin mengalir, begitu merasakan pelukan hangat Yasmine yang sama seperti ibunya. Dalam hatinya ia terus merapalkan do'a agar Tuhan menyelamatkan dua nyawa yang amat dicintainya.


"Maafkan aku"


#


Seorang dokter dan juga satu orang perawat akhirnya keluar dari ruang UGD. Marvin yang masih dalam kegelisahannya dengan cepat menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan istri dan anakku dokter?"


"Apa anda suaminya?"


"Ya aku suaminya, mereka baik-baik saja kan?" Tanya Marvin harap-harap cemas.


Dokter wanita yang menangani Brianna tersebut terlihat menghela nafas, membuat jantung Marvin kian berdebar. Apa ada sesuatu yang buruk? Perasaan Marvin mulai tidak enak.


"Kita harus mengeluarkan bayinya"


"Apa maksudmu dokter!" Marvin berteriak secara spontan. Yasmine mengelus lengan Marvin berusaha menenangkan menantunya tersebut.


"Pendarahan yang dialami Nona Brianna lumayan parah, jika harus menunggu sampai usia 9 bulan itu bisa beresiko untuk nyawa bayi dan juga ibunya. Jalan terbaik kita harus melakukan operasi sesar. Jika Tuan setuju maka kami ..."


"Lakukan yang terbaik, asalkan anak dan istriku selamat!" Tanpa di tanya pun Marvin pasti akan menyetujuinya, yang terpenting sekarang adalah keselamatan anak dan istrinya.


"Baiklah Tuan, kami akan segera menyiapkan ruang operasi dan silahkan Tuan tanda tangani surat persetujuan operasinya" Seorang suster datang membawa sebuah map dan tanpa berpikir panjang Marvin langsung menandatanganinya.


Setelah mendapat persetujuan dari Marvin, Dokter beserta petugas medis lainnya langsung melakukan tindakan operasi. Marvin semakin cemas begitu melihat istrinya di bawa ke ruang operasi.


"Sayang kumohon bertahanlah" Marvin ikut mengantar Brianna sampai ke depan pintu ruang operasi, di tatapnya wajah pucat sang istri dengan perasaan takut yang luar biasa. Brianna sudah tak sadarkan diri, sehingga sudah dipastikan Brianna tidak tahu bahwa ia akan menjalani operasi.