My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Sepertinya Aku Tertarik Padamu



Sesuai keinginan James, Mia kembali menemui pria itu di dapur. Syukurlah saat ini belum ada chef atau pelayan lain yang datang ke dapur karena ini masih pukul 10 pagi, jadi mereka leluasa mengobrol tanpa ada gangguan. Sedangkan Brianna gadis itu masih duduk manis di gazebo dengan beberapa majalah di tangannya.


James menyiapkan satu kursi kosong di sampingnya, membiarkan Mia duduk di sana.


"Bagaimana rasanya?" Mia bertanya dengan was-was, takut jika Dalgona Coffee buatannya gagal. James mulai mencicipinya, wajahnya seketika berbinar begitu minuman tersebut menyentuh lidahnya. Ia menatap Mia dengan ekspresi kagum "Ini sangat enak Mia, manisnya pas di lidahku".


"Benarkah?" Wajahnya merona dengan pujian James.


"Kau harus mencobanya" James menyendok kopi tersebut, lalu mengarahkannya ke mulut Mia, gadis itu mengerjap melihat tingkah pria itu.


"Ayo buka mulutmu"


Dengan malu-malu Mia membuka mulutnya menerima suapan James. "Enak bukan?"


Mia mengangguk setuju dengan pendapat James. Ia patut berbangga diri sekarang Dalgona buatnya benar-benar enak dan pria itu menyukainya. Diam-diam Mia tersenyum malu.


Tak lama kemudian Mia mendengar pria di depannya tertawa.


Mia mengangkat wajahnya heran, kenapa James tertawa? Apa ada yang lucu?


"Mia kau lucu sekali" kekeh James. Lucu? Memangnya apa yang ia lakukan? Batin Mia bingung.


Belum sempat Mia bertanya, tubuh Mia seketika menegang saat merasakan jempol James menyentuh sudut bibirnya. Jantungnya nyaris jatuh dari tempatnya, begitu melihat senyuman manis itu lagi.


"Creamnya mengotori bibirmu" ucap James pelan dengan senyuman tampannya.


Ekspresi pria itu perlahan berubah, tatapan James berubah begitu intens. Bukannya menjauhkan tangannya, James justru tergoda menyentuh pipi lembut Mia. Keduanya terdiam seolah terhipnotis dengan saling menatap satu sama lain.


James merasa enggan menyingkirkan tangan lancangnya di wajah cantik Mia. Pria itu begitu terpesona melihat wajah Mia dalam jarak sedekat ini, merekam paras menawan itu dalam memori ingatannya. James amat sangat berterimakasih pada Min Soo dan Marvin karena sudah menerima Mia bekerja di rumah ini.


Keduanya tidak sadar jika jarak di antara mereka semakin mengikis. Mia perlahan merasa nyaman dengan sentuhan telapak tangan James di pipinya, terasa begitu hangat.


Pandangan James turun ke arah bibir Mia, benda tersebut terlihat merah alami dan menggodanya untuk di kecup. Hati kecil James berteriak ingin merasai bibir plum itu dalam mulutnya. Sial! Akal sehat James mulai goyah, apalagi melihat tatapan Mia saat ini. Polos dan juga amat sangat cantik. Wajah James perlahan mulai mendekat, semakin mengikis jarak wajah mereka.


Mia sadar apa yang akan James lakukan, namun bukannya menghindar tubuhnya justru merespon pergerakan James.


"Mia" bisik James tepat di depan bibirnya. James menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, sedangkan Mia lidahnya mendadak kelu untuk sekedar mengeluarkan gumaman.


Deg deg deg


Dada Mia bergemuruh, pasokan udaranya terasa di rebut paksa. Belum lagi wajahnya kian memanas mendengar ucapan tak terduga Yang James.


Wajah James kembali mendekat melanjutkan niatnya yang tertunda, tinggal sedikit lagi bibir mereka bertemu, mata Mia mulai terpejam menanti tindakan James selanjutnya. Tiba-tiba saja...


"KAK JAMES!!!"


Sial!


Si pengganggu muncul secara tiba-tiba dengan wajah polosnya. Brianna Carissa, wanita hamil itu muncul dari arah pintu dapur dengan wajah tak berdosanya. Refleks James menjauhkan tubuhnya dari Mia, begitupun dengan Mia gadis itu langsung membuka matanya dan bergerak salah tingkah bahkan tubuhnya nyaris terjatuh dari kursi saking paniknya. Astaga mereka hampir saja terciduk akan berciuman.


"Kakak sedang apa di sini?" Brianna mendekati kedua sejoli yang sedang kasmaran itu. James berdehem sejenak, berusaha menormalkan wajahnya. Mengusap tengkuknya yang memerah hingga ke wajahnya. Batinnya mengumpat melihat kedatangan Brianna yang tidak tepat. Ekor matanya melirik ke arah Mia yang kini pura-pura mengelap meja makan dengan gugup. Wajah gadiis itu tak kalah meronanya dengan James.


"Ah tadi aku habis dari ruangan Marvin mengambil berkas yang tertinggal, lalu Mia menawariku Dalgona Coffee buatannya jadi aku diam dulu di sini sebentar" jawab James, hal tersebut langsung mendapat delikan kesal dari Mia. Menawari? Bukankah pria itu yang memintanya lebih dulu?


"Wah kakak meminumnya juga? Dalgona buatan Mia kakak sangat lezat kan?" Brianna kini beralih menatap Mia dengan senyuman merekah "Aku menyukai kopinya, terima kasih".


"Ya sangat-sangat enak, aku jadi ketagihan ingin di buatkan setiap hari" balas James dengan senyuman jahil di bibirnya.


"Anda bisa diabetes jika meminumnya setiap hari Tuan" jawab Mia dengan sedikit kesal.


"Wah kelihatannya kalian semakin akrab" kini giliran Brianna yang menggoda James dan Mia, wanita itu kembali salah tingkah.


"Baiklah Brianna, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Emm Mia terima kasih untuk minumannya" James tersenyum tulus, Mia merespon dengan anggukan pelan lengkap dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Hati-hati!"


James terkekeh menatap Brianna lalu mengacak rambut Brianna dengan gemas "Aku pergi"


James berjalan menuju pintu dapur, sebelumnya ia berpapasan dengan Mia. Pria itu mengehentikan langkahnya sejenak, menahan tangan Mia yang hendak menuju westafel.


"Sabtu malam ayo kita berkencan" bisiknya.