My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Pertama Kali Makan di Kedai Kaki Lima



Sekeras apapun Brianna menolak, Marvin tetap dalam pendiriannya untuk membeli baju-baju tersebut. Entah sudah berapa baju yang Brianna coba, semuanya sudah masuk ke dalam paper bag. Bahkan dua bodyguard yang sedari tadi mengikuti mereka kerepotan membawanya.


Tidak hanya baju, sepatu, tas dan aksesoris lainnya menjadi incaran Marvin. Pria itu malah lebih semangat dibanding Brianna. Tidak lupa juga Marvin membelikan pakaian untuk mama Brianna.


"Lebih bagus yang hitam atau putih?" Marvin menunjukkan dua pasang sepatu pada Brianna, memilah mana yang lebih cocok untuk gadisnya.


"Dua-duanya bagus"


"Baiklah kita ambil dua-duanya"


"APA?"


Brianna segera merebut sepatu tersebut dari tangan Marvin, lalu menyimpannya kembali ke tempatnya. Baiklah ini sudah cukup, Marvin sudah banyak menguras dompetnya hanya untuk pelayan sepertinya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ini sudah cukup, Tuan sudah membeli tiga sepatu untukku" ujar Brianna frustasi, kini Brianna mengeluarkan jurus memelasnya agar Marvin berhenti.


"Apa kau lelah?"


Brianna mengangguk jujur, kakinya sudah pegal 3 jam terus berdiri dan juga perutnya mulai terasa lapar.


"Baiklah sekarang kita pergi makan siang. Kurasa ini sudah cukup"


"Lebih dari cukup Tuan Marvin!" Batin Brianna mengerang kesal.


Bukannya ia tidak suka, ia sungguh berterimakasih pada Marvin


Hanya saja ini terlalu berlebihan jika disebut bonus, apa yang ia lakukan bukanlah apa-apa. Tidak sebanding dengan apa yang Marvin beri.


Setelah ia pulang nanti, apa yang harus ia katakan pada sang mama? Bagaimana jika pelayan lain iri lagi padanya? Ah itu sudah pasti.


"Brianna Carissa ayo! Kenapa kau melamun?"


#


Marvin menatap ngeri keadaan tempat makan yang ia singgahi sekarang. Setelah puas berbelanja akhirnya Marvin memutuskan untuk mengajak Brianna makan siang.


Bukan restoran mewah berbintang lima yang biasa ia datangi melainkan sebuah kedai pinggir jalan yang tak jauh dari mall tadi.


Lantas untuk apa Marvin datang kesana? Tentu saja ini bukanlah pihannya, melainkan pilihan seorang gadis yang sekarang tengah lahap memakan mie kesukaannya.


Ini berawal ketika Marvin bertanya jenis makanan apa yang Brianna sukai. Kebetulan sekali Brianna sedang ingin memakan olahan mie, sialnya lagi kedai tersebut tepat berada di hadapan Brianna dan gadis itu refleks menujuk kedai tersebut.


Marvin sempat membujuk Brianna untuk tidak makan di tempat tersebut, karena takut makanan pinggir jalan tidak hygenis. Namun ekspresi yang Brianna keluarkan adalah wajah murung yang membuat Marvin merasa bersalah.


Akhirnya Marvin mengalah, lihatlah pengaruh gadis itu benar-benar luar biasa. Seorang Marvin Xavier bahkan rela makan di kedai kaki lima demi pelayan pribadinya, menyingkirkan rasa gengsinya demi sang gadis.


"Kenapa Tuan diam saja? Apa Tuan tidak menyukai makanannya?" Brianna menatap Marvin yang sedari tadi terlihat tidak nyaman.


"Tapi bukan tempat seperti ini yang aku harapkan!" Lanjutnya dalam hati.


Ingin rasanya Marvin menyeret Brianna keluar dari kedai tersebut, namun setelah melihat bagaimana lahapnya Brianna saat ini membuat Marvin tidak tega.


Marvin mulai mengambil sumpitnya, mengaduk perlahan mie tersebut dengan ekspresi ragu. Apakah ini benar-benar enak? Melihat tempatnya saja ia sungguh tidak berselera.


Dicicipinya mie tersebut dengan perlahan. Awalnya ia memamg tidak yakin, namun ketika Marvin mengunyahnya ekspresi pria itu berubah terkejut.


"Whooaaa!!"


Brianna yang khusyuk menikmati mienya, harus terkejut mendengar Marvin memekik.


"Ada apa Tuan?"


"Ini luar biasa!"


"Huh?"


"Kau tidak salah memilih kedai ini Brianna. Mie nya benar-benar lezat" ucap Marvin antusias. Brianna lega mendengarnya, ia pikir makananya tidak enak.


Marvin merasa ini adalah olahan mie terenak yang pernah ia makan, bahkan rasanya jauh lebih enak dibanding restoran mewah yang biasa ia kunjungi.


Brianna tersenyum melihat Marvin begitu lahap memakannya hingga mulutnya penuh. Pria itu seakan lupa dengan kondisi tempat tersebut, rasa risihnya menguap begitu saja setelah memakan mie nya. Oke, sekarang Marvin tidak boleh meremehkan makanan pinggir jalan hanya karena tampilan luarnya saja, nyatanya mereka memiliki makanan yang tak kalah lezat.


**


Marvin begitu menikmati makanannya hingga tidak menyadari ada saus yang menodai sudut bibirnya. Dengan inisiatif Brianna mengambil selembar tisu lalu membersihkannya.


Marvin terdiam beberapa saat, matanya mengerjap melihat tindakan manis Brianna. Gadis itu hanya menatapnya polos dan tidak tahu efek dari sentuhan tersebut membuat jantung Marvin berdebar kencang.


Sial! Gadis kecil ini benar-benar berbahaya!


Marvin berdehem pelan, lalu meneguk minumannya hingga tandas. Atmosfer sekitar terasa begitu panas, ah tidak hanya wajahnya saja yang terasa memanas hingga menimbulkan semburat merah di kedua pipinya hingga telinga.


"Ayo kita pergi, disini terasa panas" Marvin beranjak dari tempatnya, tak lupa juga ia membayar makanannya. Seperti biasa Brianna hanya menurut lalu mengekor di belakang Marvin.


Ponsel Marvin tiba-tiba saja berdering, dilihatnya James menelponnya.


"Ya James ada apa?"


"Bos kau masih dimana sekarang?"


"Ada apa?"


"Siang ini ada rapat dengan, Mr. Smith, jika kau lupa"


Astaga!! Marvin melupakan hal itu. Ia melirik jam rolexnya, setengah jam lagi rapat akan segera di mulai. Marvin melirik ke arah Brianna yang sedang asik mengamati sekitarnya. Tidak ada lagi waktu untuk mengantar Brianna pulang, jadi satu-satunya pilihan adalah mengajak gadis itu ke kantornya!.