My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Apa Tidak Ada Gadis Lain?



Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Marvin dan Brianna sampai di rumah. Kegelisahan yang sempat hilang kini datang kembali saat Marvin membukakan pintu mobil untuknya.


Brianna menatap Marvin memohon, ia benar-benar belum siap bertemu Livy Xavier. Brianna benar-benar takut wanita itu tidak menyukainya, atau bahkan membencinya karena dirinya hanyalah seorang pelayan.


Marvin meraih tangan mungil tersebut untuk segera keluar dari mobil. Pria itu bisa merasakan tangan Brianna yang kembali berkeringat dingin.


"Hey tenanglah, mamaku tidak akan menggigitmu" Marvin terkekeh pelan merasa lucu melihat gelagat gadisnya.


"Kak, a.. aku akan masuk lewat pintu belakang. Jadi Kakak tidak perlu mengenalkan aku pada Nyonya Xavier"


"Tidak, Aku akan tetap mengenalkanmu pada mamaku" Marvin tetap pada pendiriannya.


"Ayolah kak"


"Putraku, kau sudah pulang?"


Suara seorang wanita berhasil menghentikan percakapan mereka. Sepasang kekasih tersebut refleks menoleh ke arah sumber suara.


Livy Xavier, wanita paruh baya itu kini sedang berdiri di ambang pintu utama. Alisnya terlihat mengernyit saat melihat sang putra tengah berbicara dengan seorang gadis berseragam sekolah.


Melihat keberadaan Livy, dengan cepat Brianna melepas genggaman tangan Marvin.


"Ma, bagaimana kabarmu?" Marvin berjalan mendekati sang mama, lalu memeluknya. Walaupun mereka sering berdebat, Marvin begitu menyayangi Livy.


"Tentu saja baik, bagaimana denganmu?"


"Seperti yang mama lihat"


"Marvin, siapa gadis itu?"


Livy menatapnya, dengan cepat Brianna membungkuk memberi hormat. "Halo Nyonya"


"Ma, lebih baik kita bicara di dalam"


#


Brianna meremas rok seragamnya saat Livy kini menatapnya penuh selidik. Gadis itu tidak berani menatap Livy, kepalanya terus menunduk menatap jari-jarinya yang semakin terasa dingin.


"Ma, perkenalkan ini Brianna Carissa, kekasihku"


Livy yang kebetulan sedang meminum secangkir tehnya, tiba-tiba tersedak mendengar ucapan Marvin. Bola matanya tampak membelalak tak percaya mendengar ucapan putranya.


"Hahaha bercandamu sungguh tidak lucu" Livy tertawa sambil mengamati penampilan Brianna dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Brianna semakin menundukkan wajahnya mendengar ucapan Livy.  Perasaannya mulai tidak enak.


"Aku serius. Dia adalah gadis yang selama ini aku cari"


Livy terdiam untuk beberapa saat, kini pandangannya berubah sangat sulit diartikan. Livy tahu selama ini Marvin memang sedang mencari sosok gadis kecil yang pernah menyelamatkan nyawa putranya dulu. Namun ia tidak habis pikir Marvin menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.


"Apa kau yakin ?"


"Sangat yakin, jadi apa mama setuju?"


"Nak, berapa usiamu?" Tanya Livy pada Brianna membuat gadis itu terkesiap.


"E.. enam belas tahun Nyonya"


Helaan nafas keluar dari mulut Livy "Apakah tidak ada gadis lain yang lebih dewasa darinya?"


"Apa maksud mama?"


"Gadis ini terlalu muda untukmu Marvin Xavier, bahkan ia masih di bawah 17 tahun. Mama ingin kau mencari calon istri yang dewasa yang bisa mengurusmu bukan gadis kecil sepertinya" balas Livy secara gamblang, tanpa mempedulikan perasaan Brianna.


"Apa itu masalah? Aku mencintainya,  Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang kan". Marvin berujar dingin


"Gadis seusianya mana mengerti soal cinta? Dia seharusnya fokus belajar bukan malah berpacaran". Perkataan Livy berhasil menohok perasaan Brianna. Kedua matanya sudah mulai terasa memanas diikuti dadanya yang terasa sesak.


"Sia-sia saja mama datang kesini jika pada akhirnya mama tetap tidak merestui pilihanku. Keputusanku sudah bulat, aku akan tetap memilihnya." Marvin berdiri dari tempatnya, lalu menarik tangan Brianna untuk ikut bersamanya ke lantai atas.


"Marvin Xavier, mama belum selesai bicara! Kau mau membawa gadis itu kemana?"


Marvin menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap sang mama dengan senyuman menyeringai. "Perlu mama ketahui, Brianna dan mamanya sudah tinggal disini selama 2 bulan".


"APAAA???"