My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Boleh Aku Bermain Dengan Adikmu?



"Bagaimana keadaannya?" Marvin bertanya pada Alex, yaitu seorang teman yang sekaligus merangkap jadi dokter pribadinya.


"Jangan khawatir, hidungnya tidak patah. Syukurlah darahnya sudah dikeluarkan sepenuhnya. Jadi semuanya aman"


Marvin akhirnya bisa bernafas lega. Mamanya dan juga Mama Brianna juga ada di sana sekarang. Mereka begitu panik saat Marvin memberitahu jika Brianna terjatuh.


"Sayang lain kali hati-hati, kami semua sangat panik" Yasmine mengusap pucuk kepala putrinya lembut. Sorot matanya masih terlihat cemas.


"Maaf sudah membuat kalian panik. Sekarang aku baik-baik saja"


"Brianna jika kau merasakan sesuatu segera hubungi aku hmm" Alex tersenyum tipis pada Brianna sambil membereskan peralatan medisnya, "Terimakasih Dokter Alex" jawab Brianna. Sebenarnya gadis itu merasa tidak enak karena Alex datang di saat cuaca seperti ini, apalagi ini sudah malam.


"Lain kali hati-hati hmm"


"Terima kasih sudah datang"


"Tidak masalah ini sudah kewajiban ku melayani kesehatan keluargamu, kau sudah menggaji ku lebih dari semestinya" kekeh Alex, pria manis itu tidak ingin memakan gaji buta rupanya.


"Kalau begitu aku permisi" Marvin dan juga Mamanya langsung mengantarkan Alex sampai depan rumah. Setelah itu Marvin kembali ke kamarnya, di sana masih ada Mama Brianna yang menemani putrinya.


"Ma.. sungguh aku tidak apa-apa, lagipula ada kak Marvin yang menjagaku"


"Mama istirahatlah, Brianna sudah baik-baik saja".


"Baiklah, jika terjadi sesuatu segera hubungi Mama"


Yasmine mengecup kening putrinya penuh sayang, kemudian meninggalkan kamar tersebut. Kini giliran Marvin yang mendekati Brianna, ikut berbaring di samping istrinya.


"Malam ini kau membuat jantungku nyaris lepas" bisik Marvin sambil memeluk erat tubuh mungil Brianna.


"Maaf" Brianna mendongak menatap Marvin lalu mengelus pipi suaminya merasa bersalah.


Wajah Marvin mendekat lalu mengecup hidung Brianna pelan, di sana terlihat memar membuat Marvin meringis melihatnya. Syukurlah tidak ada luka serius akibat benturan di hidung istrinya itu. Kecupan Marvin turun ke bibir Brianna, menempelkan bibirnya lama di sana. Brianna memejamkan matanya mendapat perlakuan tersebut dari Marvin.


Setelah merasa cukup Marvin kembali menjauhkan wajahnya, namun tangan Brianna justru menahan wajah Marvin. Kelopak mata gadis itu kembali terbuka membuat pandangan mereka bertemu.


Kini Brianna yang bergerak, tangan melingkar di leher Marvin lalu dengan malu-malu bibirnya ******* bibir Marvin. Mata Marvin mengerjap beberapa saat begitu Brianna mencium bibirnya, terkejut dengan aksi berani Brianna. Tangan mungil itu merambat mengusap dada bidangnya, tentu saja perbuatan tangan istrinya itu berhasil memancing gairah Marvin.


Apakah Brianna sedang menggodanya?


Pertahanan Marvin akhirnya runtuh, sentuhan tangan nakal itu berhasil menyulut gairahnya. Dengan cepat Marvin membalas ciuman istrinya, mengatur posisi kepalanya agar hidungnya tidak terlalu bergesekkan dengan hidung Brianna yang terluka tadi.


Kini posisi Marvin sudah berada di atas Brianna, nafasnya memburu  begitu ciuman mereka terlepas untuk sejenak. "Kau sengaja menggodaku hmm?"


Marvin menatap wajah Brianna yang kini merona di bawah kuasanya. Lihatlah akibat perbuatan tangan Brianna, kancing piyamanya kini sudah terlepas menampilkan dada bidangnya yang putih bersih.


"Sial! Bahkan dia sudah mencuri start lebih dulu" batin Marvin geram, adiknya sudah memberontak di bawah sana, terbangun akibat aksi berani istrinya yang tidak seberapa itu.


Mata Brianna bergerak gugup, ia merasakan adik Marvin menyentuh pangkal pahanya yang masih berbalut kain. Tiba-tiba saja ia ingin bermain-main dengan adik Marvin malam ini, tapi ia malu untuk mengatakannya. Sepertinya kemesuman suaminya sudah mengotori otak polos Brianna. Cukup lama mereka dalam posisi itu, Marvin tahu ada sesuatu yang ingin Brianna utarakan saat ini.


"Kakak?" Brianna akhirnya bersuara. Marvin masih diam menunggu apa yang ingin Brianna ucapkan selanjutnya.


"Bo..boleh aku bermain dengan adik Kakak?" Ucapnya dengan wajah merah padam lengkap dengan wajah polosnya, matanya bergerak mencuri pandang ke arah milik Marvin di bawah sana.


Marvin terhenyak mendengar ucapan Brianna, rahangnya nyaris jatuh saking terkejutnya. Astaga Brianna ingin bermain dengan adiknya? Itu tandanya Brianna menginginkannya bukan?


Tanpa menjawab pertanyaan Brianna, Marvin kembali membungkam bibir mungil itu dengan ciuman panasnya. Tangan Marvin sudah bekerja melepas seluruh pakaian Brianna dan gadis itu sudah pasrah di bawah kuasa Marvin.


"Kau sudah tidak marah lagi padaku?" Marvin menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kening gadisnya. Gadis itu membuka matanya lalu menggeleng kecil. "Maaf atas kejadian tadi siang, pasti sikapku sangat menyebalkan kan".


Marvin mengulum senyumnya, menatap gadisnya dengan intens. "Aku yang harusnya meminta maaf, karena tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku sangat menyesal"


"Tidak, Kakak tidak salah. Harusnya aku mengerti dengan kesibukanmu bukan malah menuntut mu memenuhi keinginan ku"


"Baiklah lupakan soal tadi" Marvin mencium kening Brianna lama, kemudian keduanya saling melempar senyum.


"Jadi kau ingin bermain dengan adikku?" Goda Marvin dengan alis naik turun. Brianna merona lalu mengangguk malu-malu.


"Lakukan sesukamu sayang".