My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Singkirkan Wanita Ini



Pukul 1 dini hari akhirnya mereka sampai di rumah. Begitu memasuki gerbang rumahnya, Marvin melihat beberapa anak buahnya sedang berjaga di pos security. Rahang Marvin seketika mengeras saat tak sengaja melihat siluet seseorang yang sangat ingin ia habisi saat ini.


Samantha, wajahnya tampak menegang setelah mobil mewah milik Marvin memasuki pekarangan rumah. Apalagi mata tajam Marvin tak sengaja bertatapan langsung dengannya.


"Habis kau Samantha! Marvin Xavier pasti tidak akan melepasmu!" Batin Brianna ketakutan.


Brianna rupanya menyadari perubahan ekspresi Marvin, wajah pria itu begitu dingin hingga Brianna tak berani untuk bertanya apapun. Marvin tengah berusaha menahan emosinya sampai Brianna bertemu dengan mamanya dan membawanya ke kamar. Marvin tidak mau Brianna melihat amarahnya yang meledak nanti saat berhadapan dengan Samantha.


Sementara itu, Yasmine dan Mia sudah menunggu kedatangan Brianna. Air mata haru langsung dirasakan oleh sang mama melihat putrinya kembali. Brianna turun dari mobilnya diikuti oleh Marvin di belakang.


"Mama!!!" Brianna berlari menuju sang mama lalu memeluknya dengan erat.


"Kau baik-baik saja sayang? mama sungguh khawatir" Yasmine membalas pelukan putrinya tak kalah erat. Dielusnya surai kecoklatan itu dengan lembut, sungguh Yasmine merasa lega sekarang. Begitu pun dengan Mia, akhirnya ia bisa tidur tenang malam ini, tanpa ada bayang-bayang kekhawatiran memikirkan Brianna yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.


"Aku baik-baik saja. Maaf membuat mama khawatir" Brianna mengusap air mata mamanya lembut, merasa bersalah karena sudah membuat mamanya khawatir.


"Apa penculik itu melukaimu sayang?" Yasmine memeriksa sekujur tubuh Brianna untuk memastikan, wanita itu cukup terkejut melihat banyak bekas gigitan nyamuk di area tangan dan kaki Brianna.


"Ini hanya gigitan nyamuk ma, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi sekarang".


Yasmine menatap Marvin yang masih berdiri di belakang Brianna, tak lupa ia terus mengucapkan banyak terimakasih pada Marvin karena sudah berusaha menemukan Brianna.


Jika tidak ada bantuan dari pria itu, mungkin sampai kapanpun Yasmine tidak akan pernah bertemu dengan putrinya lagi.


"Tuan Marvin terima kasih banyak" kini giliran Brianna yang berterima kasih, lengkap dengan senyuman tulus dibibirnya.


Marvin mendekati Brianna sebentar lalu mengelus pucuk kepala gadis itu penuh kelembutan. Kepalanya sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan gadis cantik di depannya. Amarahnya menguap begitu saja melihat wajah lugu Brianna.


"Masuklah ke kamar dan istirahat"


Bisiknya pelan tanpa bisa di dengar oleh Yasmine. Ucapan Marvin selalu bisa menjadi mantra bagi Brianna, gadis itu menuruti perintah Marvin. Ia berjalan menaiki tangga di temani sang mama dan juga Mia. Setelah memastikan Brianna masuk ke kamarnya, Marvin langsung pergi untuk menyelesaikan masalahnya dengan tikus kecil si pembuat masalah.


#


Brakkk!!!


Marvin menggebrak meja di hadapannya dengan keras, emosinya sudah tidak tertahankan lagi begitu sorot mata tajamnya bertemu dengan wanita licik yang sudah menyakiti gadisnya.


Samantha, tubuh wanita itu tampak bergetar hebat melihat amukan Marvin. Air mata ketakutan amat sangat jelas di wajahnya. Teriakan Marvin serta makian tajamnya berhasil menyakiti perasaannya.


"Kenapa kau melakukannya hah?"


Wanita itu hanya menunduk sambil terisak, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata-kata. Hal tersebut membuat Marvin semakin geram. Marvin berjalan mendekati Samantha, langkah demi langkah suara ketukan sepatu pria itu seperti malaikat maut yang sedang menjemputnya.


"Apa kau bisu hah? Bukankah tadi sore mulutmu begitu lugas menipuku?" Marvin menarik dagu Samantha, lalu menariknya ke atas dengan kasar hingga Marvin bisa melihat wajah memuakan wanita itu.


"Hiks ma..maaf"


"JAWAB PERTANYAAN KU SIALAN!!!"


"Hiks hiks s..saya melakukan itu karena iri padanya. Tuan selalu memperlakukan dia dengan istimewa."


Marvin mendesis sinis, alasan tersebut sangatlah klise baginya. Ia menghepaskan wajah itu kasar, seperti sampah yang tak berharga.


"Kau tahu perbuatanmu sungguh fatal, kau tidak tahu bahwa aku sudah mengenalnya sejak lama. Jadi jika kau menganggap Brianna adalah orang baru dikehidupanku, itu salah besar. Aku memperlakukannya dengan istimewa karena Brianna adalah wanita yang telah aku cintai selama bertahun-tahun!"


Sebuah fakta mengejutkan bagi Samantha, maupun anak buah Marvin lainnya tidak termasuk James. Marvin sengaja mengatakannya agar anak buahnya pun tidak melakukan hal macam-macam pada gadisnya.


"Dan kau!! Kau sudah menyakitinya dan itu tandanya kau harus berurusan denganku!"


"Ma..maafkan s..saya Tuan, saya benar-benar menyesal"


"Cih semuanya sudah terlambat, aku tidak akan memaafkan tikus kecil licik sepertimu!"


"Saya mohon Tuan, ampuni saya hiks"


"Berapa banyak uang yang kau miliki sampai berani menyewa penculik abal-abal seperti teman-temanmu itu hah?" Marvin tersenyum menyeringai, ia begitu puas melihat wajah ketakutan Samantha, sekaligus muak.


Samantha hanya diam tak mampu berkata-kata lagi. Hidupnya sudah berakhir sekarang di tangan Marvin Xavier.


"Bermainlah dengan cantik jika kau ingin berurusan denganku!"


"James!!" Panggil Marvin memanggil kaki tangan andalannya.


"Ya Bos"


"Singkirkan wanita ini, dan jebloskan dia ke penjara!"


Samantha yang mendengarnya tampak shock, ia mencoba untuk mengejar Marvin yang pergi meninggalkan tempat namun dua penjaga langsung mencekal lengannya. Percuma jika ia berteriak memanggil Marvin, karena hasilnya pun tetap sama. Ia akan mendekam di penjara.