
Brianna terdiam. Ekspresi wajahnya seketika berubah, senyuman yang tadi sempat tersemat perlahan memudar. Diikuti rasa sesak di dadanya.
"Kakak bilang tidak akan pergi ke luar negeri lagi sampai baby lahir" mata Brianna mulai berkabut.
"Maaf ini di luar dugaan, aku harus ..."
"Berapa lama?" Brianna memotong ucapan Marvin, hatinya was-was.
"Belum pasti, sepertinya akan sedikit lebih lama" Marvin menatap istrinya menyesal, ia sudah terlalu sering meninggalkan wanita hamil itu. Sudah pasti Brianna akan kecewa
"Boleh aku ikut?"
Marvin menggeleng dengan cepat, selama ini Marvin tidak pernah mengijinkan Brianna untuk ikut menemaninya bekerja ke luar negeri. Karena sudah pasti dirinya akan sangat sibuk dan kemungkinan besar banyak mengabaikan istrinya. Marvin takut Brianna merasa jenuh di sana, apalagi saat ini istrinya sedang hamil.
"Kenapa kakak selalu melarangku untuk ikut? Aku ingin menemani kakak di sana"
"Sayang dengarkan aku, alasanku masih tetap sama. Kau sedang hamil sekarang, di sana aku pasti sibuk mengurus pekerjaan. Aku takut kau bosan di sana dan aku tidak bisa menjagamu".
"Tidak apa-apa, asalkan aku bisa melihat wajah kakak setiap hari. Aku berjanji tidak akan merepotkan mu di sana" Brianna menatap Marvin memohon, namun keputusan Marvin tetap sama Brianna akan lebih aman jika tetap tinggal di rumah. Karena di rumah banyak orang yang merawat dan memperhatikan Brianna.
"Maaf sayang aku tidak bisa"
"Tapi aku tidak mau tidur sendirian lagi, aku ingin ada kakak menemaniku tidur!" Air mata Brianna yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluncur. Ia benar-benar tidak mau ditinggal kembali. Sudah cukup beberapa bulan terakhir Marvin selalu pergi ke luar negeri. Tidur sendirian tanpa ada pelukan hangat suaminya.
"Aku mohon ijinkan aku ikut" Brianna memeluk leher Marvin, menangis memohon di pundak suaminya layaknya anak kecil yang tidak mau di tinggal pergi oleh ayahnya bekerja. Ini pertama kalinya Brianna memohon sampai menangis. Tapi Marvin tidak ingin mengambil konsekuensi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di sana.
"Ku mohon hiks"
Tangisan Brianna semakin memberatkan Marvin pergi ke Jepang. Haruskah ia membawa Brianna kesana?
"Sayang" Marvin mendorong tubuh Brianna, menangkup kedua pipi istrinya yang sudah basah. Hatinya mencelos mendengar isakan kecil keluar dari bibir mungil Brianna. Ia menatap Marvin penuh harap, Brianna tidak bisa lagi jauh-jauh dari suaminya.
"Aku ingin sekali mengajakmu, tapi ... Sayang!"
Belum sempat Marvin menyelesaikan ucapannya, Brianna beranjak dari pangkuan Marvin lalu berlari keluar dari ruangan. Brianna sudah bisa menebak bahwa jawaban Marvin tetaplah sama. Suaminya tidak akan mengajaknya.
Bunyi bantingan pintu menjadi bukti kekecewaan wanita hamil itu. Marvin terperanjat dari kursinya lalu segera mengejar Brianna sambil memikirkan cara agar istri kecilnya itu berhenti merajuk.
Naas, Brianna langsung mengurung diri tanpa lupa mengunci pintu kamarnya.
"Sayang buka pintunya, maafkan aku!" Marvin berusaha memanggil Brianna sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka.
"Kakak jahat!!" Teriak Brianna dari dalam, tangisannya masih terdengar membuat Marvin mengacak rambutnya frusatasi.
"Mama..."
"Terjadi sesuatu dengan Brianna? Kalian bertengkar?"
"Brianna marah padaku karena besok aku harus pergi lagi ke Jepang, dia memaksa ingin ikut tapi aku tidak mengijinkan"
"Arggggh mama!!!"
Marvin dan Yasmine terkejut mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Brianna Carissa tiba-tiba berteriak kesakitan.
"Anna! Apa yang terjadi? Buka pintunya sayang!" Marvin panik bukan main begitupun dengan ibu mertuanya, wanita itu mengikuti Marvin menggedor pintu kamarnya memangil putrinya dengan cemas. Namun nihil hanya jerit kesakitan yang mereka dengar.
"Vin, apa ada kunci cadangan?"
"Tidak ada waktu untuk mencarinya, aku akan mendobrak pintunya" Marvin mengumpulkan tenaganya untuk membobol pintu tersebut, Yasmine menyingkirkan tubuhnya agar Marvin leluasa mendobraknya.. Setelah 3 percobaan akhirnya pintu kamarnya berhasil terbuka.
"Anna!"
"Kakak..."
Gadis itu kini duduk di atas lantai depan pintu kamar mandi, merintih merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. Marvin dan Yasmine segera menghampiri Brianna dan alangkah terkejutnya sang ibu melihat ada darah mengalir keluar dari ************ Brianna.
Marvin tidak sadar dengan pendarahan di sekitar paha Brianna. Ia fokus menatap tangan Brianna yang memegangi perutnya
"Apa yang terjadi?" Marvin tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya, jantungnya berdebar kencang melihat istrinya kesakitan
"Aku terpeleset, sakit sekali kakak"
"Marvin cepat kita bawa Brianna ke rumah sakit, Brianna pendarahan".
Ucapan sang ibu mengehentikan isakan Brianna sejenak, ia menunduk melihat paha dan betisnya yang kini ternodai darah. Begitupun dengan Marvin, wajahnya berubah pucat pasi melihat darah tersebut.
"Kak, anak kita!" Tangisan Brianna semakin pecah. Tangannya kanannya memegang erat perutnya, sedangkan tangan kirinya mencengkram lengan Marvin.
Tanpa menunggu lama, Marvin langsung mengangkat tubuh Brianna untuk di bawa ke rumah sakit. Hatinya dirundung kecemasan yang luar biasa, belum lagi tangisan Brianna membuat dadanya sesak.
"Sayang bertahanlah, kita ke rumah sakit sekarang"
"Ya Tuhan selamatkan istri dan anakku"