My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Mimpi Buruk



"Mama!!!!"


Saat di ujung tangga, tiba-tiba saja Marvin mendengar Brianna berteriak. Alhasil Marvin langsung berlari dengan panik dan matanya membulat sempurna begitu mendapati Brianna duduk di atas lantai dengan air mata membasahi pipinya.


"Astaga Brianna Carissa!!"


Marvin mengangkat tubuh Brianna ke atas ranjang lalu menangkup kedua pipi gadis itu dengan khawatir. Jantungnya turut berdebar saat mendapati Brianna terduduk di atas lantai. Apa gadisnya terjatuh?


"Apa yang terjadi?"


"Aku mimpi buruk... Saat aku terbangun tubuhku oleng dan jatuh" cicit Brianna pelan dengan kepala tertunduk, air mata masih mengalir di kedua pipinya antara sakit di bokongnya dan juga mimpi yang ia alami.


Sebuah mimpi yang sama kembali datang dalam tidurnya, ia tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini mimpi itu selalu menghantuinya. Awalnya ia tidak terlalu memikirkan mimpi tersebut dan menganggapnya sebagai bunga tidur, tapi sekarang perasaannya mulai tidak enak. Terlebih Samantha selalu muncul dalam mimpi tersebut. Ia merasa wanita itu berbahaya.


Usapan lembut kembali Brianna rasakan di pipinya, siapa lagi kalau bukan Marvin pelakunya. Detik berikutnya Brianna merasa tubuhnya di tarik, kepalanya menyentuh dada bidang Marvin dan merasakan pelukan hangat dari pria itu.


"Tidak apa-apa itu hanya bunga tidur"


Brianna mengerjap mendapat pelakuan tersebut, namun tidak ada penolakan disana. Justru perasaannya lebih tenang begitu Marvin memeluknya. Ada perasaan hangat menjalar di dadanya, entah kenapa ia merasa terlindungi.


"Apa ada yang sakit?" Marvin bertanya kembali, masih dengan memeluk gadis itu. Tangan besarnya bergerak teratur mengelus kepala Brianna membuat gadis itu semakin jauh lebih tenang.


Brianna menjawabnya dengan gelengan kecil, untuk sesaat ia lupa jika orang yang memeluknya ini adalah Tuannya.


"Aku ingin bertemu mama" ucap Brianna pelan. Setelah itu Marvin dengan berat melepas pelukannya. Brianna sudah berhenti menangis, ingin rasanya ia menahan gadis itu untuk tetap diam di kamarnya. Tapi apa boleh buat, mamanya Brianna bisa curiga jika ia terus menahannya.


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu ke paviliun."


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri Tuan."


"Luka di kakimu masih basah, dokter bilang kau tidak boleh banyak berjalan"


"Dokter?" Brianna menyerngit mendengar Marvin menyebut kata dokter. Kapan dokter memeriksanya?


"Saat kau tidur, dokter pribadiku datang memeriksa lukamu."


"Baiklah, kita ke paviliun sekarang"


Brianna sudah mengerti sekarang bahwa Marvin tidak suka penolakan, jadi untuk kali ini Brianna tidak menolak begitu Marvin menggendongnya.


#


Seluruh penghuni paviliun geger melihat kedatangan Marvin ke tempat mereka. Ini pertama kalinya sang Tuan menginjakkan kakinya di paviliun. Yang membuat heboh adalah Marvin datang dengan membawa Brianna dalam gendongannya. Beberapa pelayan muda terlihat melemparkan tatapan iri ke arah Brianna.


"Ini kamarmu?" Tanya Marvin begitu sampai di depan pintu kamar Brianna.


"Ya Tuan"


"Astaga! Brianna Carissa kau kenapa?" Mia tiba-tiba muncul di antara mereka, Mia membantu Marvin membukakan pintu kamar Brianna. Wanita itu tidak tahu apa yang terjadi, karena sedari tadi ia bekerja di belakang rumah.


Marvin mendudukkan Brianna di atas ranjang berukuran sedang di kamar tersebut. Kemudian pandangannya beralih menatap seluruh isi ruangan kamar itu.


"Terimakasih banyak Tuan"


"Berapa orang yang tidur di kamar ini?" Tanya Marvin pada Mia, membuat gadis itu terkesiap.


"Tiga orang Tuan, saya, Brianna dan bibi Yasmine"


"Bukankah satu kamar hanya di untuk dua orang saja?"


"Maaf Tuan, tapi seluruh kamar di paviliun sudah penuh, jadi dengan terpaksa kami tidur bertiga"


Marvin melihat ranjang yang diduduki oleh Brianna, kemudian ia duduk di samping gadis itu.


"Kau tidur di ranjang ini berdua dengan mamamu?" Tanya Marvin pada gadisnya.


Brianna menjawabnya dengan anggukan kecil lengkap dengan wajah tak berdosanya. Helaan nafas keluar dari mulut Marvin, bagaimana bisa gadisnya tidur di ranjang sempit seperti ini? Pasti terasa tidak nyaman, belum lagi kamar tersebut terlihat pengap di penuhi barang-barang pelayan lain. Sepertinya Brianna harus ia pindahkan ke kamar lain yang jauh lebih layak.


"kak, dimana mamaku?" Brianna mencari sosok mamanya yang tidak kunjung datang.


"Ah mamamu sedang menemani kepala pelayan Emily keluar, mungkin sebentar lagi pulang".


"Hmm begitu ya" Brianna tampak murung, padahal ia ingin segera menceritakan mimpi buruknya pada sang mama.


"Kau boleh istirahat sampai kakimu pulih"


"Terimakasih banyak Tuan, maaf sudah banyak merepotkan. Aku berjanji akan segera sembuh dan kembali bekerja"


Marvin terkekeh mendengarnya, kini gaya bahasa Brianna mulai berubah, tidak terlalu formal dan kaku. Dan ini jauh lebih baik, mungkin nanti ia bisa meminta Brianna memanggilnya kakak.


"Kalau begitu selamat beristirahat" Marvin beranjak dari tempatnya, meninggalkan senyuman kecil untuk gadisnya dan akhirnya meninggalkan kamar tersebut.


"Brianna kau berhutang penjelasan padaku" tuntut Mia.