
Briana mengerjapkan matanya begitu cahaya matahari mengganggu tidurnya pagi ini. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang dengan gerakan malas sambil sesekali mengucek kelopak matanya.
"Engghh" Briana berusaha mengumpulkan alam sadarnya dengan pandangan lurus ke arah langit-langit kamar. Ini bukan saatnya ia bermalas-malasan karena sekarang ia harus bangun pagi untuk sekolah.
"Selamat pagi"
Ucapan seseorang berhasil mengejutkan Briana. Itu bukan suara mamanya melainkan suara pria yang tidak lagi asing di telinganya. Kepalanya langsung menoleh ke samping dan mendapati Marvin yang sedang berbaring manis di sisinya. Pria itu sudah rapih dengan setelan kemeja, terlihat sangat maskulin dan juga tampan.
"Kakak!!" Briana memekik terkejut melihat Marvin. Dengan cepat ia pun menarik selimutnya lalu menutup wajahnya, Briana merasa malu. Bagaimana tidak, ia baru saja bangun tidur dan sudah pasti wajahnya sangat tidak enak di pandang.
"Hey kenapa terkejut seperti itu, memangnya aku hantu?"
"Kakak sedang apa disini?!" Tanya Briana masih dengan menutup wajahnya. Dari nada bicaranya, Briana terlihat kesal.
"Menunggu kekasihku bangun".
Ucapan Marvin berhasil membuat pipi Briana memerah. Kekasih? Oh ya ampun ia tidak menyangka jika sekarang ia sudah menjadi kekasih Marvin. Briana sedikit menurunkan selimutnya untuk mengintip pria di depannya.
"Sebaiknya kakak keluar, bagaimana jika mama melihat kita?"
"Tidak masalah" Marvin tampak tidak peduli, dengan begitu ia tidak perlu repot-repot menyembunyikan hubungan mereka. Namun berbeda dengan Briana, gadis itu belum siap sang mama mengetahui hubungan spesialnya dengan Marvin. Ia takut sang mama tidak menyukai hubungan mereka.
"Kak, ayolah"
Bukannya menurut Marvin justru terkekeh melihat kepanikan Briana. Ditariknya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, membuat Briana semakin menggeliat dalam pelukan Marvin. Tangannya dengan cepat menarik selimut yang menutupi wajah gadisnya.
"Kak!!!" Briana menjerit tertahan saat Marvin tiba-tiba menciumi wajahnya dengan gemas. Wajahnya tampak memanas atas semua perlakuan manis Marvin.
"Jangan menciumku, aku belum mandi!" Briana menutup wajahnya dengan telapak tangannya, merasa malu karena sudah pasti tubuhnya sangat bau. Berbeda sekali dengan Marvin yang sudah rapih. Bahkan pria itu tidak peduli jika kemeja yang ia kenakan sudah kusut.
"Aku menyukai wangi tubuhmu" goda Marvin.
"Berhenti menggodaku Tuan Marvin!" Briana mendorong dada Marvin menjauh, melepaskan diri dari pelukan Marvin lalu berlari memasuki kamar mandi. Kali ini Marvin mengalah, bibirnya lagi-lagi tidak lelah tersenyum. Suatu hiburan pagi yang menyenangkan.
"Nina!!" Briana berjalan mendekati temannya yang kini sedang duduk di bangku taman belakang sekolah. Gadis yang di panggil Nina itu mengalihkan pandangannya dari buku bacaan yang sedang dibacanya.
"Dari tadi aku mencarimu ternyata kau disini" Briana duduk di samping Nina. Ini adalah waktunya istirahat, Nina lebih memilih pergi ke taman belakang dari pada pergi ke kantin. Sudah jadi kebiasaan bagi Nina menghindar dari keramaian.
"Briana, apa kau sudah makan?" Tanya Nina sambil menutup bukunya. Dibanding pertemuan sebelumnya Nina menjadi lebih terbuka sekarang, sepertinya gadis itu nyaman berteman dengan Briana.
"Belum, sebenarnya aku ingin mengajakmu ke kantin tapi sepertinya kau lebih tertarik membaca buku disini"
"Ini memang tempat favoritku"
"Apa kau tidak lapar?" Tanya Briana. Bukannya menjawab, Nina memilih mengambil sesuatu di dalam tas kecilnya.
"Aku membawa bekal, apa kau mau makan denganku?"
"Whoaaa kelihatannya enak. Boleh aku mencobanya?" Bekal yang dibawa Nina memang terlihat menggiurkan, ada sandwich, olahan biji-bijian dan beberapa potongan buah segar buatan mama Nina. Hampir setiap hari Nina membawa bekal, hal tersebut untuk mengehemat uang jajannya.
"Tentu saja, mamaku sengaja membuatnya lebih banyak karena sekarang aku mempunyai teman baik" jawab Nina tersenyum tulus. Briana merasa tersanjung mendengarnya. Dibanding berteman dengan Steffy, Briana lebih nyaman berteman dengan Nina.
"Terimakasih Nina, aku senang memiliki teman sepertimu. Lain kali pertemukan aku dengan mamamu". Briana mulai menyuapkan satu buah Kimbab ke dalam mulutnya. Matanya membulat sempurna saat merasakan rasanya.
"Briana ada apa? Apa tidak enak?" Tanya Nina khawatir.
"Wah! Ini Sandwich terenak yang pernah aku makan"
Nina terkekeh mendengarnya "Terima kasih, nanti aku akan mengajakmu bertemu mama"
"Aku tunggu"
Keduanya larut dalam obrolan ringan sambil mengisi perut mereka hingga kenyang. Sesekali mereka tertawa riang, menandakkan bahwa pertemanan mereka berjalan dengan cukup baik.