My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Mari Kita Akhiri Semuanya



Livy berjalan menuju taman belakang rumahnya dengan didampingi James. Beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya langsung membungkuk hormat, terlihat sekali wanita itu begitu disegani.


Saat ini Livy ingin sekali bertemu dengan mamanya Brianna. Ia penasaran bagaimana sosok mama dari gadis kecil yang berhasil mengambil hati putranya itu.


Yasmine sedang menyiram beberapa tanaman hias yang tak jauh dari paviliun. Wanita itu tidak menyadari jika saat ini Livy tengah memperhatikannya. James berjalan menghampiri Yasmine, ekspresi wanita itu nampak terkejut saat James memberitahunya jika Livy Xavier ingin berbicara dengannya.


Yasmine segara menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri Livy yang sudah duduk santai di sebuah kursi yang terletak di teras paviliun. Jika diperhatikan,  Livy merasa tidak asing dengan sosok Yasmine. Ia merasa pernah melihat wanita itu sebelumnya, tapi dimana?


#


Pagi-pagi sekali Marvin sudah duduk termenung di atas ranjang king sizenya. Pikirannya terus melayang memikirkan pembicaraannya dengan sang mama kemarin sore. Entah kenapa Marvin merasa ada yang janggal di sini. Jika mamanya menentang hubungannya dengan Brianna, mengapa mamanya sekarang diam saja? Biasanya wanita itu akan menjauhkan apapun yang tidak disukainya. Bahkan wanita itu sama sekali tidak mengejarnya untuk mencegahnya ketika ia membawa Brianna ke lantai atas.


Beberapa kali Marvin terlihat menghembuskan nafasnya dengan gusar. Tiba-tiba rasa khawatir itu muncul kembali. Ia takut sang mama bertindak tanpa sepengetahuannya.


Sementara itu Brianna sudah terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering setelah semalaman ia menangis dalam diam memikirkan hubungannya dengan Marvin. Bahkan sekarang matanya terlihat membengkak dan sangat mengkhawatirkan.


Syukurlah ini hari minggu, jadi ia tidak terlalu peduli dengan kondisinya saat ini.


Brianna beberapa kali menghela nafasnya, ia ingin sekali pergi ke dapur, akan tetapi ia terlalu takut bertemu dengan Livy. Mamanya sudah pergi bekerja, terbukti dengan suasana kamarnya yang sepi.


Brianna beranjak dari tempatnya. Ia memutuskan untuk membersihkan diri. Berharap setelah ini beban pikirannya terangkat dengan berendam air hangat.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Brianna memutuskan untuk keluar dari kamarnya secara diam-diam. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan aman. Bak seorang pencuri, gadis itu berjalan tanpa menimbulkan suara dengan tatapan penuh waspada.


Brianna menatap pintu kamar Marvin yang tertutup tepat di samping kamarnya. Ia tidak tahu Marvin ada di dalam atau tidak, hatinya mendadak sesak saat mengingat perbincangannya dengan sang mama.


"Apa aku harus mengatakannya sekarang?" Bola mata Brianna perlahan meredup, dengan perlahan ia mendekati pintu tersebut. Niatnya untuk mengambil minum lenyap sudah.


Apakah dirinya sanggup mengatakannya? Mengingat betapa susah payahnya Marvin mencari keberadaannya selama 8 tahun lamanya.


Brianna mengangkat tanganya siap mengetuk pintu, namun hati dan pikirannya bersikeras menolak. Ia tidak mau melakukannya, Brianna tidak mau berpisah dengan Marvin.


Akan tetapi ucapan sang mama kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Perasaannya begitu labil sehingga ia bingung harus bagaimana. Ia sudah terlanjur berbicara pada mamanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Marvin.


"Anna"


Brianna terkesiap dari lamunannya begitu mendengar suara Marvin. Rupanya pria itu keluar dari kamarnya dan memergoki Brianna tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan pandangan kosong.


"Sedang apa kau disini hmm?" Marvin mengelus kepala Brianna membuat gadis itu mendongak menatapnya.


"kakak"


Brianna merasa tenggorokannya tercekat begitu menatap paras tampan pria itu. Hatinya terasa perih, tak sanggup untuk mengatakannya tapi ia harus tetap mengatakannya.


"A.. ada yang ingin aku bicarakan" gumamnya. Marvin merasa ada yang aneh dengan ekspresi Brianna, ditambah lagi mata cantik itu terlihat sedikit sembab. Rupanya mencuci wajah saja tidak cukup menghilangkan mata sembabnya.


"Kau habis menangis?" tanya Marvin khawatir. Bukannya menjawab, Brianna justru berbalik mendekati sofa yang tak jauh dari tempat mereka sekarang. Tentu saja Marvin langsung mengikutinya dan duduk di samping gadisnya.


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Brianna menundukkan kepala mengumpulkan keberaniannya. Jemarinya saling bertaut menahan rasa gugup.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Marvin membuka suara, ia merasa aneh dengan sikap Brianna. Apa ini ada hubungannya dengan sang mama?


"Mari kita akhiri semuanya"