My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Dalang Dibalik Penculikan



Samantha terlihat mengemasi pakaian-pakaiannya ke dalam sebuah koper, wajahnya terlihat panik nyaris pucat pasi. Merasa kejahatannya akan diketahui Marvin, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah Marvin.


Setelah mengikuti Marvin, Samantha langsung menemui kepala pelayan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Samantha memberi alasan, jika ibunya tengah sakit keras di kampung. Jadi ia harus segera pulang untuk merawat mamanya. Sebuah kebohongan yang lagi-lagi Samantha lakukan untuk mengelabuhi Emily.


"Kau yakin akan pergi malam-malam begini?"


Samantha tersentak mendengar suara Emily yang tiba-tiba, ia baru saja keluar dari paviliun dan wanita paruh bayah itu mengejutkannya.


"I..iya.. ibuku sedang membutuhkan kehadiranku sekarang. Jadi aku tidak bisa menundanya lebih lama lagi Nyonya"


"Baiklah, hati-hati Samantha"


"Terimakasih nyonya"


Samantha menyeret kopernya dengan langkah terburu-buru, Emily mengikuti Samantha dari belakang membuat wanita itu kesal.


"Ckk kenapa wanita tua itu terus mengikutiku" batin Samantha kesal. Ia mencoba tidak peduli, dirinya harus keluar dari rumah Marvin sesegera mungkin sebelum pria itu kembali.


Baru saja ia sampai di pintu gerbang, dua orang security langsung menghadangnya.


"Mau kemana kau?" Tanya salah satu security dengan sorot mata tajam. Samantha menelan ludahnya gugup, namun berusaha untuk bersikap tenang. Wanita itu menyunggingkan senyuman palsunya ke arah dua pengganggu di hadapnnya.


"Ada apa ini, kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Berusaha melarikan diri hah?"


"A.. apa maksud kalian?"


"Kau pikir kami tidak mengetahui rencana busukmu itu hah?"


Samantha tersentak mendengar ucapan Emily, wanita itu berjalan mendekati Samantha dengan tatapan intimidasinya.


Emily tersenyum menyeringai menatap Samantha yang sudah berkeringat dingin. Emily sudah mengetahui semuanya tentang penculikan Brianna, Marvin sudah memberitahunya dan tak di sangka-sangka pelakunya adalah salah satu maid didikannya. Marvin memberitahunya untuk menahan Samantha, untuk itu ia langsung memberitahu para penjaga supaya mencegat Samantha agar tidak keluar dari rumah Marvin.


"Kau kan dalang dibalik penculikan Brianna?"


"A..apa maksud nyonya? Aku tidak mengerti".


"Jangan coba mengelak Samantha, Tuan Marvin sudah memiliki bukti yang kuat. Kau menyuruh orang untuk menculik Brianna dan membuangnya ke hutan. Benarkan?


"Tidak nyonya, sungguh aku tidak tahu apapun!"


"Tangkap wanita ini!"


Kedua security tersebut langsung sigap menahan Samantha. Lalu menyeretnya ke pos security tempat mereka berjaga.


"Hei!!! Lepaskan aku!! Aku tidak tahu apa-apa!" Samantha memberontak, ia tidak mau di tahan apalagi harus di hukum oleh Marvin Xavier.


"Aku ingin menghukummu, tapi sepertinya Tuan Marvin lebih berhak melakukannya. Bersiap-siap saja Samantha!" Emily berujar dingin. Wajah Samantha semakin pucat pasi mendengar Emily menyebut nama Marvin.


"Nyonya semua itu hanya omong kosong! Aku tidak tahu apapun!"


"Terus awasi dia, jangan sampai wanita ini lolos. Tunggu sampai Tuan Marvin datang" Emily mengabaikan teriakan Samantha, dan lebih memilih berbicara pada security tersebut.


"Baik Nyonya"


#


Brianna menggeliat pelan dalam tidurnya saat kesadarannya perlahan kembali. Matanya mengerjap perlahan, menatap sekitar yang nampaknya masih sama. Dirinya masih berada di dalam mobil Marvin, dengan posisi yang masih sama pula yaitu memeluk tubuh Marvin.


Rasanya ia sudah tertidur lama, padahal baru 1 jam Brianna tertidur. James masih fokus menyetir, tanpa menyadari Brianna yang sudah terbangun. Brianna mendongakkan wajahnya ke atas, memandang Marvin yang ternyata sedang tidur. Tangannya masih betah merengkuh tubuhnya dalam kehangatan, namun kali ini tidak seerat tadi.


Brianna bisa melihat ada gurat kelelahan di wajah tampannya, membuat Brianna merasa bersalah.


"Aku pasti sangat merepotkanmu Tuan" gumamnya pelan. Sorot matanya berubah sendu menatap Marvin dengan lekat. Brianna bisa merasakan hembusan hangat nafas Marvin menerpa wajahnya karena wajah mereka begitu dekat.


Dari jarak sedekat ini, Brianna baru menyadari jika Marvin memiliki bulu mata yang lentik dan panjang. Pipinya yang menawan itu menggoda Brianna untuk menyentuhnya. Dengan perlahan tangan mungilnya terulur menyentuh pipi Marvin.


Entah kenapa ia merasakan perasaan yang berbeda saat berdekatan dengan Marvin, sebuah perasaan yang sulit ia mengerti. Yang jelas dirinya nyaman berdekatan dengan Marvin.


Brianna mengelus pipi kanan Marvin dengan lembut Brianna merasa gemas melihat pipi Marvin. Ingin rasanya ia mencubit pipi Tuannya tersebut.


Namun Brianna tidak memiliki keberanian, ia takut membangunkan Marvin.


Kryuuukk..


"Ashhh perutku" Brianna meringis pelan mendengar perutnya bersuara. Ia menghentikan usapannya di pipi Marvin lalu beralih mengelus perutnya . Cacing-cacing di perutnya kembali memberontak meminta asupan makanan.


"Sudah bangun?"


Brianna tersentak mendengar suara Marvin, otomatis Brianna mengangkat wajahnya menatap Marvin. Pria itu tengah tersenyum manis padanya dengan mata setengah mengantuk. Brianna melepaskan diri dari pelukan Marvin, ia merasa malu di tatap seperti itu.


"Apa Tuan Marvin mendengar suara perutku hingga terbangun?" Batin Brianna menebak. Jika memang benar, sungguh ia sangat malu hingga pipinya langsung memanas.


Kryukkkk


Lagi, suara itu kembali terdengar tapi kali ini jauh lebih keras, hingga James dapat mendengarnya. Brianna menundukkan wajahnya malu, benar-benar sangat malu. Brianna merutuki perutnya yang tidak sopan itu, bahkan ia bisa mendengar James tertawa pelan dibalik kemudinya.


"Apa itu suara di dalam perutmu?"


"Ma..maaf" Cicit Brianna pelan tanpa berani menatap Marvin.


"Hey kenapa minta maaf? Apa kau lapar?" Tangan besar Marvin menangkup kedua pipi Brianna, hingga mau tidak mau ia harus kembali bertatap muka dengan Marvin. Gadis itu mengangguk kecil, hingga suara ringisan terdengar oleh telinga Marvin. Brianna tampak menggigit bibir bawahnya, perutnya terasa perih.


"Apa Tuan terbangun karena mendengar suara perutku?" Tanya Brianna polos.


"Apa???"


"Kak, Brianna pasti belum makan apapun sejak tadi siang"


"Astaga! James cepat cari restoran 24 jam" perintah Marvin cepat, ia menatap Brianna cemas. Rasa kantuknya menguap begitu saja, harusnya ia menyadari itu sejak awal.


"Marvin Xavier bodoh! Gadismu pasti kelaparan" Marvin merutuki dirinya sendiri.


"A..aku tidak apa-apa Tuan, aku bisa makan dirumah nanti"


"Tidak, kau harus makan dengan segera" Marvin sangat tidak suka penolakan, lagipula masih butuh 2 jam lagi untuk sampai ke rumah. Ia tidak mau Brianna mati kelaparan. Oke mungkin ini berlebihan tapi Marvin benar-benar khawatir gadisnya jatuh sakit.