My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Kelahiran



At Hospital


Sakit dan linu itulah yang Brianna rasakan begitu matanya terbuka. Setelah menjalani operasi wanita muda itu akhirnya tersadar. Brianna menelisik ruangan tempat dirinya berada, semua serba putih dan wangi obat-obatan khas rumah sakit langsung menyapa indera penciumannya.


Terasa sunyi, tidak satupun orang di sana. Sekelebat kejadian mengerikan semalam langsung memasuki ingatan Brianna. Terjatuh, darah, teriakan Marvin dan mamanya semuanya teringat jelas. Detik itu juga Brianna langsung teringat dengan keadaan janin di perutnya.


"Baby Xavier!" Brianna menyentuh perutnya yang kini telah berubah menjadi rata. Wajahnya yang pucat, semakin pucat setelah melihat perutnya yang terasa kosong.


"Dimana baby Xavier?" Brianna bergerak panik, namun saat itu juga ia merasakan nyeri di area perutnya.


Brianna tak kuasa menahan air matanya, ketakutan akan kehilangan bayinya jauh lebih besar dibanding dengan rasa sakitnya.


"Mama!!!"


Brianna menjerit panik di ruang tersebut seorang diri, ia ingin bangun namun tubuhnya terasa mati rasa. Tubuhnya lemas hingga tidak bisa menopang beban tubuhnya.


"Hikss dimana bayiku!! Kak Marvinnn!!"


Brianna berteriak memanggil Marvin, dan tak berselang lama sang mama muncul bersama dengan seorang suster.


"Sayang kau sudah sadar?" Yasmine menatap putrinya khawatir setelah mendengar jeritan putrinya dari luar, ia baru saja kembali dari rumah setelah mengambil beberapa pakaian untuk Brianna.


"Hikss Mama..." Yasmine memeluk tubuh ringkih Brianna yang terlihat panik.


"Sayang, apa ada yang sakit?"


"Dimana baby Xavier? Kenapa dia tidak ada perutku?" Tanya Brianna tak sabar


"Tenanglah sayang"


"Mama jawab dimana bayiku!!!"


Brianna terlihat tak terkendali, syukurlah saat itu juga Marvin datang menyusul ke ruangan tersebut. Pria itu baru saja mendatangi dokter yang menangani Brianna untuk menanyakan kondisi istri dan anaknya.


"Sayang!" Marvin berjalan mendekati Brianna kemudian memeluknya. Tangisan Brianna semakin pecah begitu melihat suaminya.


"Dimana bayiku Kak?" Brianna menangis sesenggukan.


"Tenanglah, dia aman sayang"


Brianna melepas pelukannya, kemudian menatap suaminya penuh tanda tanya sekaligus lega.


Marvin tersenyum menanggapi pertanyaan pertanyaan wanitanya. Di usapnya pipi Brianna yang terlihat basah dan memerah akibat menangis.


"Baby Xavier sudah lahir, dokter sudah melakukan operasi caesar padamu. Karena pendarahan itu, kau tidak bisa melahirkan secara normal sayang. Jadi untuk keselamatan bayi kita, dia harus lahir secara prematur. Tapi kau tenang saja bayi kita lahir dengan selamat dan sehat. Dia mirip sekali denganmu"


Brianna mengerjap mendengar penjelasan Marvin, jadi ia sudah melahirkan? Pantas saja perutnya terasa kosong sekaligus sakit secara bersamaan. Ngomong-ngomong bagaimana dengan jenis kelaminnya?


"Cucu Mama juga terlihat sangat tampan seperti ayahnya. Sayang, terima kasih"


"Dia... Laki-laki?" Tanya Brianna masih terlihat linglung.


"Ya, dia akan menjadi jagoan kita" timpal Marvin dengan senyuman bangga di bibirnya.


Akhirnya Brianna bisa tersenyum, ia sangat lega sekarang. Brianna pikir bayinya tidak bisa diselamatkan akibat kecerobohannya sendiri.


"Lalu dimana baby Xavier sekarang? Aku ingin melihatnya"


"Sekarang bayi kita ada di ruang NICU, dokter memberikan pelayanan intensif di sana"


"Kapan aku bisa melihatnya?"


"Setelah kondisimu membaik" Marvin mengecup kening Brianna penuh sayang.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat bayi kita Kak, aku ingin menggendongnya dan menyusuinya"


Marvin tersenyum menanggapi keinginan Brianna, untuk sekarang ia belum bisa mewujudkan keinginan istrinya tersebut karena sekarang Brianna dan bayinya masih butuh perawatan intensif.


"Kak maaf, gara-gara aku bayi kita jadi dalam bahaya. Aku sungguh ceroboh, maafkan aku" Brianna menatap Marvin memohon penuh rasa bersalah. Namun suaminya tersebut justru menanggapinya dengan kecupan manis di bibir Brianna, tanpa merasa malu jika di ruangan tersebut tidak hanya mereka berdua.


Bahkan suster yang tengah memeriksa cairan infus Brianna tampak merona melihat sikap manis pasangan suami istri tersebut. Membuat iri saja.


"Tidak apa-apa, kejadian semalam adalah musibah. Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati hmm"


"Iya Kak"


"Sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu. Dokter bilang jangan terlalu banyak bergerak, karena jahitan di perut mu masih belum kering. Sekarang istirihatlah kembali"


Marvin membantu membenahi posisi berbaring Brianna dengan hati-hati. Brianna berusaha menahan rasa linu di perutnya. Ia tidak pernah membayangkan akan menjalani operasi seperti sekarang, padahal ia sudah bermimpi akan melahirkan secara normal. Namun nyatanya Tuhan berkehendak lain.