
"Sepertinya kami melewatkan sesuatu yang sangat penting"
Kini Marvin dan Brianna sudah bergabung dengan mama mereka. Lusy berdehem sejenak, ekor matanya melirik ke arah Yasmine yang sedang menahan senyumnya. Hal tersebut semakin memicu keingintahuan Marvin maupun Brianna.
"Ku lihat kalian sangat akrab tadi"
"Benarkah?" Tanya Lusy dengan ekspresi tak berdosanya. Sontak saja Marvin mendengus, ia kesal sekaligus penasaran.
"Mama sejak kapan mengobrol dengan Nyonya Lusy?" Bisik Brianna, namun Yasmine hanya tersenyum menanggapinya.
"Baiklah sepertinya aku harus menghentikan sandiwara tadi."
Alis Marvin menyerngit mendengarnya. "Sandiwara apa maksud mama?"
"Soal ucapan mama kemarim, mama tidak benar-benar serius"
"Aishhh bicaralah dengan jelas ma!" Teriak Marvin kesal, ia tidak sadar disana masih ada mama Brianna.
"Ckk! Perhatikan sikapmu Marvin Xavier di sini ada mama Brianna!"
Peringatan Lusy berhasil menyadarkan Marvin, pria itu mengusap tengkuknya malu. Sedangkan Yasmine terkekeh melihatnya.
"Brianna kemarilah" Lusy meminta Brianna duduk di sampingnya. Sontak saja Brianna terkejut, ia takut sekaligus malu.
"Tidak perlu takut nak, kemarilah" nada bicara Lusy terdengar begitu lembut, bahkan ada senyuman manis tersemat di bibirnya.
"Astaga! Nyonya Lusy tersenyum padaku, apa ini mimpi?" Batin Brianna senang. Sikapnya sangatlah berbeda.
Dengan ragu akhirnya Brianna mendekat lalu duduk di sisi kiri Lusy. Sedangkan Marvin, pria itu sedari tadi sudah duduk di samping kanannya.
"Aku ingin meminta maaf soal kejadian kemarin. Sikap ku pasti membuatmu takut. Benarkan?" Ucap Lusy, tangannya terulur menyentuh telapak tangan Brianna lalu menggenggamnya. Brianna terkesiap, begitupun dengan Marvin. Ia makin mati penasaran melihat perubahan sikap mamanya.
"Maaf jika ucapanku melukai perasaan kalian. Aku tidak serius mengatakannya. Marvin, mama hanya ingin mengetes sejauh mana keseriusanmu pada gadis ini. Sebenarnya mama sudah tahu kedekatanmu dengan Brianna dan segala sesuatu yang terjadi di rumah ini".
"James yang melaporkan semuanya"
"Jadi apa mama merestui hubungan kami?"
"Sebelum kau meminta restu pada mama, mintalah restu dari mama Brianna. Kau belum bilangkan sudah memacari putrinya?" Dengus Lusy kesal.
Marvin meringis mendengarnya sekaligus malu, sedangkan Brianna wajahnya tampak memerah dan tak berani bersuara.
"Mama..."
Yasmine terkejut begitu Marvin memanggilnya seperti itu. Itu terdengar aneh dan lagi-lagi ia merasa tidak pantas. Panggilan tersebut baginya terlalu berlebihan.
"Maaf jika selama ini kami menutupi hubungan ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan semuanya, tapi Brianna melarangnya. Ia belum siap melihat reaksi mu." Marvin menghela nafasnya sejenak, lalu memberanikan diri menatap Yasmine. Wanita itu bisa melihat ketulusan Marvin lewat matanya.
"Dari awal mungkin kau sudah melihat bagaimana sikapku pada Brianna. Aku tertarik padanya, dan sekarang aku benar-benar mencintainya. Aku tidak pernah main-main soal perasaanku. Brianna gadis yang sangat istimewa untukku. 8 tahun aku mencarinya, aku yakin mama pasti sudah menceritakan semuanya padamu. Dengan besar harapan, tolong restui hubungan kami" Marvin menatap Yasmine memohon. Jantungnya turut berdebar menunggu jawaban Yasmine. Sama hal nya dengan Brianna.
Tanpa sadar Brianna meremas tangan Lusy yang masih menggenggam tangannya. Lusy terkekeh pelan lalu mengelus kepala Brianna lembut.
"Jika ini membuat kalian bahagia, dengan senang hati." jawab Yasmine tersenyum tulus. Ia melemparkan pandangannya pada Brianna. Mata putrinya terlihat berkaca-kaca.
"Terima kasih, Ma" Brianna berlari memeluk mamanya.
Akhirnya mereka bisa bernafas lega sekarang, tak lupa juga Marvin mengucapkan banyak terima kasih. Lalu Marvin beranjak mendekati mamanya. "Jadi apa mama juga merestui kami?"
"Tentu saja, mama sudah lelah mencari wanita untuk dijodohkan denganmu. Lagipula Brianna gadis yang sangat manis, mama menyukainya" Senyuman Marvin seketika mengembang, ia memeluk mamanya dengan erat membuat wanita paruh baya itu memekik karena sesak.
"Terima kasih, Ma"
"Lepas!! Kau ingin mama mati sebelum melihat kalian menikah hah!!"
Gelak tawa menghangatkan suasana diantara mereka. Ini adalah sebuah awal yang baik bagi hubungan Marvin dan Brianna. Keduanya sudah mendapat restu, kini Marvin hanya harus bersabar menunggu hari itu tiba, hari yang sangat ia impikan selama ini. Menjadikan Brianna sebagai miliknya dalam sebuah ikatan suci. Marvin harus bersabar menunggu Brianna lulus dari sekolah menengahnya. Setelah itu ia akan langsung melamar gadisnya.