My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Aku Tidak Yakin Dia Akan Mengingatnya



Marvin tak henti-hentinya tersenyum mengingat moment pagi nya bersama Brianna. Kehadiran gadis itu benar-benar memberikan dampak yang baik untuk kehidupan Marvin.


Ia benar-benar bersyukur telah dipertemukan kembali dengan Brianna, dan Marvin tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis itu. Ia akan menjadikan Brianna bagian dari hidupnya dan menjadikan gadis itu sebagai prioritas utamanya, mengingat Brianna lah malaikat penolongnya kala itu.


Tok...tok...tok!


Suara ketukan pintu berhasil menyadarkan Marvin, dari balik pintu muncul sekretarisnya yang bernama Ariana. Wanita itu membungkuk hormat, lalu berjalan ke arah Marvin sambil membawa map di tangannya.


"Permisi Presdir, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani."


"Ariana, apa jadwalku setelah ini?" Tanya Marvin sambil fokus menandatangani berkas tersebut.


Ariana segera mengeluarkan iPadnya untuk mengecek jadwal Marvin.


"Setelah jam makan siang ada pertemuan penting dengan para investor Tuan"


"Baiklah, siapkan bahan presentasinya. Hubungi aku jika semuanya telah siap"


"Baik Presdir, kalau begitu saya permisi"


Ariana undur diri, tak lama kemudian pintu kembali terbuka, James datang dengan senyuman menawan dibibirnya.


Kedatangan James tentu saja ada maksud tersendiri, James mengeluarkan flashdisk di dalam saku jaketnya lalu memberikannya pada Marvin.


"Sesuai apa yang kau minta, aku sudah mendapatkan semua informasi mengenai Brianna"


"Kerja bagus James, aku akan membacanya nanti di rumah".


"Kak. aku tadi bertemu Brianna, sepertinya gadis itu terlihat bosan"


"Bosan?"


"Tidak ada pekerjaan yang ia lakukan"


"Tentu, karena itu yang aku inginkan. Aku tidak mau Brianna kelelahan, dia hanya perlu mengurus keperluanku. Brianna tanggungjawabku mulai saat ini"


"Lalu kapan kau akan memberitahu Brianna tentang siapa dirimu sebenarnya?"


"Aku tidak yakin dia akan mengingatnya" Marvin menghela nafasnya, ia memang tidak yakin soal itu mengingat pertemuan mereka sudah berlalu sangat lama. Brianna terlalu kecil untuk mengingat hal semacam itu.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba, kau bisa menunjukkan payung dan juga syal yang ia tinggalkan saat itu"


Marvin terdiam untuk sejenak, James benar ia bisa menunjukkan payung dan syal itu pada Brianna. Tapi ini belum saatnya, Marvin masih ingin mendekati Brianna dengan caranya sendiri.


#


"Kak Samantha, boleh aku membantumu?" Brianna terlihat mendekati Samantha yang kini sedang smamak mencabuti rumput liar di taman belakang. Seharusnya ini pekerjaan Brianna, namun setelah Brianna resmi menjadi pelayan pribadi Marvin, Samantha lah yang mengambil alih pekerjaan Brianna sebelumnya. Dan ini benar-benar membuat Samantha jengkel.


"Tidak perlu!"


"kak masih marah ya padaku?"


"Pergi sana jangan mengangguku!"


"kak aku benar-benar minta maaf soal kejadian tadi pagi, Tuan Marvin jadi marah padamu"


Samantha menatap Brianna tajam, Samantha mendesis tidak suka.


"Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan pekerjaanku yang dulu Brianna Carissa!"


"Jika kau merasa keberatan aku akan berhenti menjadi pelayan pribadi Tuan Marvin, dan kau bis..."


"Sudahlah, kau hanya merusak moodku! Pergi sana!" Usir Samantha sambil mendorong tubuh Brianna nyaris terjatuh. Untung saja Brianna mampu menjaga keseimbangannya. Tidak menyerah begitu saja. Brianna justru ikut mencabuti rumput liar disana tanpa mempedulikan ucapan tajam Samantha.


"Dasar keras kepala! Ya sudah kau bereskan saja semuanya, aku ingin istirahat!" Samantha melepas sarung tangannya lalu melemparkannya ke arah Brianna, wanita itu pergi meninggalkan Brianna sendirian.


Brianna menatap punggung Samantha dengan nanar. Kenapa Samantha selalu sinis padanya, ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga Samantha membencinya seperti ini. Saat di desa pun, Samantha tidak pernah bersikap baik padanya.


"Brianna apa yang kau lakukan disini?"


Kepala pelayan Emily tiba-tiba datang menghampiri Brianna, sontak saja Brianna langsung menghentikkan aktifitasnya lalu membungkuk hormat pada wanita itu.


"Nyonya Emily aku sedang mencabut rumput liar ini"


"Brianna pekerjaanmu bukan disini lagi, kau adalah pelayan pribadi Tuan Marvin sekarang"


"Tidak apa-apa nyonya, aku hanya membantu kak Samantha"


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Ah, kak Samantha sedang beristirahat"


"Ckkk gadis itu selalu bermalas-malasan." Desis Emily tidak suka, sudah ia duga pekerjaan ini tidakklah cocok dengan sifat Samantha yang pemalas, seharusnya ia sudah memecatnya sejak dulu. Tapi mengingat bagaimana kondisi perekonomian Samantha, Emily harus mengurungkan niat tersebut, ia merasa tidak tega.


"Kak Samantha terlihat kelelahan, jadi aku menyuruhnya istirahat sebentar" bela Brianna berbohong, ia tidak mau Samantha kembali mendapat masalah, terlepas dari masalah pagi tadi dengan Marvin.


"Ya sudah sekarang bersihkan tubuhmu, setengah jam lagi Tuan Marvin akan pulang. Kau harus menyambutnya"


"Baik nyonya"


"Hufft Marvin bisa marah jika melihat ini Brianna Carissa"