My Little Maid, My Love

My Little Maid, My Love
Homeschooling Demi Keselamatanmu



BRAKHHHH!!!!


Marvin menendang meja di hadapannya dengan marah. Ia memandang Steffy penuh emosi begitu mendengar alasan Steffy memukuli Brianna.


Jika tidak di tahan oleh para polisi, mungkin ia bisa melayangkan kepalan tangannya pada wajah elok Steffy. Gadis itu sudah menangis ketakutan melihat amukan Marvin.


"Maafkan aku Tuan Marvin, hiks"


"Brengsek! Aku tidak akan pernah memaafkanmu sialan! Perbuatanmu hampir saja menghilangkan nyawa kekasihku!" Marvin menatap Steffy nyalang, urat lehernya sampai menegang akibat emosi yang tak terkendali.


"Aku benar-benar menyesal, ku mohon maafkan aku" Steffy terus memohon meminta ampun, namun semuanya terlambat. Marvin sudah menutup hatinya, perbuatan gadis itu benar-benar sangat fatal.


"Jebloskan gadis itu ke dalam penjara! Aku tidak ingin melihatnya berkeliaran menghirup udara bebas setelah apa yang ia perbuat!"


"Ah satu lagi..."


Marvin mendekat ke arah Steffy, gadis itu merunduk tak sanggup melihat tatapan tajam Marvin. Pria itu berbisik di telinga Steffy


"Aku pastikan hidupmu akan hancur, termasuk keluargamu" senyuman smirk terbit dibibir Marvin. Tubuh Steffy menegang mendengarnya.


"Ku mohon jangan ganggu keluargaku, cukup aku yang menerima hukumannya"


"Cihh, bahkan hukuman penjara pun tak cukup untuk menebus segala dosa-dosamu"


Tubuh Steffy bergetar hebat, ia tidak bisa membayangkan kehidupannya setelah ini. Bagaimana nasib keluarganya nanti?


Apa yang akan Marvin Xavier lakukan pada keluarganya?


#


Ucapan Marvin tidaklah main-main.  Begitu polisi menyatakan Steffy terbukti bersalah semua awak media langsung mengedarkan berita tentang pembullyan yang dilakukan Steffy terhadap Brianna.


Tidak hanya Steffy yang harus menahan malu, keluarga serta sekolah pun merasakannya. Demi nama baik sekolah akhirnya Kepala Sekolah Trinity memutuskan mengeluarkan Steffy dari sekolah.


Lantas bagaimana nasib Jessi dan Elsa?


Mereka berdua masih di beri keringanan karena tidak sepenuhnya terlibat dalam rencana pembullyan tersebut. Steffy lah dalang dari semuanya. Jessi dan Elsa mendapat skors selama satu minggu dan tidak dikeluarkan dari sekolah. Mereka amat menyesal dan tidak mau mengulangi perbuatannya lagi. Jessi dan Elsa masih memiliki itikad baik untuk meminta maaf secara langsung pada Brianna.


Di samping itu ibu Steffy dan juga pamannya begitu malu atas perbuatan Steffy, mereka amat sangat kecewa. Bahkan Hwang Samuel harus menerima akibatnya, perusahaan yang dirintisnya tiba-tiba mengalami krisis hingga terancam bangkrut.


Akibat berita yang beredar, hampir seluruh investornya membatalkan kerjasama dengannya.


"Lihat atas perbuatan mu, perusahaan paman hampir saja bangkrut! Paman sudah bilang jangan pernah macam-macam dengan Marvin Xavier!"


Samuel menatap Steffy dengan kesal. Saat ini ia tengah menjenguk Steffy di lapas.


"Paman, aku mohon bantu aku keluar dari sini. Aku tidak mau tinggal di sini".


"Paman tidak bisa berbuat apapun, Marvin Xavier bisa membunuh paman jika berani membebaskan mu dari sini"


"Aku benar-benar menyesal paman hiks"


Steffy mulai menangis. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Sekarang nasi telah menjadi bubur, ia tidak bisa berbuat apapun selain menikmati hukumannya serta merenungi segala kesalahannya.


Bahkan selama ia di penjara, ibunya tidak pernah menjenguknya. Terakhir ibunya datang adalah ketika hari persidangan. Ibu Steffy begitu kecewa.


"Setelah kau bebas, aku akan mengirim mu keluar negeri untuk menemui ayahmu. Tinggalah bersamanya"


"Apa?? Tidak aku tidak mau paman!"


"Ibumu yang meminta, sepertinya dia sangat kecewa padamu". Jelas Samuel


"Hikss kenapa ibu tega sekali padaku"


"Berdo'a saja semoga ibumu berubah pikiran"


Setelah itu Samuel pamit, meninggalkan Steffy dengan kesedihan yang luar biasa.


#


Xavier's House


Suasana rumah Marvin tampak begitu tenang pagi ini. Brianna telah pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari di rawat di sana. Gadis itu terbangun cahaya matahari masuk mengusik matanya. Kondisi Brianna sudah membaik, walaupun perban di pelipisnya masih ada.


Brianna beranjak dari ranjangnya, membersihkan diri kemudian turun ke lantai satu. Perutnya sudah keroncongan minta asupan makanan.


Di ambang pintu dapur Brianna bisa melihat sosok pria jangkung tengah berdiri di depan pantri. Siapa lagi kalau bukan pria yang sangat istimewa bagi hidupnya, Marvin Xavier.


Brianna berjalan mengendap-endap mendekati Marvin, bibirnya tersenyum kecil menatap punggung Marvin. Setelah ia berada di belakang pria itu, Brianna lantas melingkarkan tangannya di pinggang Marvin.


Greppp


"Astaga!" Marvin terkejut mendapat pelukan tiba-tiba itu dari Brianna. Gadis itu terkekeh di balik punggung Marvin.


"Kakak sedang apa?"


"Sayang kau sudah bangun? Aku sedang membuatkan sarapan untukmu"


"Benarkah?" Brianna melepas pelukannya, lalu melihat masakan yang telah Marvin susun di meja makan.


Senyuman Brianna langsung mengembang melihat makanan favoritnya tersaji di sana.


"Kakak memasak ini semua?"


"Tentu saja, hari ini spesial aku memasak untuk gadisku" Marvin meletakkan satu gelas susu untuk Brianna, lalu mengecup kening gadis itu penuh sayang.


"Ayo kita sarapan" Marvin menarik Brianna duduk di salah satu kursi, mengambilkan makanan tersebut untuk Brianna membuat gadis itu merasa tersanjung dengan perlakuan Marvin.


"Terima Kasih, Kak"


"Sama-sama, makanlah yang banyak"


Keduanya sarapan dengan tenang, Brianna menyukai masakan Marvin. Gadis itu begitu lahap hingga tidak ada satu pun yang tersisa. Marvin lega melihat nafsu makan Brianna yang membaik. Saat di rumah sakit Brianna sangat sulit makan, nafsu makannya seperti hilang dan perlu beberapa kali bujukan agar gadis itu mau makan.


"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya Marvin begitu makanannya habis.


"Sudah tidak lagi, apa aku boleh melepasnya? Rasanya tidak nyaman" Brianna mengerucutkan bibirnya dan di balas kekehan kecil oleh Marvin.


Pria itu mengambil piring kotornya lalu menyimpannya di westaffel. Setelah itu ia mengambil gunting lalu mendekati Brianna.


Marvin membantu Brianna melepaskan perban tersebut dengan hati-hati. Syukurlah luka di pelipis Brianna sudah mengering.


"Kakak besok aku boleh sekolah?"


Marvin terdiam sejenak, lalu menatap gadisnya "Mulai sekarang kau tidak lagi sekolah di sana"


"Apa? Kenapa begitu kakak? Apa aku di keluarkan?"


Mata Brianna berubah berkaca-kaca mendengar penuturan Marvin. Semenjak insiden itu, Marvin tidak percaya lagi kepada pihak sekolah di sana. Marvin takut ada lagi orang yang menyakiti Brianna selain Steffy. Sekolah bisa jadi neraka bagi Brianna. Untuk itu demi keamanan gadisnya, Marvin memutuskan untuk mendaftarkan Brianna ke program Homeschooling.


"Kau akan mengikuti program homeschooling, ini demi keselamatanmu"


"Homeschooling itu apa?" Tanya Brianna polos.


"Homeschooling itu artinya kau  belajar di rumah, gurumu yang akan datang ke sini. Jadi kau tidak perlu repot-repot pergi ke sekolah. Aku benar-benar takut kejadian kemarin kembali terulang"


Marvin menatap gadisnya, semoga Brianna mengerti maksudnya. Brianna termenung sejenak, jika ia tidak sekolah lagi di Trinity itu artinya ia tidak akan bertemu dengan Nina.


"Soal temanmu yang bernama Nina itu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan memintanya untuk mengunjungimu sesering mungkin"


Marvin sepertinya tahu apa yang ada otak Brianna, senyuman gadis itu kembali terlihat lalu mengangguk setuju.


"Jadi tidak masalah kan mengikuti homeschooling?"


Brianna mengangguk, senyuman cantiknya kembali terlihat. Di usapnya pipi tembam Brianna penuh sayang, setelah Steffy di penjara Marvin merasa lega. Ia berharap tidak ada lagi orang yang mengganggu kehidupannya terutama pada gadis yang di cintai nya ini.


Marvin mendekatkan wajahnya, matanya terfokus pada bibir mungil milik Brianna. Rasanya sudah lama ia  tidak merasakan bibir manis itu. Tahu apa yang akan Marvin lakukan, Brianna lantas memejamkan matanya. Tak lama kemudian ia merasakan material lembut menyentuh bibirnya.


Perlahan Marvin menarik tubuh Brianna duduk di atas pangkuannya. Hal tersebut mempermudah Marvin untuk mencium gadisnya.


Tangan Brianna sudah melingkar manis di leher Marvin, matanya terpejam merasakan lembutnya ciuman Marvin. Ciuman penuh kerinduan, bukanlah nafsu semata.


Keduanya saling menyalurkan perasaan mereka lewat ciuman tersebut. Setelah puas, Marvin melepas pagutan bibir mereka. Marvin menatap Brianna begitu instens hingga pipi gadisnya merona. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, tapi tetap saja Brianna selalu merasa malu.


Marvin kembali mendekatkan wajahnya, kali ini Marvin memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir Brianna.


"Aku Mencintaimu"