My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Brianna Menemukan Sesuatu



"Sampai bertemu besok!!" Brianna melambaikan tangannya ke arah Nina yang sudah berjalan lebih dulu. Gadis berkaca mata itu turut membalasnya dengan senyuman tipis lalu pergi menaiki sepeda berwarna biru miliknya. Setiap hari Nina memang selalu menggunakan sepedanya untuk pergi ke sekolah. Nina bukanlah anak dari kalangan orang kaya, gadis lugu itu hidup dalam keluarga sederhana, sama seperti Brianna.


Orang tuanya hanya seorang pedagang kaki lima, yang penghasilannya terbilang tidak banyak namun cukup untuk menghidupi keluarganya. Lantas bagaimana bisa Nina bisa sekolah di sekolah elit seperti Trinity?


Tentu saja hal itu berkat otak cerdasnya yang mengantarkan Nina ke sekolah tersebut. Dengan mengandalkan beasiswa, gadis itu berhasil masuk ke sekolah Trinity.


Sekarang giliran Brianna yang akan pulang, namun ekspresi gadis itu terlihat bingung harus ke arah mana ia pulang. Jika ia menggunakan bus ia tidak tahu rute mana saja yang harus ia lewati. Brianna sedikit kesulitan jika harus mengingat jalan.


Cukup lama Brianna terdiam, akhirnya Brianna memutuskan untuk berjalan menuju halte akan tetapi sebuah mobil hitam menghentikan langkahnya. Brianna hafal betul siapa pemilik mobil tersebut, siapa lagi kalau bukan Marvin Xavier.


"Kak Marvin" senyuman Brianna mengembang melihat Marvin datang menjemputnya. Marvin membalas senyuman gadis itu lalu menghampirinya.


"Apa aku terlambat menjemputmu?"


"Seharusnya kakak tidak perlu menjemputku"


"Dan membiarkanmu tersesat di jalanan begitu? Aku tahu kau belum hafal jalan pulang. Benar kan?"


Brianna terkekeh malu, ucapan Marvin memang benar. Jika Marvin tidak menjemputnya mungkin ia tidak akan sampai rumah dengan cepat.


"Mulai besok kau akan di antar jemput olehku atau James"


"Kurasa itu tidak perlu kak, itu sangat merepotkan. Aku bisa menaiki bus"


"Tidak ada penolakan!"


Kalimat mutlak yang tidak bisa Brianna bantah. Jika Marvin sudah mengatakan itu, sudah pasti Brianna harus menurut. Brianna hanya bisa mendengus dengan bibir mengerucut.


"Sebelum pulang, kita makan dulu oke?"


Walaupun jam makan siang sudah lewat, Marvin tahu Brianna pasti lapar sekarang. Mereka akhirnya meninggalkan tempat.


Kali ini mereka tidak makan di kedai pinggir jalan lagi melainkan restoran mewah yang menjadi langganan Marvin.


"Kenapa kita kesini?"


"Apa kau tidak lapar?"


"Umm sedikit"


"Pesanlah sesuatu, aku yang bayar"


"Benarkah?" Tanya Brianna berbinar, hal itu menimbulkan tawa dari mulut Marvin. Pria itu langsung memanggil pramusaji dan memberikan buku menu pada Brianna.


"Pesan saja semuanya jika kau mau" ucap Marvin santai.


"kakak saja yang memilih aku tidak mengerti semua makanan ini"


Marvin terkekeh mendengarnya, akhirnya pria itu memutuskan memesan makanan favoritenya dan ia yakin Brianna pun akan menyukainya.


"Bagaimana tadi di sekolah?" Marvin membuka obrolan, sambil menikmati hidangan di meja mereka.


"Sangat menyenangkan, aku sudah mendapatkan teman baik namanya Nina"


Brianna mulai bercerita, gadis itu terlihat bersemangat menceritakan semuanya pada Marvin bahkan dengan mulut penuh sekalipun.


"Telan dulu makanannya nanti kau tersedak" Marvin memperingati, sambil sesekali membersihkan sudut bibir Brianna yang kotor oleh noda makanan. Alhasil perlakuan manis Marvin itu menimbulkan semburat merah di pipi gadis itu.


#


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, keduanya langsung pulang ke rumah. Brianna langsung pergi ke kamarnya dan bergegas mengganti pakaiannya. Walaupun sekarang ia sudah bersekolah Brianna tidak pernah melupakan pekerjaannya.


"Saatnya membereskan perpustakaan"


Ini adalah tugas yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Sudah beberapa hari ini ia tidak mengunjungi perpustakaan milik Marvin. Brianna ingin membaca kembali komik-komik koleksi Marvin, sekaligus merapihkan buku-buku disana.


Brianna memasuki ruang kerja Marvin secara diam-diam. Ruangan tersebut tampak kosong, sepertinya sang pemilik masih berada di kamarnya.


Brianna berjalan menuju rak besar di sudut ruangan. Gadis itu berencana merapihkan ruang kerja Marvin sebelum ia meminjam komik favoritnya.


Brianna merapihkan beberapa berkas yang menumpuk di meja kerja Marvin, Dia sama sekali tidak mengerti isi dari kertas-kertas itu. Sudah pasti lembaran kertas itu sangatlah penting dan ia harus berhati-hati merapihkannya.


Saat membereskan meja kerja Marvin, tanpa sengaja Brianna membuka sebuah laci. Ia terdiam melihat sesuatu yang tak asing di matanya. Sebuah benda yang mirip sekali dengan apa yang ia miliki dulu yaitu sebuah payung merah.


Disamping payung tersebut, ada sebuah kotak berukuran sedang. Rasa penasaran muncul di benak gadis itu. Dengan perlahan ia mengambilnya dan membukanya. Rupanya kotak tersebut berisi sebuah syal yang memiliki warna yang sama dengan miliknya.


"Tidak mungkin" Brianna menatap benda tersebut tak percaya.


Brianna bisa melihat ada sesuatu bertuliskan "BC" di ujung syal tersebut. Hal ini semakin meyakinkan Brianna jika syal itu benar-benar miliknya. Dulu mamanya sendiri yang merajut inisial tersebut yang berarti namanya, Brianna Carissa.


"Kenapa syal ini ada di laci kak Marvin?" Gumamnya bertanya-tanya. Selanjutnya ia mengambil payung merah di samping syal tadi.


Mata Brianna seketika memanas melihat payung tersebut, bayangan mendiang ayahnya melintas di pikiran Brianna. Dulu ayahnya pernah memberinya sebuah payung berwarna merah, dan ia yakin payung yang ada di tangannya ini adalah payung yang sama. Brianna sering menggunakannya saat duduk di bangku sekolah dasar ketika musim penghujan datang.