
Aksi merajuk Brianna berlarut sampai Marvin pulang ke rumah. Pria itu baru saja tiba di rumah besarnya lalu mendapati istri kecilnya tengah berbaring santai di karpet kamar mereka dengan tv menyala. Angin berhembus memenuhi kamar mereka melalui pintu balkon yang terbuka lebar. Entah sudah tidur atau belum Brianna terlihat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sayang kau sudah tidur?" Marvin menghampiri Brianna lalu menarik selimutnya agar wajah manis itu terlihat. Marvin mengulum senyumnya melihat ada pergerakan kecil di balik kelopak matanya yang tertutup, belum lagi ada ketegangan di dahi istrinya. Sepertinya Brianna hanya pura-pura tidur.
Begitu Marvin membuka pintu kamar, Brianna langsung bereaksi dengan pura-pura tidur. Gadis itu ingin menghindari Marvin, dia masih marah karena Marvin menolak permintaannya.
"Kenapa pintunya dibiarkan terbuka sayang, angin malam tidak baik untuk kesehatan" gumam Marvin lalu menutup pintu balkon mereka. Pria itu bisa merasakan angin berhembus sangat kencang, langit berubah sangat gelap tidak ada satu pun bintang yang terlihat. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Setelah itu Marvin menghampiri Brianna kembali yang masih enggan mengakhiri aktingnya yang buruk itu. Marvin tahu istrinya itu masih marah dan menghindarinya. Akhir-akhir ini Marvin sering menghadapi situasi seperti ini. Gadisnya akan menghindar ketika marah dan enggan berbicara, dan Marvin harus ekstra sabar menghadapi sifat kekanakan Brianna yang satu ini. Marvin akan mengeluarkan jurus rayuannya agar istri kecilnya itu luluh dan kembali merengek manja padanya. Tidak terlalu sulit hanya sedikit menahan emosi saja jika gadisnya bersikap keras kepala.
Marvin menyingkirkan selimut bercorak hello kitty itu dari tubuh istrinya, lalu memindahkan Brianna ke atas ranjang mereka. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut berbeda yang berada di ranjang.
Marvin menyempatkan diri mengecup kening Brianna, lalu menatap wajah polos istrinya cukup lama. Duduk disisi ranjang sambil mengelus kepala Brianna dengan teratur. Brianna yang asalnya pura-pura tidur merasa nyaman hingga rasa kantuk itu mulai menghampirinya.
"Maaf atas sikapku di kantor tadi. Kau pasti kecewa kan? Aku berjanji akan menggantinya di lain waktu. Aku akan menyempatkan waktuku agar bisa menemanimu seharian" setelah mengucapakan permohonan maafnya Marvin bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Seperginya Marvin, Brianna langsung membuka matanya. Gadis itu menatap daun pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat. Marvin ada di dalam sana terbukti dengan bunyi gemericik air yang menyentuh lantai. Brianna mendengar apa yang diucapkan Marvin tadi, tiba-tiba ia merasa bersalah telah mengacuhkan suaminya itu.
Bunyi gemericik air kembali terdengar tapi kali ini bukan dari kamar mandi melainkan dari luar. Hujan mulai turun, awalnya hanya rintik-rintik biasa namun perlahan-lahan hujannya semakin besar.
Brianna menatap ke arah jendela, kilatan petir terlihat di luar sana membuat wajah Brianna menegang. Rasa kantuknya yang tadi datang lenyap seketika tenggelam dalam ketakutan. Brianna menarik selimutnya menutupi wajah. Kilatan tersebut semakin jelas memantul pada dinding kamarnya menembus lewat jendela.
Dan tak lama kemudian suara petir terdengar memekakkan telinga. Brianna menjerit ketakutan, semakin menenggelamkan diri ke dalam selimut.
"Kakak!!!!!" Brianna menjerit memanggil Marvin, gadis itu amat sangat takut dengan petir.
Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Tidak hanya sekali namun petir itu datang lagi saling bersahutan. Brianna memutuskan menghampiri Marvin di kamar mandi namun naasnya kaki Brianna justru tersandung selimut yang di sempat membelit tubuhnya tadi.
Brughh!
Hidung Brianna mendarat dengan sempurna di atas lantai yang dingin, gadis itu meringis kesakitan merasakan hidungnya membentur lantai dengan cukup keras. Brianna berusaha untuk bangun menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.
Suara petir sudah tidak terdengar lagi, namun Brianna merasa kesakitan di hidungnya. Disentuhnya tulang hidung Brianna secara hati-hati, takut jika hidung mancung kebanggaannya patah. Brianna merasakan ada sesuatu yang kental keluar dari lubang hidungnya.
"Da..darah?" Tangan Brianna bergetar melihat darah tersebut mengotori tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca, antara sakit dan juga takut.
***
Begitu mendengar teriakan Brianna, Marvin buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Pria itu keluar dengan selembar handuk yang membungkus area pinggangnya sampai lutut. Lengkap dengan handuk kecil bertengger di pundaknya.
Marvin terkejut begitu melihat Brianna duduk di atas lantai, dan lebih mengejutkan lagi adalah ketika gadis itu mengangkat wajahnya. Bercak darah memenuhi hidung dan bibir Brianna.
"Astaga Anna!"
"Huwaaa!!! Kakak hidungkuu!" Brianna mulai menangis begitu Marvin muncul. Dengan sigap Marvin mendekati Brianna lalu berlutut di depannya. "Ya Tuhan apa yang terjadi? Kenapa hidungmu berdarah?"
Marvin membersihkan darah tersebut dengan handuk kecil di pundaknya. Pria itu panik sampai tangannya bergetar.
"Hiks tadi ada petir sangat keras, aku ingin berlari ke kamar mandi tapi kakiku malah tersandung dan wajahku membentur lantai.
"Ya Tuhan, kenapa kau ceroboh sekali!" Marvin tanpa sadar meninggikan nada suaranya membuat tangisan Brianna semakin pecah. Gadis itu berpikir Marvin memarahinya.
"Maaf aku terlalu khawatir"
Marvin membantu Brianna berdiri, gadis itu terus menangis karena darah tersebut terus keluar dari hidungnya. Marvin membawanya ke kamar mandi dan meminta Brianna menundukkan wajahnya agar darah itu keluar sepenuhnya.
"Hiks apa hidungku patah?" Brianna bertanya sambil sesenggukan. Ia menatap wajahnya di depan cermin yang ada di kamar mandi. Marvin kini telaten membersihkan tangan Brianna yang terdapat noda darah. Ekspresi khawatirnya masih kentara di sana. Syukurlah darahnya sudah berhenti keluar.
"Kita periksa ke rumah sakit ya?"
"Tidak mau!"
"Aku takut lukamu parah sayang" Marvin berusaha membujuk Brianna, namun gadis itu tetap menolak. "Panggil dokter Alex saja Kakak, aku tidak mau ke rumah sakit"
"Baiklah aku akan menelponnya"