
Malam kini telah berganti, sang Surya kini kembali menampakkan diri menerangi bumi. Suara burung mulai terdengar saling bersahutan, menyambut Marvin pagi ini.
Srettt!!!!
Suara tarikan gorden berhasil mengusik tidurnya, apalagi cahaya matahari pagi langsung menerobos masuk menyerang wajahnya. Marvin mengerang kesal merasa tidurnya terganggu. Kelopak matanya terpaksa ia buka, ingin melihat siapa yang sudah mengusik tidurnya.
"Selamat pagi Tuan"
Suara lembut menyapa indera pendengaran Marvin. Dengan pandangan samar ia bisa melihat siluet gadis tengah berdiri di depan jendela besar kamarnya. Marvin mengerjapkan matanya mengambil fokus, sudut bibirnya seketika melengkung ke atas melihat siapa orang yang mengganggu tidurnya yang singkat ini. Brianna Carissa, gadis itulah pelakunya. Pagi ini Brianna kembali melakukan aktifitasnya sebagai maid pribadi Marvin, tubuhnya sudah berbalut seragam maid yang selalu membuatnya tampak manis.
"Selamat pagi Tuan" sapa Brianna sekali lagi, senyuman gadis itu berhasil menghipnotis Marvin. Pria itu masih diam memandangi pemandangan indah lebih dari apapun.
Brianna mengusap tengkuknya melihat reaksi Marvin, pria itu terus menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ekhemm" Brianna berdehem pelan mencoba menyadarkan Marvin dan itu berhasil. Pria itu mengerjap lalu tersenyum simpul padanya.
Masih dalam kondisi berbaring, tangan Marvin mengayun ke udara memintanya untuk mendekat, lalu menepuk sisi ranjang kosong di sampingnya. Mengerti maksud Marvin, Brianna langsung mendekat lalu duduk di sisi ranjang dengan kikuk.
"Berbaringlah"
"A..apa?"
Brianna terkejut mendengar permintaan Marvin. Ia tidak serta merta melakukannya dan memilih diam mencerna ucapan Tuannya.
"Berbaring Brianna, ini perintah"
Brianna memandang Marvin ragu, lalu dengan perlahan membaringkan tubuhnya di sisi Marvin dengan kaku. Tanpa menunggu lama, Brianna dikejutkan dengan sebuah tangan yang menarik pinggangnya. Jantung Brianna berdegup dengan kencang saat wajahnya membentur dada bidang Marvin.
Marvin memeluknya!
"Ahhh nyamannya" gumam Marvin pelan, sambil memejamkan matanya menghirup aroma vanila yang menguar di tubuh Brianna. Aroma yang sudah menjadi favorit Marvin. Bahkan kaki jenjang Marvin turut membelit kaki Brianna, membuat gadis itu tidak bisa beranjak kemana-mana.
"Apa yang.."
"Tetaplah seperti ini, sebentar saja" bisik Marvin nyaris tak terdengar. Brianna hanya diam menuruti permintaan Marvin. Wajahnya sudah memanas dengan segala perilaku Marvin, bahkan Brianna bisa merasakan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepalanya.
"Tuan..."
"Apa kau sudah lupa dengan kesepakatan kita?" Marvin mulai berbicara, pria itu mulai merenggangkan pelukannya tanpa melepaskan tubuh gadisnya. Kini Marvin bisa melihat wajah Brianna dengan jelas
"Kesepakatan apa?"
"Panggilanmu padaku"
"Emm i..itu aku belum terbiasa"
"Baikah, Tu.. maksudku kakak"
"Katakan sekali lagi dengan keras" Brianna mendengus, namun tetap menurutinya
"Baik kakak!"
Marvin terkekeh mendengarnya, lalu mengecup kening gadis itu dengan cepat.
"Imutnya"
Sudah bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah Brianna saat ini, sekaligus terkejut dengan kecupan tiba-tiba yang diberikan Marvin. Jantungnya serasa akan lepas dari tempatnya.
"A..apa yang kakak lakukan?"
"Menciummu" jawab Marvin enteng, dengan senyuman menggoda.
Merasa tidak tahan lagi, Brianna langsung beranjak melepaskan diri dari pelukan Marvin, sebelum ia menjadi gila karena perlakuan pria itu. Hal tersebut membuat Marvin mencebik kesal. Ia masih ingin melihat wajah memerah Brianna lebih lama lagi.
"Ini sudah hampir jam 8, kau harus bersiap-siap bekerja"
"Terlambat pun tidak masalah" jawab Marvin santai. Posisinya kini berubah bersandar ke kepala ranjang, memandangi Brianna yang sedang mengambil beberapa pakaian kotor.
"Kalau dipecat bagaimana?" Tanya Brianna polos. Hal tersebut mengundang tawa Marvin, apa gadisnya tidak tahu jika dirinya adalah seorang CEO?
"Tidak ada yang berani memecatku sayang" goda Marvin membuat wajah Brianna kembali memanas. Marvin sangat suka melihat pipi putih itu merona, benar-benar menggemaskan.
"Kenapa seperti itu?" Tanya Brianna bingung, menyembunyikan rasa malunya.
"Karena aku adalah pemimpin perusahaannya, cantik"
Oh ayolah Marvin terlihat seperti om mesum yang sedang menggoda gadis SMA. Perkataan pria itu benar-benar menggelikan. Brianna tidak tahan untuk mendengar apa yang akan Marvin katakan selanjutnya.
Brianna memutuskan keluar dari kamar Marvin sambil membawa keranjang berisi pakaian kotor Marvin. Namun sebelum ia benar-benar keluar, Brianna kembali mengajukan pertanyaan. Oke ini yang terakhir.
"kakak menginginkan sarapan apa pagi ini?"
"Menginginkan mu"
Blammm!!!!
Pintu seketika tertutup tanpa ada sahutan lagi dari Brianna. Sedangkan Marvin? Pria itu sudah tertawa terpingkal-pingkal di atas ranjangnya hingga mengeluarkan air mata. Marvin begitu puas menggoda Brianna, namun ucapannya tadi bukanlah sembarang lelucon. Marvin benar-benar tulus mengatakannya.