
Neta dan Angel tak henti-hentinya memuji kecantikan Brianna. Mereka puas dengan hasil riasan mereka sendiri. Brianna tampak merona malu saat kedua wanita itu memuji penampilannya. Acara akan di mulai setengah jam lagi tapi sampai saat ini Marvin belum juga kembali.
"Nona harus percaya diri, aku yakin semua tamu di sana akan terpesona padamu"
"Terima kasih kak, hahh.. kenapa aku gugup seperti ini"
Neta dan Angel terkekeh kemudian mereka merapihkan peralatan makeup nya kembali ke tempat semula.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, di sana munculah sosok Marvin dengan setelan jas berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Brianna.
Marvin tercengang melihat penampilan Brianna, terpesona dengan kecantikan kekasihnya.
"Indah sekali" Marvin menyentuh kedua pipi Brianna dengan tatapan yang begitu lekat. Pipi Brianna langsung memerah hingga ke telinga. Jantung Marvin berdebar, betapa indahnya makhluk Tuhan yang berdiri di hadapannya ini.
"Tuan, semua sudah siap. apa masih ada yang kurang?" Tanya Neta.
"Tidak ini sudah cukup, kalian boleh pergi sekarang" Jawab Marvin masih fokus memandangi Brianna.
Neta dan Angel segera meninggalkan kamar, memberikan waktu pada Marvin dan Brianna untuk saling mengagumi.
"Kau sangat sangat cantik, rasanya aku tidak mau mengajakmu ke pesta itu"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin orang lain menikmati kecantikan mu, cukup aku saja yang menikmatinya"
Blussh
Rasanya suhu tubuh Brianna meningkat mendengar ucapan manis dari Marvin. Brianna menunduk malu apalagi melihat tatapan Marvin membuat lututnya lemas seperti agar-agar.
"Rasanya aku tidak bisa menahannya lagi"
Alis Brianna mengernyit, menahan apa maksudnya?
"Brianna Carissa, bolehkah aku menciummu?"
Brianna terkejut mendengarnya. Ia tidak langsung menjawab, gadis itu gugup hingga tak mampu mengeluarkan suaranya. Marvin mengunggu jawaban Brianna dengan sabar, matanya fokus pada hazel cokelat milik gadisnya lalu pandangannya turun pada bibir Brianna.
Persetan dengan usia Brianna, dia ingin merasakan manisnya bibir itu. Butuh waktu 2 bulan lagi hingga usia Brianna menginjak 17 tahun, dan rasanya itu terlalu lama bagi Marvin.
Marvin mengangkat dagu Brianna dengan lembut, meyakinkan gadis itu lewat tatapan penuh cintanya.
Brianna menelan ludahnya, dalam hati kecilnya ia juga penasaran bagaimana rasanya berciuman dan sekarang Marvin memintanya. Jadi apakah ia harus mematahkan prinsipnya kali ini?
Setelah berpikir cukup lama Brianna akhirnya mengangguk mengijinkan. Senyuman Marvin langsung mengembang, tak perlu pikir panjang Marvin langsung mendekatkan wajahnya. Refleks Brianna menutup matanya, bibir keduanya saling bersentuhan. Awalnya hanya kecupan biasa, tapi sekarang berubah menjadi *******-******* kecil.
Jantung mereka rasanya akan meledak saat itu juga. Brianna meremas jas yang dikenakan Marvin, sensasinya begitu luar biasa saat Marvin menyesap bibirnya begitu lembut dan hati-hati.
Brianna bingung harus bereaksi seperti apa, yang ia lakukan hanya diam menutup matanya. Marvin lah yang mendominasi ciuman tersebut.
Brianna mendorong dada Marvin begitu merasa pasokan udaranya menipis. Nafas keduanya tampak memburu.
Marvin mengusap permukaan bibir gadisnya yang basah dan memerah akibat ulahnya. Sial! Rasanya ia ingin melakukannya lagi dan lagi. Bibir Brianna terasa sangat manis dan lembut. Belum lagi tatapan polos Brianna membuat gairahnya memuncak saat itu juga.
Marvin menarik tubuh Brianna ke dalam pelukannya. Menghirup aroma bayi yang entah sejak kapan menempel pada tubuh Brianna. Sepertinya Brianna mengganti parfumnya.
"Terima kasih" bisik Marvin pelan. Brianna membalas pelukan Marvin. Menyembunyikan pipinya yang memanas setelah ciuman manis tadi.