My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Berhenti Mengaturku!



Brianna memutuskan untuk berkeliling, siapa tahu ada sesuatu yang bisa di kerjakan. Saat ini ia sudah berada di depan paviliun, tiba-tiba ia merindukan Mia. Seharian ini ia belum bertemu wanita itu.


Brianna mulai memasuki paviliun namun saat sampai di ambang pintu tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang.


Bukhh!!!


Prang!!!!


"Astaga!!!"


"Maaf aku tidak sengaja"


"Ya Tuhan gelasnya!!" wanita itu panik melihat benda yang dibawanya pecah. Ia memunguti pecahan gelasnya dengan dibantu Brianna. Wanita itu adalah Samantha.


"Sungguh aku benar-benar tidak sengaja. Maafkan aku" sesal Brianna, wajahnya jelas sekali sangat cemas.


Samantha menatap Brianna kesal, wanita itu hanya diam sambil membereskan kekacauan yang ada.


"Bagaimana ini?"


"Ckk pasti nyonya Emily menyuruh kita ganti rugi" Samantha tak kalah paniknya, masalahnya gelas-gelas tersebut pasti sangat mahal.


"Kalau begitu ayo kita membeli yang baru"


"Memangnya kau punya uang?"


Brianna terdiam, ia memang tidak memiliki uang simpanan. Tapi ia bisa meminjam pada mamanya.


"Aku akan meminjamnya pada mama"


"Sudahlah pakai uangku saja, kebetulan aku masih memiliki tabungan. Sekarang kau temani aku membeli gelas yang baru"


Brianna terkejut mendengar ucapan Samantha, apa ia salah dengar? Samantha meminta Brianna untuk menemaninya? Brianna merasa aneh dengan sikap Samantha, biasanya wanita itu selalu melemparkan tatapan sinis padanya. Tapi sekarang? Sikap Samantha terlihat biasa-biasa saja tidak sedingin kemarin-kemarin. Apa mungkin Samantha sudah berubah?


"Ayo cepat Brianna, kita harus membeli gelas yang baru sebelum nyonya Emily mengetahuinya"


"Ah, baik"


Dalam hatinya Brianna merasa bahagia, Samantha tidak sedingin kemarin. Mungkin ini awal yang baik untuk memperbaiki hubungannya dengan Samantha. Tapi di sisi lain, Samantha diam-diam tersenyum menyeringai, seperti tengah merencanakan sesuatu yang buruk pada Brianna.


#


Marvin berjalan memasuki ruang kerjanya, pria itu baru saja menghadiri rapat bersama kolega bisnisnya. Wajahnya selalu terlihat serius saat berada di kantor, hingga orang-orang merasa segan padanya termasuk para karyawannya.


"Ariana, apa agendaku setelah ini?" Marvin bertanya pada sekretarisnya yang baru saja masuk ke ruangannya. Wanita itu dengan cekatan membuka notenya untuk melihat agenda Presdirnya


"Jam 2 siang ada pertemuan penting dengan para investor Tuan"


Marvin menghela nafas lelah, seharian ini ia sudah menghadiri 3 rapat. Tubuhnya lelah dan ingin beristirahat, tapi semua pekerjaan ini sangatlah penting demi masa depan perusahaannya.


"Baiklah kau boleh keluar sekarang"


"Ada apa mama menelpon sebanyak ini?"


Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, sang mama kembali menelponnya.


"Hallo"


"Anak nakal!!! Kenapa baru aktif hah?"


"Aishh mama jangan berteriak, telingaku bisa tuli!" Dengus Marvin kesal.


"Ada yang ingin mama katakan denganmu"


"Katakan saja"


"Ini soal perjodohanmu"


Marvin mendengus, lagi-lagi sang mama membicarakan soal perjodohan. Ia sudah malas membahas hal itu. Sudah berapa kali ia menolak, tapi mamanya ini sangatlah keras kepala.


"mama sudah berapa ratus kali aku bilang, aku tidak mau di jodohkan!"


"Vin, kali ini mama menemukan gadis yang tepat untukmu. Dia sangat cantik, anggun dan juga tentunya cerdas. Mama rasa kau akan menyukainya"


"Sesempurna apapun wanita itu aku tetap tidak tertarik" ketus Marvin. Karena satu-satunya wanita yang paling sempurna di matanya hanyalah Brianna Carissa. Hanya gadis itu yang berhasil mengisi hatinya, bukan wanita lain.


"Aishhhh kau kan belum bertemu dengannya, coba saja dulu siapa tahu diantara kalian ada kecocokan."


"Tidak terimakasih, ma"


"Marvin Xavier!!!"


"Aku akan menutup teleponnya, ada rapat yang harus aku hadiri sekarang"


"Hei! Marvin Xavier, pokoknya mama tidak mau tahu minggu depan kalian harus bertemu!"


"Aku tidak bisa! Berhenti mengaturku, karena aku sudah menemukan gadis yang aku cintai!" Marvin nampak frustasi, mamanya selalu ikut campur soal asmaranya.


"APA??? Kau sudah punya kekasih?"


"Ya, jadi berhenti mencarikan wanita untukku" Marvin terpaksa berbohong, walaupun Brianna belum resmi menjadi kekasihnya tapi Marvin akan segera menjadikan gadis itu sebagai miliknya.


"Jadi siapa kekasihmu? apa pekerjaan orang tuanya?" Tanya sang mama semangat. Marvin tampak mendengus mendengar pertanyaan mamanya. Apakah itu penting?


"Nanti akan aku kenalkan pada mama"


Plip!!!


Marvin menutup teleponnya secara sepihak tanpa menjawab pertanyaan mamanya, ia belum siap mendengar reaksi sang mama mengenai pekerjaan orang tua Brianna. Hal ini akan sangat sulit untuk diterima oleh Livy, mengingat mamanya sangat menjunjung tinggi sebuah status. Termasuk status calon menantunya kelak.